Kisah Para Manusia Super Kawah Ijen

Penambang Belerang Kawah Ijen
Penambang belerang di Kawah Ijen. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Derap kerumunan langkah kaki terdengar lirih dari kejauhan. Bersamaan dengan itu, samar-samar rona bayangan sekelompok penambang belerang Kawah Ijen terpantul di bawah temaram sinar rembulan. Belum juga fajar tiba, rombongan para manusia perkasa itu tengah bergegas berangkat menyusuri tanjakan terjal kemudian turun ke bibir kawah demi berharap akan dapur rumah mereka tetap mengepul.

Tak mau tertinggal terlalu jauh, langkah kaki inipun spontan ikut bergegas melangkah menaiki jalur terjal mengikuti para penambang belerang Kawah ijen tersebut. Terhitung jarak dari pos Paltuding yang menjadi pos keberangkatan para pendaki Gunung Ijen menuju puncaknya sejauh tiga kilometer. Jarak tersebut belum ditambah lagi dengan 250 meter menuruni jalur bebatuan terjal menuju dasar Kawah Ijen.

Penambang Belerang Kawah Ijen
Suasana aktivitas penambangan belerang di dekat semburan Api Biru Kawah Ijen. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Dalam perjalanan kali ini bukan puncak gunung lah yang menjadi tujuan akhir, namun dasar kawah belerang yang tak henti-hentinya mengeluarkan kepulan asap pekat nan beracun. Sepenggal kisah kali ini berawal dari Kawah Ijen, sebuah kawah yang tersohor namanya hingga ke belahan negara lain karena panorama alamnya yang mempesona pandangan mata dan yang paling utama adalah fenomena api biru atau The Blue Fire nya yang hanya dapat ditemukan di dua tempat di bumi ini, yakni di Banyuwangi dan di Islandia.

Berlokasi di ujung timur Pulau Jawa, Kawah Ijen merupakan bagian paling dasar dari Gunung Ijen. Gunung Api setinggi 2368 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan memiliki luas kaldera sebesar 5466 hektar ini masih menunjukkan aktivitasnya dalam beberapa dekade terakhir. Terbukti letusannya yang terakhir tercatat pada tahun 1999 silam.

Penambang Belerang Kawah Ijen
Suasana aktivitas penambangan belerang di bibir Kawah Ijen. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Penambang Belerang Kawah Ijen
Salah satu bentuk suvenir berbahan belerang Kawah Ijen yang langsung dicetak di area penambangan. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Selain dikenal sebagai kawah belerang terbesar seantero jagat raya, Kawah Ijen menyimpan sebuah cerita tentang semangat, kerja keras, dan pengorbanan untuk menyambung hidup dari para penambang belerang tradisionalnya. Para manusia super itu telah puluhan tahun mengabdikan diri pada profesinya yang berisiko tinggi ini.

Kesemua para penambang belerang tradisional di Kawah Ijen ini rela meneteskan peluh setiap harinya dan mempertaruhkan kesehatan tubuh bahkan nyawa mereka guna mengais rupiah dari bongkahan batu-batu belerang yang dipikul di bahu demi kelangsungan hidup mereka masing-masing. Tak terlalu berlebihan rasanya bila mereka disebut sebagai manusia super. Betapa tidak, beban bongkahan batu belerang yang mereka pikul memiliki beban seberat antara 60 hingga 100 kilogram.

Penambang Belerang Kawah Ijen
Penambang belerang di Kawah Ijen. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Keperkasaan para penambang belerang tradisional ini masih kembali diuji. Beban seberat itu harus mereka pikul di atas pundak mereka setiap harinya dengan melewati jalan bebatuan nan terjal menaiki dinding kaldera. Perjuangan para penambang kemudian berlanjut menuruni jalur pendakian Gunung Ijen dengan kemiringan sekitar 30 derajat sejauh tiga kilometer. Sungguh mengesankan dapat menyaksikan secara langsung betapa beratnya perjuangan mereka memikul bongkahan batu-batu belerang tersebut.

Sambil menghela nafas, sejenak saya mulai termenung dan berfikir betapa hebatnya perjuangan para penambang belerang di Kawah Ijen ini. Tanpa masker dan hanya menggunakan sandal jepit, hampir setiap harinya mereka melakukan aktivitas ini. Barangkali hukum ‘kebiasaan’ berlaku dalam hal ini gumamku. Seperti yang dikatakan oleh pepetah lama, “Bisa karena terbiasa” dan “lambat laun seiring waktu juga bakal terbiasa”.

Penambang Belerang Kawah Ijen
Penambang belerang di Kawah Ijen. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Agar bisa mengabadikan aktivitas penambangan batu belerang di bibir Kawah Ijen ini secara lengkap, sesekali saya agak mendekat penuh kewaspadaan. Perlu diketahui, aktivitas penambangan belerang di kawasan ini dilakukan secara berkelompok. Jadi terdapat banyak titik penambangan dan saya hanya mampu mendekati salah satu dari beberapa titik penambangan tersebut.

