Mengunjungi Pembuatan Keris di Padepokan Djeno Harumbrodjo

Percikan Api Dalam Pembuatan Keris di Padepokan Empu Sungkowo Harumbrodjo
Sang panjak (pembantu empu dalam pembuatan keris) sedang memukul saton demi mendapatkan pamor yang sempurna. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Tang… tang… tang… suara dentang logam yang sedang ditempa terdengar lantang dari kejauhan. Suara nyaring yang mampu membuyarkan keheningan hari. Saya pun semakin mempercepat langkah, ingin segera menyaksikan proses pembuatan keris untuk pertama kalinya.

Semuanya berawal dari rasa penasaran saya terhadap keris. Inilah senjata tradisional Nusantara yang memiliki begitu banyak peran dalam kehidupan manusia sejak jaman dahulu hingga kini. Keris tidak hanya dimanfaatkan sebagai senjata, namun keris juga menjadi benda berwasiat, kelengkapan upacara keagamaan, aksesoris, hingga menjadi penanda status sosial seseorang. Bahkan pada tahun 2005, keris Nusantara telah dikukuhkan oleh UNESCO sebagai karya agung warisan kemanusiaan milik seluruh bangsa di dunia.

Percikan Api Dalam Pembuatan Keris di Padepokan Empu Sungkowo Harumbrodjo
Sang panjak (pembantu empu dalam pembuatan keris) sedang memukul saton demi mendapatkan pamor yang sempurna. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Beruntung pada suatu pagi menjelang siang seorang kawan mengajak saya meluncur ke Jogja bagian barat guna menemui sang pembuat keris, Ki Empu Sungkowo Harumbrodjo. Beliau adalah keturunan ke-17 Empu Supodriyo dari Kerajaan Majapahit abad XIV. Gelar empu yang dipakainya bukanlah gelar yang diturunkan dari ayahandanya, Empu Djeno Harumbrodjo, melainkan diperoleh dengan susah payah dari pengalamannya berkarya sebagai pembuat keris sejak lebih dari 30 tahun silam. Sebagai salah satu dari sedikit pembuat keris yang masih tersisa di Jogja, beliau masih tetap memegang teguh tradisi. Membuat keris lengkap dengan sesaji dan laku tirakat.

Pembuatan Keris Ki Empu Sungkowo Harumbrodjo
Bagian depan dari padepokan pembuatan keris Ki Empu Sungkowo Harumbrodjo. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Setelah berkendara sekitar 19 kilometer dari pusat kota, akhirnya kami berdua tiba di tempat tujuan. Dentang besi yang sedang ditempa menyambut saya dari kejauhan. Saya pun bergegas menuju ke besalen (padepokan tempat membuat keris) yang terletak tepat di samping rumah utama. Kala itu beliau tengah menempa batangan besi panas di atas sebuah paron (alas untuk menempa batangan besi panas), dibantu seorang panjak (pembantu empu). Baru saja melongokkan kepala ke pintu besalen, saya disambut dengan percikan bunga api yang mengenai pergelangan tangan kiri saya. Panas dan pedih, serta menimbulkan bekas.

Pembuatan Keris Ki Empu Sungkowo Harumbrodjo
Empu Sungkowo sedang menata bara api agar suhu tempat perapian tetap tinggi dan stabil. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Sang empu tampak serius memperhatikan saton, campuran besi dengan material pamor (biasanya dari nikel atau batuan meteor), tak terpengaruh oleh kehadiran saya. Sementara itu sang panjak memalu saton yang merah membara dengan sekuat tenaga di bawah arahan sang empu. Terkadang sang panjak berhenti untuk memompa ububan berupa dua buah tabung bambu untuk memastikan panas yang didapat guna membakar saton telah tepat.

