Mie Lethek, Sajian Nikmat Nan Sarat Cerita

Proses Pembuatan Mie Lethek
Ini adalah proses pencampuran adonan mie. Dalam proses ini mereka menggunakan mesin tradisional yang dimodifikasi dan ditambah tenaga sapi untuk menggerakan mesin tersebut. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Meski memiliki tampilan yang lethek alias kusam, Mie Lethek menyimpan cita rasa yang nikmat dan bebas dari bahan kimia. Tidak hanya itu, mie yang masih dibuat dengan cara tradisional ini juga sarat akan kisah kesetiaan serta pengabdian.

Mungkin kamu akan memandang sebelah mata tatkala melihat tampilan mie lethek yang belum diolah. “Mie kok kusam dan dekil,” begitu pikirmu. Tapi percayalah, mie lethek tak seburuk dan sedekil namanya. Mie lethek justru sangat sehat dan higienis. Mie yang dalam bahasa Jawa berarti kusam (lethek) ini dibuat dari tepung tapioka atau tepung gaplek (singkong) dan diolah dengan cara tradisional tanpa menggunakan pewarna, pengawet, serta bahan kimia lainnya.

Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa dalam mie lethek ini terdapat kandungan zat besi, protein, serta karbohidrat cukup tinggi yang baik untuk kesehatan tubuh para penikmatnya. Oleh sebab itu tak heran bila kuliner mie jawa asli dari Bantul ini memiliki kesan tersendiri di hati dan di lidah para pecinta kuliner nusantara.

Pekerja Mie Lethek Bantul
Sanen (70), berpose disamping seekor sapi yang biasa digunakan untuk menggerakkan penggiling adonan mie lethek di sela-sela bekerja pabrik mie lethek cap ‘Garuda’. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Sajian kuliner mie lethek ini dapat kamu jumpai di sejumlah tempat di Yogyakarta, khususnya di wilayah Bantul. Namun, ada satu warung legendaries yang konon menjadi pelopor atau perintis keberadaan warung olahan mie lethek. Warung tersebut adalah Warung Mie Lethek Kang Sum yang terletak tak jauh dari Makam Raja-raja Mataram Imogiri, tepatnya di seberang lapangan bekas Pasar Imogiri, Bantul. Di antara pedangang lainnya, Warung Kang Sum cukup mudah dikenali karena terdapat lampu menyerupai lampu ambulans yang dipajang di gerobaknya. Warung ini menjual mie lethek goreng dan mie lethek godhog alias rebus yang rasanya sama-sama juara.

Pembuatan Mie Lethek Bantul
Suasana proses pembuatan Mie Lethek. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Ketika saya menyempatkan berbincang dengan Kang Sum, beliau mengaku bahwa warungnya merupakan usaha warisan turun temurun dari sang kakek. Dari sang kakek lah resep mie lethek diwariskan pada ayahnya, Warno Utomo, kemudian sampai kepada beliau sekarang ini. Tak diketahui secara pasti kapan sang kakek mulai berjualan mie lethek yang menurut cerita merupakan pelopor pedagang mie lethek di kawasan Imogiri ini. Kang Sum sendiri baru dipercaya menjadi juru masak sejak tahun 1999 menggantikan ayahnya.

Selain warisan resep, Kang Sum juga masih menjaga warisan tradisi yakni pantang berjualan di malam jumat. Maklum, menurut mitos orang jawa (kejawen) malam Jumat sangat identik dengan hal-hal yang berbau mistis dan spiritual. Secara logika entah apa pengaruhnya dengan bidang bisnis berjualan mie lethek ini, yang jelas Kang Sum hanya menjaga tradisi leluhur sebagai sebuah bentuk penghormatan yang dalam bahasa jawa sering disebut dengan ”nguri-uri kabudayan”.

