Warga Kampung Bugis
Suasana Perkampungan Bugis saat siang hari. (Hendra Nurdiyansyah/Maioloo.com)

Berabad–abad lampau kemampuan maritim Indonesia sangat dikenal sebagai pelaut yang tangguh. Jika mendengar lagu “Nenek Moyangku Seoarang Pelaut”, sangatlah cocok disematkan kepada Suku Bugis. Tidak hanya piawai menjelajahi laut Indonesia, ekspedisi kaum Bugis merambah Semenanjung Malaka bahkan sampai Madagaskar.

Siapa yang tidak mengenal kepulauan Karimunjawa, gugusan pulau indah di utara pulau jawa menawarkan keindahan surga dunia. Pantai berpasir putih membentang luas, air laut nan jernih mempesonakan mata untuk menikmati diorama pemandangan laut, warna–warni ikan berkejaran bersembunyi lincah di sela karang yang cantik. Perairan dangkal, jaraknya tidak begitu jauh dari pulau satu ke pulau lain, tidak banyak yang tau kekayaan diving spot di perairan dalam kepulauan Karimunjawa.

Rumah Kampung Bugis Karimunjawa
Suasana pemukiman Kampung Bugis di Desa Telaga. (Hendra Nurdiyansyah/Maioloo.com)

Kali ini ketiga kalinya saya menapakkan kaki di Karimunjawa, selalu ada rindu untuk terus kembali ke Desa Telaga sebuah kampung Bugis di Pulau Kemujan, Kepulauan Karimunjawa. Perantauan kaum Bugis sudah terkenal sejak beberapa abad lalu. Ditemukan komunitas Bugis di beberapa kota di Indonesia merupakan bukti perantauan mereka.

Siang itu terik menyengat khas matahari pantai, motor menderu menaiki perbukitan menggasak jalanan menyusuri tepian pantai, cukup menempuh 45 menit dari pelabuhan Karimunjawa untuk sampai di kampung Bugis. Di tengah perjalanan seorang kawan lokal menghentikan laju kendaraan saya, adalah bang Yarhan Ambon seorang pemuda inspiratif yang dulu sempat menempuh kuliah di kota Yogyakarta. Saya pun berhenti berjabat tangan dengan puluhan warga yang berkumpul mempersiapkan hajatan pesta pernikahan warga kampung Bugis. Kesekian kalinya saya berkunjung membuat hubungan sudah menjadi seperti keluarga.

Latuk Muhamuk
Potrait Latuk Muhamuk, Dia berkisah keterlibatan saat mengikuti ekspedisi membuka lahan. (Hendra Nurdiyansyah/Maioloo.com)

Tahun 1950 ekspedisi yang di pimpin H. Muhammad Amin bersama 6 awak kapalnya berlayar dari pulau Masalembo menepi di sebuah pulau dengan vegetasi pepohonan yang masih lebat. H. Muhammad Amin berhasil membuka hutan di pulau Kemujan, Kepulauan Karimunjawa setelah 2 ekspedisi sebelumnya gagal karena terserang wabah penyakit.

Dari bibir pantai seorang lelaki tua menggunakan tongkat kayu berjalan pelan menuju rumah panggung. Dia adalah Latuk Muhamuk cucu dari H. Muhammad Amin. Latok berkisah keterlibatan dia dalam ekspedisi bersama kakeknya, dia merupakan saksi hidup keberadaan masyarakat bugis di Desa Telaga, Kemujan, Kepulauan Karimunjawa.

Ulama Memanjatkan Doa copy
Pemuka agama di Kampung Bugis melanjatkan doa di dalam kapal. (Hendra Nurdiyansyah/Maioloo.com)

Saat pertama kali menepi mereka membuat sebuah gubuk kecil untuk bermalam, membuka hutan agar bisa menanam bahan makanan. Sekiranya cukup, H. Muhammad Amin kembali ke Masalembo untuk menjemput sanak keluarga dan membawanya kembali ke Pulau Kemujan. Penamaan Desa Telaga karena ditemukan sebuah telaga di tengah hutan.

Warga Mengikuti Doa Bersama
Warga makan bersama setelah selesai memanjatkan doa. (Hendra Nurdiyansyah/Maioloo.com)

Masyarakat Desa Telaga masih memegang teguh budaya Bugis sebagai warisan leluhurnya. Rumah-rumah panggung berdiri anggun dan gagah, sore itu puluhan warga berduyun-duyun menuju pelabuhan. Bang Ambon mengajak saya untuk mengikuti ritual doa bersama, saya bergegas mempersiapkan kamera.

Ritual memanjatkan doa dilakukan sebelum melakukan pelayaran, tradisi tersebut sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa agar senantiasa mendapatkan keselamatan. Kapal berayun dihempas gelombang, bayu bertiup silir seakan semesta menerima lantunan doa seluruh warga. Setelah selesai memanjatkan doa, saya menikmati hidangan di atas kapal bersama seluruh warga yang datang.

Sesaji Doa copy
Warga makan bersama setelah selesai memanjatkan doa. (Hendra Nurdiyansyah/Maioloo.com)

Perantauan suku bugis merupakan buah kebudayaan dunia maritim Indonesia. Mempelajari keberadaan komunitas bugis yang menyebar ke penjuru kepulauan Indonesia berarti mencatat sejarah penting dalam tradisi maritime dunia. Merawat budaya berarti merawat sebuah peradapan dan membuktikan pada dunia bahwa nenek moyang Indonesia adalah seorang pelaut yang tangguh.

Sesaji Doa Bersama
Potongan kaki kambing, sebagai tolak balak agar selamat saat berlayar. (Hendra Nurdiyansyah/Maioloo.com)

Traveler’s Note

  • Kampung Bugis berada di Desa Telaga, pulau Kemujan, Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Tepatnya berada di belakang Bandar Udara Dewadaru berjarak 22 kilometer dari Pelabuhan Karimunjawa.
  • Tidak ada transpotasi umum untuk menjangkau Kampung Bugis, jadi kamu harus membawa kendaraan pribadi. Jika tidak membawa kendaraan kamu bisa menyewa motor dengan harga Rp 75.000 perhari atau menyewa mobil seharga Rp. 150.000 untuk mengantarkan kamu ke Kampung Bugis.
  • Listrik di Kampung Bugis hanya hidup pada malam hari, jadi kamu jangan lupa untuk mengisi energi batrai kamera saat aliran listrik hidup.
  • Bawalah dry bag atau tas anti air sebagai wadah untuk menaruh barang elektronik, untuk mengurangi kecerobohan saat bermain di pantai.
  • Bersikaplah santun saat berkunjung. Berusahalah membaur bersama warga, kamu akan mendapatkan banyak kisah menarik tentang kearifan lokal yang ada di sana.

TINGGALKAN KOMENTAR YUK!

Please enter your comment!
Please enter your name here