Saya pun larut dalam momen istimewa tersebut sambil membayangkan keadaan di masa lampau tatkala Empu Gandring membuat keris pusaka yang menjadi awal mula kisah berdirinya Kerajaan Singasari serta memakan 7 korban. Saya juga mengedarkan padangan ke seluruh penjuru. Besalen yang tak seberapa luas itu penuh dengan peralatan tradisional seperti supit, ploncon, ganden, mimbal, kikir, dan berbagai peralatan yang saya tidak tahu namanya.

Percikan Api Dalam Pembuatan Keris di Padepokan Empu Sungkowo Harumbrodjo
Sang panjak (pembantu empu dalam pembuatan keris) sedang memukul saton demi mendapatkan pamor yang sempurna. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

“Jangan terlalu dekat, Mas! Nanti bajunya bisa berlubang kena pijar apinya,” kata Empu Sungkowo tiba-tiba pada kawan saya yang sedang mengambil gambar. Untuk menempa keris memang diperlukan suhu yang tinggi. Menurut Empu Sungkowo, suhu di prapennya (perapian) pernah diukur oleh mahasiswa ITB dan berada dalam kisaran 1.300 – 1.350 derajat celcius. Setelah mencelupkan supit ke dalam kowen, Empu Sungkowo pun mengajak kami masuk ke dalam rumahnya untuk melihat keris-keris yang sudah beliau buat serta menjelaskan lebih detil tentang proses pembuatan keris.

Sang Pembuat Keris Ki Empu Sungkowo Harumbrodjo
Potret Empu Sungkowo Harumbrodjo. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Empu Sungkowo menuturkan bahwa dirinya mempelajari seni pembuatan keris atau seni tempa pamor dari almarhum ayahnya, Empu Djeno Harumbrodjo, seorang pembuat keris yang diakui oleh pihak Keraton Yogyakarta. Bahkan beliau juga berkisah bahwa dirinya pernah menjadi panjak yang membantu ayahnya membuat keris untuk Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Proses Pembuatan Keris

Ada beberapa tahap yang harus dilalui untuk menciptakan sebuah keris. Tahap pertama adalah melakukan laku spiritual dengan adat Jawa seperti berpuasa, berprihatin, selamatan, memilih dan menetukan bahan, kemudian menghindari hari-hari pantangan dalam bekerja. Selanjutnya masuk proses tekhnis seperti pemilihan besi yang baik, menentukan pamor (nikel atau meteor), pembakaran dan penempaan (yang diulang-ulang), hingga akhirnya memasuki proses pembuatan luk (lekukan yang ada di keris), pengikiran, dan penyepuhan. Setelah menyelesaikan proses pembuatan, Empu Sungkowo masih harus menyediakan sesaji, memandikannya (nyirami/marangi keris), kemudian mengoleskan minyak kayu cendana, barulah sebuah keris siap untuk diserahkan pada sang pemesan.

Pembuatan Keris Ki Empu Sungkowo Harumbrodjo
Proses pembuatan keris di padepokan Ki Empu Sungkowo Harumbrodjo. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Untuk membuat sebilah keris, biasanya Empu Harumbrodjo menghabiskan waktu 40 hari. Di hari-hari tertentu yang merupakan hari pantangan, beliau tidak bekerja. Menurut kepercayaanya, jika tetap nekad bekerja pada hari-hari tersebut biasanya sesuatu yang buruk pasti terjadi. Namun Jika memang terpaksa harus bekerja, beliau akan memulai kerjanya di atas jam 4 sore. Tak hanya itu, untuk menciptakan sebuah keris yang selaras dengan energi magis sang pemiliknya, beliau selalu menanyakan weton atau hari, tanggal, bulan, dan tahun kelahiran sang pemesan dalam penanggalan Jawa.

Pembuatan Keris Ki Empu Sungkowo Harumbrodjo
Salah satu hasil keris yang hampir selesai. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Secara singkat Empu Harumbrodjo juga menjelaskan kepada saya tentang berbagai macam jenis pamor atau motif yang ada pada bilah keris. Dari sekian banyak yang beliau sebutkan hanya beberapa yang saya ingat, misalnya pamor beras wutah dan kulit semangka yang biasa dipakai para petani. Ada juga pamor udan riris, tritik, tunggak, ronsirih, hingga pamor rekan. Menurut Empu Harumbrodjo, semakin sulit pamor yang diminta oleh si pemesan, harga yang dipatok untuk sebuah keris juga semakin tinggi.

