Tenunan Kisah dalam Selarik Kain Lurik

Proses Penyekiran Benang Lurik
Ini adalah proses penyekiran yang bertujuan untuk menyusun benang lungsi. Ini merupakan proses penggulungan benang dari bentuk kelos ke dalam tambur (bom besar). Semua benang yang tergulung dan tersusun harus mempunyai ketegangan yang sama. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Celoteh gurau para pekerja dan hentakan suara kayu menjadi sapaan pembuka dalam persinggahan saya kali ini. Sebuah rumah bergaya Jawa kuno yang berusia cukup tua membungkus aktivitas pagi itu. Bergegaslah langkah kaki ini menuju ke dalam, menengok hiruk pikuk aktivitas itu yang masih nampak samar.

Mencoba kembali ke masa lalu, tepatnya pada tahun 1962, dimana sebuah rumah industri kain tenun lurik berdiri atas prakarsa seorang pria bernama Dibyo Sumarto. Di rumah sederhana inilah beliau memulai semuanya, memproduksi selarik kain dengan jiwa seni yang sarat akan makna kesederhanaan di dalamnya. Kurnia Lurik namanya, sebuah rumah produksi kain tenun lurik yang bertempat di kawasan Krapyak Wetan, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Proses Pengeboman Kain Lurik
Seorang pekerja sedang melakukan proses pengeboman. Proses ini bertujuan untuk memindahkan benang dari tambur ke dalam bom kecil yang nantinya akan tersimpan pada alat alat tenun bukan mesin. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Lurik berasal dari kata lorek yang dalam bahasa jawa berarti garis. Garis-garis lurus sederhana yang menjadi ciri khas kain tenun lurik sebagai penggambaran nilai kesederhanaan hidup. Seiring berjalannya waktu, kain tenun lurik pun menjadi simbol identitas sosial para kaum “kawulo alit” atau kalangan pribumi di masa lalu. Kain ini mewakili identitas kalangan orang biasa (bukan kalangan ningrat) atau seorang yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Alat Tenun Bukan Mesin
Alat tenun bukan mesin (ATMB) konvensional ini untuk menciptakan kain lurik. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Berbicara mengenai kain tenun lurik tentu tak lepas dari jejak sejarah bangsa. Berbagai penemuan sejarah seakan mempertegas bahwa kain tenun lurik telah ada di tanah Jawa sejak zaman pra sejarah. Hal ini dibuktikan dari berbagai prasasti peninggalan zaman Kerajaan Mataram (851-882 M) serta berbagai wujud pemakaian kain lurik pada arca-arca dan relief candi yang tersebar di Pulau Jawa.

Hari demi hari berjalan, keheningan perlahan sirna kemudian menjadi suara hentakan alat tenun tradisional yang diiringi celoteh para pekerjanya. Namun masa kejayaan Kurnia Lurik tak begitu lama. Menginjak tahun 1970an, industri tenun lurik yang digagas oleh Dibyo ini mengalami pasang surut dikarenakan berkurangnya minat masyarakat. Dalam penggunaanya di kehidupan sehari-hari, kain lurik hanya lekat pada sosok abdi dhalem Keraton Yogyakarta. Kain lurik menjadi bahan pokok untuk pakaian atasan para abdi dhalem. Di luar itu, pamor lurik kalah mentereng dibanding batik yang hingga kini kian mendunia.

Proses Pemaletan Benang Yang Akan Menjadi Kain Lurik
Ini adalah proses pemaletan. Proses ini bertujuan untuk memindahkan benang dari bentuk streng ke dalam keleting, sehingga siap untuk di pintal. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Adalah Jussy Rizal, generasi penerus Dibyo Sumarto yang kini memegang kemudi bisnis yang telah berjalan puluhan tahun ini. Sejak tahun 2008, pemuda asli Bantul ini dengan tekad kuat dan penuh percaya diri meneruskan dan kembali menggerakan industri kain tenun lurik ini dengan berbagai inovasi. Di bawah komandonya, Kurnia Lurik yang sempat berhenti sejenak ini seolah mendapatkan angin segar. Para pekerja yang sempat berhenti kembali dirangkul dan dipekerjakan kembali tanpa mengubah konsep dan pakem yang ada dalam prosesnya, yakni dengan menjunjung tinggi nilai filosofi dan kesederhaannya. Kesederhanaan prosesnya terlihat dari tetap digunakannya alat tenun bukan mesin (ATBM) tradisional berbahan kayu yang digerakan secara manual dengan tenaga manusia.

Saya mengira, siapapun yang berkunjung dan melihat dari dekat proses penenunan kain lurik ini pasti akan larut, terbawa riuh suasana derik alat tenun tradisional yang berdiri berjajar. Terdapat puluhan pegawai yang sibuk dengan pekerjaanya masing-masing. Wajar saja, karena dalam menyelesaikan proses pemintalan benang menggunakan alat tenun tradisional, para pekerja harus fokus dan membutuhkan konsentrasi penuh. Oleh sebab itu, maklumlah bila para pekerja yang rata-rata telah berusia 50 tahun ke atas itu terlihat cuek pada pengunjung yang mengamati kerja mereka.

