Sendangsono, Tempat Ziarah Bagi Jiwa yang Gelisah

Dusun Semagung, Desa Banjaroya, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, Daerah istmewa Yogyakarta

Arsitektur Gua Maria Sendangsono
Arsitektur Gua Maria Sendangsono, Yogyakarta. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)

Berada dalam pelukan Bukit Menoreh, Sendangsono menjadi tempat peziarahan bagi jiwa yang gelisah. Di kawasan yang asri ini pengunjung bisa merasakan sejuknya udara perbukitan, menikmati keindahan rancangan arsitektur Romo Mangun, menyusuri jalan salib, hingga berdoa di bawah kaki Bunda Maria.

Tatkala jiwa larut dalam gelisah, terkadang tak ada satu pun pundak yang bisa dijadikan tempat merebah. Lantas kamu pun memilih untuk berjalan, mencari tempat tetirah sekaligus berziarah, mendekatkan diri kepada Sang Empunya kehidupan. Perjalanan ziarah biasanya akan memberikan banyak energi baru bagi tubuh dan jiwa, serta mampu meluruhkan gelisah yang melanda. Salah satu tempat peziarahan umat Katholik yang terkenal di Yogyakarta adalah Gua Maria Sendangsono.

Terlingkung Perbukitan Menoreh, Sendangsono menjadi oase batin yang menyejukkan jiwa. Di tempat ini tidak hanya jiwamu yang akan menemukan kedamaian, namun juga ragamu. Gua Maria Sendangsono terletak di kawasan yang sangat asri dan menyatu dengan alam. Aliran sungai yang membelah tempat peziarahan serta pohon-pohon besar yang menaunginya menjadikan tempat ini sangat sejuk dan segar. Sebuah pohon sono atau angsana besar tumbuh dengan kokoh menaungi tempat ini. Akarnya mencengkeram tanah dengan kuat dan menjadi sumber mata air sendang.

Sebenarnya keberadaan pohon sono inilah yang menjadikan tempat ini diberi nama Sendangsono. Dulunya, mata air di sini lebih dikenal dengan nama Sendang Semagung. Tempat ini menjadi peristirahatan dan persinggahan para Bikhu yang berjalan kaki dari Borobudur menuju Boro, begitu pula sebaliknya. Lantas pada tahun 1904, Pastur Van Lith datang ke tempat ini dan mengadakan pembabtisan bagi warga Kalibawang. Tempat ini pun akhirnya dikembangkan menjadi tempat peziarahan umat Katholik dan dikenal dengan nama Sendangsono.

Saat ini kamu tidak akan bisa melihat sendang atau mata airnya secara langsung, sebab mata air tersebut telah ditutup dengan kotak kaca. Airnya lantas dialirkan melalui keran-keran kecil yang biasa digunakan sebagai tempat membasuh muka atau diambil untuk dibawa pulang setelah sebelumnya didoakan di depan gua Maria. Meski tidak bisa melihat mata airnya, kamu tetap bisa menjumpai pohon sono yang berdiri dengan kokoh. Kamu bisa berdoa di bawah pohon tersebut sambil berlutut menghadap patung Bunda Maria. Asal kamu tahu, patung dengan berat sekitar 300 kg tersebut didatangkan khusus dari Spanyol dan diangkut bergantian dari pertigaan Bendo.

Meski merupakan tempat peziarahan umat Katholik, tempat ini terbuka untuk siapa pun. Karena itu tidaklah heran jika banyak umat beragama lain yang datang ke tempat ini untuk sekadar merenung atau mencari udara segar. Kamu bisa berdiri di atas jembatan kecil sembari melihat aliran sungai atau duduk-duduk di pendopo kayu. Bahkan bagi para pecinta arsitektur, Sendangsono menjadi salah satu destinasi wisata menarik karena rancang bangunnya yang unik. Tak heran jika Sendangsono pernah dijadikan setting film “3 Hari Untuk Selamanya” yang dibintangi Nicholas Saputra.

Arsitektur Gua Maria Sendangsono Jogja
Arsitektur Gua Maria Sendangsono. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)