Keris Buatan Ki Empu Sungkowo Harumbrodjo
Salah satu keris yang dibalut emas buatan Empu Sungkowo Harumbrodjo. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Saya pun terpekur dan takjub. Ini adalah kali pertama saya memegang keris sungguhan (selama ini yang biasa saya pegang hanyalah keris keris yang biasa dijadikan hiasan pengantin pria). Saya baru saja tahu bahwa motif atau pamor yang ada di dalam keris merupakan hasil kreasi dan keahlian Empu. Selama ini saya tidak pernah menyadari hal itu. Pantas saja harga keris bisa sangat tinggi. Karena pembeli tidak semata menghargai sebilah besi, melainkan menghargai warisan budaya dan seni tingkat tinggi.

Ah, mendadak saya teringat falsafah Jawa. Konon katanya seorang lelaki pada masa lalu akan pantas disebut sebagai priyayi, pria dewasa, atau ksatria yang paripurna tatkala sudah memiliki 5 hal dalam hidupnya yakni wanita, turangga (kuda atau tunggangan), kukila (burung atau peliharaan), wisma (rumah), dan curiga (keris atau senjata). Jadi, kamu sudah punya curiga belum?

Traveller’s Note

  • Padepokan Djeno Harumborjo terletak di Dusun Gatak, Desa Sumberagung, Moyudan, Sleman, sekitar 19 kilometer arah barat Yogyakarta.
  • Untuk mencapai tempat ini dari Tugu Jogja (tugu pal putih) silahkan berkendara ke arah barat dan menyusuri Jalan Godean. Rutenya sama dengan rute menuju Sendang Jatiningsih, Sendangsono, Desa Wisata Ketingan, Puncak Suroloyo, hingga Borobudur.
  • Empu Sungkowo akan libur bekerja pada hari Selasa Pahing, Rabu Wage, Kamis Pahing, Kamis Wage, dan Kamis Legi. Jadi sangat tidak disarankan untuk datang kesana pada hari-hari tersebut karena kamu tidak bisa melihat proses pembuatan keris.

2 KOMENTAR

  1. Selamat pagi kak, saya ingin menanyakan beberapa hal yang harus saya lakukan jika saya harus menuju rumah empu. Apakah saya harus buat janji dahulu? atau langsung mengunjungi ke rumah beliau? Lalu, jam-jam disarankan untuk dapat mewawancarai beliau jam berapa ya kak? kiranya apakah beliau terbuka untuk pertanyaan-pertanyaan yang lebih pada proses ritual-ritual dalam pembuatan keris?
    Terimakasih atas responnya kak.

    • Hallo Kak Eka Tanjung Pripambudi,

      Alangkah baiknya sih membuat janji ya. Karena kami juga membuat liputan ini tidak hanya sekali datang. Tapi beberapa kali datang. Pertama kali kami hanya basa-basi dan memperkenalkan diri hingga kami mendapatkan click dan suasana mulai mencair dan mulai mengenal. Kemudian harinya kami baru membuat liputan yang sebelum kami datang telah meminta ijin untuk meliputnya.

      Sebenarnya Empu SUngkowo itu orang asik kok. Tetapi tidak kepada orang yang baru dikenalnya. Jika sudah kenal dengan beliau, beliau akan memberikan segala informasi yang anda butuhkan. Intinya ituperkenalkan diri anda dulu kak. Ketika sudah kenal, akan asik dengan sendirinya kok… Hehehe

      Terima kasih sudah berkunjung kak… 🙂

TINGGALKAN KOMENTAR YUK!

Please enter your comment!
Please enter your name here