Mengintip Proses Pembuatan Mie Lethek Cap “Garuda”

Seusai menyantap sajian mie lethek yang gurih dan lezat di warung Kang Sum, saya pun penasaran untuk melihat secara langsung proses pembuatan mie lethek yang masih dilakukan secara tradisional. Selang beberapa hari saya pun menyempatkan diri untuk mengunjungi pabrik pembuatan mie lethek cap “Garuda” di Dusun Bendo, Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan, Bantul.

Proses Pembuatan Mie Lethek
Salah satu proses pembuatan mie lethek. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Proses Pembuatan Mie Lethek
Salah satu proses pembuatan mie lethek. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Setelah menempuh perjalanan sekitar 40 menit dari pusat Kota Gudeg, saya pun tiba di kawasan pedesaan asri, melintasi seruas jalan mungil beraspal di mana banyak sepeda onthel dengan pengemudi yang sudah sepuh bersliweran. Sesampainya di pabrik tak terdengar riuh berisik suara alat mesin atau semacamnya, yang ada malah sambutan hangat dari Yasir Feri Ismatrada, seorang pria keturunan arab-jawa yang merupakan sang pemilik pabrik mie lethek cap garuda ini. Dengan ramah beliau mempersilakan saya masuk kedalam pabrik yang menyatu dengan tempat tinggalnya dan membuka perbincangan dengan menjelaskan secara singkat proses pembuatan mie lethek di pabrik tradisional miliknya.

Mencampur Bahan Mie Lethek
Dalam proses mencampur/menggiling adonan mie lethek, mereka masih menggunakan tenaga sapi karena ramah energi dan kuat. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Sembari mendengarkan penjelasan dari Pak Feri, mata ini menyapu pandang ke seantero ruangan pabrik mie lethek ini. Selintas ada yang sempat menyita pandangan untuk sejenak berhenti dan melihat lebih dekat, yaitu beberapa kliping koran nasional yang ditempel di dinding ruang muka pabrik. Salah satu yang menarik adalah ulasan tentang pengakuan langsung mantan Presiden Republik Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, yang mengaku menggemari mie lethek berbahan tepung singkong dari Bantul, Yogyakarta ini.

Proses Pembuatan Mie Lethek
Adonan mie lethek sedang dicetak menggunakan alat khusus. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Setelah selesai menjadi pendengar yang baik, barulah petualangan menyisir seluruh isi pabrik dimulai. Langkah demi langkah berayun hingga sampai ke dapur pabrik yang memiliki penggiling raksasa di tengahnya. Nah, disinilah letak  keunikan yang menjadi ciri khas dari proses produksi mie lethek. Mesin penggiling yang digerakkan oleh tenaga sapi tersebut laksana berfungsi untuk menggiling atau mengaduk adonan tepung. Laksana blender raksasa, penggiling tersebut memiliki diameter dua meter dan bobot satu ton.

Penataan Mie Lethek
Seorang pekerja sedang merapikan susunan mie lethek. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Selain suara alat penggiling super besar itu, terdengar pula riuh percakapan disertai senda gurau ala ‘wong jowo’ dari para pekerja yang ada di tempat itu. Rata-rata pekerja di pabrik mie lethek cap ‘Garuda’ ini telah memasuki usia senja yakni 50 tahunan keatas, namun tangan-tangan renta mereka masih cukup kuat dan cekatan dalam mengolah adonan tepung tapioka menjadi segumpal mie.

Mie Lethek
Mie lethek yang siap untuk di keringkan. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Proses pembuatan mie lethek diawali diawali dengan menyusun adonan tepung berbentuk kubus dan memanggangnya di dalam tungku kayu bakar. Setelah itu, tepung kubus tersebut dikeluarkan dari tungku pemanggang dan digiling di tempat penggilingan yang digerakkan dengan tenaga sapi. Selama proses penggilingan ini, adonan tepung singkong atau tepung tapioka dicampur sedikit air sekitar kurang lebih dua jam dan setelah itu dimasukan kembali ke dalam tungku selama dua hingga tiga jam lamanya.