Aktivitas Yang Bisa Dilakukan di Sendangsono

  • Ziarah dan Retreat
    Kompleks peziarahan Sendangsono kerap disebut sebagai Lourdesnya Indonesia. Pada tiap bulan Maria, ribuan umat berbondong-bondong ke tempat ini untuk berziarah. Selain mengikuti misa di Kapel Utama, Kapel Bunda Maria dan Kapel Para Rasul, mereka juga merenungkan penderitaan Yesus dengan melakukan jalan salib. Di Sendangsono ada dua pilihan rute jalan salib, yakni rute pendek atau rute panjang yang dimulai dari Paroki Promasan. Di tiap-tiap stasi atau pemberhentian akan ada doa dan saat teduh. Jalan salib akan berakhir tepat di depan Gua Maria Lourdes. Berhubung di kompleks ini terdapat makam Barnabas Sarikromo selaku sahabat Pastur Van Lith dan juga jemaat Katholik mula-mula di Kalibawang, maka di tempat ini terkadang dilakukan misa arwah. Selain berziarah, kamu pun bisa mengadakan retreat di tempat ini dan tinggal di bangunan yang bisa difungsikan sebagai penginapan dan juga aula.
  • Berdoa dan Kontemplasi
    Berdoa di tengah alam terbuka dalam balutan udara sejuk dan suasana yang hening akan membuatmu semakin khusuk. Salah satu pojok favorit untuk berdoa tentu saja di depan Gua Maria Lourdes yang terletak di bawah pohon Sono. Disini kamu bisa berlutut atau duduk di atas dingklik (kursi kecil) sembari memanjatkan doa-doamu. Kamu pun bisa berkirim surat kepada Tuhan dengan cara menuliskan permohonan dan curahan hatimu dalam secarik kertas lantas memasukkannya ke dalam pot pembakaran. Jika kamu datang di malam hari, suasana akan semakin khusyuk. Lilin-lilin yang bergoyang tertiup angin menemanimu merapalkan bait-bait doa. Lilin tersebut menjadi simbol penerang bagi jiwa dan batin yang sedang resah. Bagi umat beragama lain, kamu bisa berkomplasi di tempat ini. Duduk di bangunan-bangunan atau pendopo kecil yang tersedia dan mensyukuri betapa besarnya karunia Pencipta yang sudah diberikan kepadamu. Bahkan jika kamu hanya ingin melihat-lihat saja pun tetap diperbolehkan. Dengan satu syarat kamu wajib menjaga ketenangan tempat ini.
  • Wisata Arsitektur
    Selain mampu menenangkan bagi jiwa, kawasan Sendangsono juga sedap dipandang mata. Tata ruang dan bangunan kawasan ini cukup elok serta memperhatikan konsep keseimbangan alam. Bangunan artifisial karya manusia dipadukan dengan lansekap alam sehingga menciptakan harmoni yang indah. Hal ini tentu tak bisa lepas dari campur tangan Romo YB Mangunwijaya yang membidani lahirnya bangunan-bangunan di tempat ini. Sungai yang membelah kawasan peziarahan dibiarkan tetap mengalir sehingga mencipta suara gemericik nan merdu. Material pembangunan kompleks ini didominasi batu alam dan kayu sehingga kesannya sangat alami. Lantai pun dibuat berundak-undak sesuai dengan kontur bukit. Karena keindahan arsitekturnya, kawasan ini pun mendapatkan Aga Khan Awards. Jadi bagi kamu penyuka arsitektur, selain bisa berdoa di tempat ini kamu pun bisa belajar mengenai tata kelola kawasan dan bangunan.

Lokasi dan Akses Sendangsono

Gua Maria Sendangsono terletak di Dusun Semagung, Desa Banjaroya, Kecamatan Kalibawang, Kulonprogo. Dari Jogja tempat peziarahan ini berjarak sekitar 45 km atau sekitar 1 jam berkendara dengan motor. Namun jika kamu tau jalan tikus alias jalan pintas, tentu saja waktu yang kamu perlukan jauh lebih sedikit. Akses jalan menuju tempat ini terbilang mudah. Hanya saja sesampainya di pertigaan Sendangsono jalan berubah menjadi menanjak dan menyempit.

Ada beberapa rute yang bisa kamu tempuh untuk mencapai Sendangsono. Jika membawa kendaraan sendiri kamu bisa menempuh rute Tugu Jogja – Jalan Godean – Sentolo – Kalibawang – Desa Banjaroya – Sendangsono. Selain jalur tersebut kamu juga bisa menempuh rute Jalan Magelang – Pasar Muntilan – Kalibawang – Sendangsono. Atau jalur lain melalui daerah Cebongan, Sleman.

Selain dengan kendaraan pribadi, Sendangsono juga bisa dicapai dengan transportasi umum. Pilihan pertama adalah naik bus jurusan Jogja – Borobudur atau Jogja – Semarang dari terminal Jombor dan turun di Terminal Muntilan. Dari terminal kamu naik angkutan perdesaan atau minibus menuju Kalibawang dan turun di Pertigaan Bendo, kemudian dilanjutkan dengan naik ojek. Sedangkan pilihan kedua adalah naik bus jurusan Jogja – Kalibawang (lewat Jl. Godean), turun di perempatan Dekso kemudian disambung dengan angkutan menuju ke Muntilan atau Borobudur. Sesampainya di Pertigaan Bendo dilanjutkan dengan naik ojek.