Menginjak subuh, si api biru atau fenomena The Blue Fire yang terkenal itu mulai terlihat. Bergegas saya berusaha mengabadikannya sebagai latar background dari aktivitas penambangan belerang. Momen kala itu sungguh luar biasa. Api biru yang menyala seperti kompor dapur di rumah itu terus mengeluarkan kepulan asap beracun yang terhembus oleh angin. Cukup merepotkan apabila angin berhembus ke arah saya waktu itu. Bernafas menjadi sulit, mata pun menjadi sangat pedih.

Penambang Belerang Kawah Ijen
Suasana penambang belerang Kawah Ijen yang tengah beristirahat sejenak di puncak Gunung Ijen. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Usai subuh saat pendar cahaya matahari mulai muncul dari balik cakrawala, pentas api biru pun berangsur selesai dari pandangan. Wajar saja, api biru dapat terliaht dengan jelas hanya pada rentan waktu antara dini hari hingga sebelum fajar tiba. Lantas saya pun segera bergegas naik melewati dinding kaldera mengikuti langkah para penambang yang tengah memikul bongkahan batu belerang. Gerak mereka memang lambat. Wajar saja dengan beban seberat itu pikirku.

Perlahan namun pasti langkah kaki para penambang itu terus melaju, merangkak naik hingga akhirnya tiba kembali di puncak Gunung Ijen. Beberapa dari mereka ada yang menyempatkan diri berisitirahat sejenak sammbil memecah belah bongkahan batu sebelum dibawa turun dan ditimbang di pos Paltuding.

Penambang Belerang Kawah Ijen
Penambang belerang di Kawah Ijen. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Karena matahari sudah merangkak naik dan kabut tebal mulai menutup pandangan panorama kawah, saya memutuskan untuk segera turun gunung. Kondisi fisik yang semakin menurun seusai melihat dan mengabadikan fenomena api biru dan aktivitas pertambangan belerang di bibir Kawah Ijen membuat langkah kaki ini semakin berat menopang tubuh dan memaksa untuk beristirahat sejenak. Di sela istirihat itu, panorama Gunung Raung tersaji dengan cantik di pelupuk mata berhiaskan ranting-ranting pepohonan di sepanjang jalur pendakian Gunung Ijen ini.

Betapa berkesaannya perjalanan kali ini. Menapakkan kaki di Kawah ijen dan dapat menyaksikan beratnya perjuangan para penambang belerang yang begitu perkasa membuat saya semakin memahami betapa berharganya hidup ini dan juga betapa agungnya ciptaan Illahi. Dibalik pesona alamnya, Kawah Ijen menyimpan cerita kehidupan tentang semangat dan pengorbanan para penambang belerang untuk terus memperjuangkan hidupnya. Malu rasanya apabila kita sebagai kamum muda masih bermalas-malasan dengan fisik yang masih mumpuni ini.

Manusia Super Kawah Ijen
Penambang belerang di Kawah Ijen. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Traveller’s Note

  • Bagi kamu yang ingin melakukan perjalanan menuju Kawah Ijen, persiapkanlah peralatan penunjang pendakian yang mumpuni seperti sepatu trekking, jaket, dan kupluk untuk mengurangi resiko kedinginan.
  • Bawalah masker dan air mineral yang cukup. Air mineral dapat digunakan untuk membasahi masker agar kotoran dan zat racun belerang menempel pada masker yang dibasahi, tidak langsung terhirup ke dalam rongga pernapasan.
  • Bila ingin melihat fenomena api biru dan aktivitas penambangan belerang di bibir Kawah Ijen, sangat disarankan menggunakan masker jenis respirator karena asap belerangnya cukup pekat.
  • Bawalah alat penerangan atau senter yang cukup mumpuni untuk melakukan pendakian di malam hari.
  • Bila perlu, bawalah juga kacamata bening untuk melindungi mata dari iritasi dan pedih karena terkena asap belerang yang pekat.
  • Bagi kamu yang ingin menyaksikan fenomena api biru atau aktivitas penambangan belerang, janganlah berdiri terlalu dekat.
  • Bersikaplah santun kepada sesame pendaki dan terutama kepada para penambang belerang.
  • Mendakilah sesuai kemampuan fisikmu. Alangkah lebih baik sebelum melakukan pendakian ke Kawah Ijen ini disarankan untuk melakukan persiapan fisik sebelumnya.
  • Santunlah dalam bersikap. Seorang pejalan yang baik adalah yang memiliki etika dalam bersikap serta menghormati dan mentaati peraturan setempat yang berlaku baik tertulis maupun tidak tertulis.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR YUK!

Please enter your comment!
Please enter your name here