Proses Pembuatan Mie Lethek
Setlah proses pencetakan menjadi bentuk mie, lalu adonan mie yang telah berbentuk mie tersebut di masukan ke dalam oven. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Selanjutnya, adonan dikeluarkan kembali dan siap untuk dimasukan kedalam mesin pencetak mie. Adonan tepung yang sudah berubah menjadi sulur-sulur mie kemudian dikumpulkan, ditata, dijemur sebentar, dan dimasukan lagi kedalam tungku sebelum akhirnya dijemur di bawah terik sinar matahari seharian penuh pada keesokan harinya. Mie lethek yang telah kering pasca penjemuran selama delapan jam lamanya itu kemudian dibungkus ke dalam kemasan plastik sebelum siap untuk didistribusikan ke pasaran.

Proses Pengeringan Mie Lethek
Proses pengeringan Mie Lethek. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Selain dijual di pasaran, ada juga pembeli dalam jumlah besar atau borongan yang mengambil langsung di pabriik untuk langsung menjualnya dalam bentuk kemasan mentah. Harga jual mie lethek di pasaran ini Rp 8.000 per bungkus (eceran) atau Rp 41.000 per pack yang berisi 5 kg mie lethek mentah.

Mie Bendo Asli
Mie lethek yang telah di kemas dengan nama Mie Bendo Asli. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Nampaknya kunjungan ke pabrik mie lethek siang itu tak hanya mengobati rasa penasaran saya dibalik proses pembuatan mie kusam yang bercitarasa juara. Perjalanan kali ini juga mengajarkan kepada saya tentang arti loyalitas dan semangat pengabdian para pembuatnya. Meski berusia renta, mereka tetap bersemangat untuk menghasilkan mie terbaik ke tangan para pecintanya. Akhirnya saya pun mengamini sebuah kata-kata lama bahwa “pelajaran tak hanya ada di dalam kelas, tapi juga terdapat pada setiap perjalanan serta perbincangan yang dilalui.”

Proses Pembuatan Mie Jawa
Proses pembuatan mie jawa yang menggunakan bahan baku mie lethek yang dibuat di Imogiri, Bantul, Yogyakarta. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Hasil Olahan Mie Lethek
Salah satu olahan Mie Lethek. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Traveller’s Note

  • Warung Mie Lethek Kang Sum berada di Jl. Makam Raja-raja Imogiri (Jl. Imogiri Timur), Bantul, DI Yogyakarta, tepatnya di seberang utara lapangan bekas Pasar Imogiri dengan ciri khas lampu ambulans yang terdapat di gerobaknya.
  • Bila kamu tidak ingin jauh-jauh ke bantul untuk menikmati mie lethek, di seputaran wilayah Kota Jogja dan Kabupaten Bantul, terdapat banyak pedagang mie lethek yang menjajakannya.
  • Pabrik pembuatan mie lethek cap ‘Garuda’ terletak di Dusun Bendo, Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul. Bila kamu berangkat dari Kota Jogja, bergeraklah menuju arah selatan dengan rute Jl. Bantul – Polres Bantul – Simpang Empat Palbapang setelah itu belok ke kanan atau ke arah barat sekitar 5 kilometer. Jika kamu telah bertemu jembatan besar, beloklah ke kanan masuk kampung, disitulah letak Dusun Bendo. Pabrik mie lethek cap ‘Garuda’ berada tepat di samping masjid tak jauh dari jalan raya.
  • Bersikaplah santun saat berkunjung. Jika bisa membaur dengan para pekerja, kamu akan mendapatkan banyak kisah dari para pekerja pabrik mie ini.

Junjunglah tinggi norma dan etika dalam setiap perjalananmu. Seorang pejalan yang baik adalah pejalan yang menghormati adat istiadat serta norma setempat dan menjunjung tinggi etika dalam berperilaku.

TINGGALKAN KOMENTAR YUK!

Please enter your comment!
Please enter your name here