Proses Penenunan Kain Lurik

Proses penenunan kain lurik pada dasarnya cukup sederhana. Diawali dengan pewarnaan benang mentah atau juga disebut proses pencelupan warna. Benang-benang yang sudah sesuai dengan motif rancangan dicelupkan pada warna-warna tertentu sesuai yang diinginkan.

Proses Pewarnaan Kain Lurik di Bantul
Proses pewarnaan benang yang akan di tenun menjadi kain lurik. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Proses Pemaletan Benang Untuk Kain Lurik
Ini adalah proses pemaletan. Proses ini bertujuan untuk memindahkan benang dari bentuk streng ke dalam keleting, sehingga siap untuk di pintal. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Proses Menjemur Benang Untuk Membuat Kain Lurik
Proses penjemuran benang lurik. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Tahap yang kedua ialah proses pemintalan. Benang-benang yang telah diwarnai atau dicelupkan tadi kemudian dijemur hingga kering. Setelah kering, kemudian benang kembali dipintal dalam gulungan-gulungan kecil yang disebut kelos atau palet. Selanjutnya pada tahap ketiga adalah penyusunan motif. Benang-benang tadi ditata menjadi sebuah motif garis yang diinginkan atau nyekir. Proses ini adalah proses yang paling rumit. Pekerja harus dengan konsentrasi penuh menata ribuan helai benang-benang tipis untuk menghasilkan suatu motif tertentu pada selembar kain lurik selebar 70 cm. Pada tiap motif kain lurik memiliki rumus yang berbeda-beda, sedangkan motif kain lurik sendiri jumlahnya puluhan.

Proses Penyekiran Benang Lurik di Bantul
Seorang pengrajin sedang menyambung benang yang terputus di dalam proses penyekiran. Ini harus dilakukan agar disaat proses penenunan tidak terjadi kelonggaran ataupun bolong. Ini juga termasuk ke dalam proses penyekiran. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Detail Penyekiran Benang Yang Nantinya Menjadi Kain Lurik
Seorang pengrajin sedang menyambung benang yang terputus di dalam proses penyekiran. Ini harus dilakukan agar disaat proses penenunan tidak terjadi kelonggaran ataupun bolong. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Proses keempat adalah memindahkan desain motif kain ke alat tenun atau yang disebut ‘nyucuk’. Proses nyucuk ini pada dasarnya adalah memasukan helai-helai benang secara satu per satu ke alat tenun kayu (ATBM) sebelum memasuki proses penenunan secara manual yang menjadi proses akhir. Setelah proses itu dilalui semua, otomatis kain tenun lurik pun siap dijadikan bahan untuk membuat berbagai baju atau hiasan dengan bahan dasar kain tenun ini.

Proses Penenunan Kain Lurik di Bantul
Ini adalah proses penenunan kain lurik konvensional atau dikenal dengan alat tenun bukan mesin. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Bagi saya pribadi, dapat mengamati langsung proses pembuatan kain tenun lurik ini merupakan sebuah pengalaman baru yang makin memperkaya wawasan tentang arti penting dari sebuah proses sebelum menjadi hasil berupa barang yang diinginkan. Tak berbeda dengan hidup, pada intinya adalah menghargai sebuah proses untuk menuju suatu tujuan. Melihat proses pembuatan kain tenun lurik di rumah industri Kurnia Lurik ini menjadi cerminan bagi pribadi untuk selalu bersabar dan teliti dalam melalui sebuah tahapan atau proses.

Lurik bukan hanya sebuah komoditi, akan tetapi merupakan sebuah karya seni bernilai sejarah sebagai perwujudan nilai-nilai kesederhanaan, kesabaran, dan keluhuran. Lurik tak sekedar kain bermotif lurus, lurik adalah warisan budaya nenek moyang yang memiliki nilai-nilai luhur di dalamnya dan harus dilestarikan. Maka dari itu, Jussy Rizal sang pemilik mengatakan, “Jika anda mengerti negeri ini dengan berbagai budayanya, maka anda akan dapat memahami alasan mengapa kami (Kurnia Lurik) mempertahankan lurik ini”, ujarnya menutup perbincangan kala itu.

Hasil Kreasi Kain Lurik
Hasil kreasi dari kain tenun lurik. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Traveller’s Note

  • Rumah industri kain tenun Kurnia Lurik berada di dalam perkampungan, tepatnya di Jl. Parangtritis KM 3,5, Dusun Krapyak Wetan, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.
  • Rumah industri tenun Kurnia Lurik buka setiap hari pada jam kerja, mulai pukul 08.00 WIB. Hari Minggu dan tanggal merah rumah industri ini libur.
  • Bila berkunjung, sebisa mungkin jagalah sikap untuk tidak mengganggu konsentrasi para pekerja dengan mengakrabkan diri atau mengajak ngobrol. Bila ingin ngobrol, sebaiknya pada saat jam istirahat siang pada pukul 12.00 WIB.

TINGGALKAN KOMENTAR YUK!

Please enter your comment!
Please enter your name here