Tempat Wisata dan Lokasi Asik di Sekitar Sendangsono

  • Puncak Suroloyo
    Suroloyo merupakan puncak tertinggi dari Perbukitan Menoreh yang membentang di selatan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Untuk mencapai puncak, kamu harus mendaki ratusan anak tangga yang sudah dibeton. Jika cuaca cerah, dari Puncak Suroloyo kamu bisa menikmati kemegahan Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro, dan Sumbing yang berdiri tegak laksana menara penjaga. Dari tempat ini pula kamu bisa menyaksikan Candi Borobudur yang terlihat sangat kecil. Sekali dalam setahun, di Puncak Suroloyo dilangsungkan acara adat jamasan pusaka.
  • Embung Banjaroya
    Terletak di jalan menuju Puncak Suroloyo, Embung Banjaroya menjadi jujugan wisata baru. Embung ini berupa waduk mini tadah hujan yang berfungsi sebagai sarana pengairan kebun monokultur durian Menoreh yang sudah tersohor kelezatannya. Meski fungsi utamanya sebagai sarana pengairan, Embung Banjaroya bisa menjadi salah satu alternatif wisata baru di kawasan Menoreh.
  • Air Terjun Sidoharjo
    Perbukitan Menoreh menyimpan banyak air terjun eksotik yang masih virgin dan belum banyak terjamah. Hal ini dikarenakan akses menuju air terjun biasanya cukup sulit. Salah satu air terjun cantik yang masih alami adalah air terjun atau Curug Sidoharjo. Dengan tinggi sekitar 75 meter, air terjun ini asyik untuk dikunjungi oleh kamu yang suka petualangan. Pastikan kamu berkunjung pada musim penghujan dimana debit air sangat deras dan bunga-bunga liar tumbuh subur di sekitar air terjun.
  • Kebun Teh Nglingo
    Tak harus jauh-jauh ke Tambi atau ke Puncak untuk bisa menikmati suasana kebun teh. Di Jogja pun, tepatnya di Desa Wisata Nglingo terdapat hamparan kebun teh yang lumayan luas. Berada pada ketinggian 900-1000 mdpl, kebun teh ini berhawa sejuk dan tentu saja pemandangan yang menawan. Usai berkunjung ke kebun teh kamu bisa mencicipi aneka kuliner unik yang dijajakan oleh warga desa. Jika ingin menginap, di tempat ini sudah tersedia homestay dengan harga yang relatif murah.
  • Candi Borobudur
    Dibangun sekitar abad ke-8, Candi Borobudur menjadi candi Budha termegah di dunia dan ditetapkan menjadi salah satu warisan budaya dunia oleh UNESCO. Bebatuan yang menyusun candi ini laksana puzzle raksasa yang saling terkait sehingga menjadi bangunan yang kokoh. Di Candi Borobudur kamu bisa melakukan laku pradaksina (mengelilingi candi searah jarum jam), menyaksikan relief-relief indah yang terpahat di dinding, mengunjungi Museum Samudraraksa dan Museum Karmawibangga, hingga naik gajah mengelilingi areal candi. Jika ingin menikmati kemegahan candi dalam suasana yang berbeda, kamu bisa datang pada saat matahari terbit maupun matahari terbenam.
Mengambil Air di Gua Maria Sendangsono
Sejumlah peziarah sedang mengambil air di Gua Maria Sendangsono, Yogyakarta. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)
Tempat Peristirahatan di Gua Maria Sendangsono
Tempat peristirahatan yang disediakan bagi peziarah di Gua Maria Sendangsono, Yogyakarta. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)
Gua Maria Sendangsono
Peziarah sedang berdoa di depan Gua Maria Sendangsono, Yogyakarta. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)
Peziarah Gua Maria Sendangsono
Peziarah sedang berdoa di depan Gua Maria Sendangsono. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)
Jembatan di Gua Maria Sendangsono
Jembatan di Gua Maria Sendangsono, Yogyakarta. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)
Beribadah di Kapel Maria Sendangsono
Warga setempat sedang bersiap ke Kapel Maria Sendangsono untuk mengikuti ibadah. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)
Kapel Maria di Gua Maria Sendangsono
Sejumlah warga sedang mengikuti ibadah di Kapel Maria Sendangsono, Yogyakarta. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)
Kapel Maria Sendangsono
Sejumlah warga sedang mengikuti ibadah di Kapel Maria Sendangsono, Yogyakarta. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)
Makan Barnabas Sarikromo di Sendangsono
Makam Barnabas Sarikromo. Beliau adalah katekis (pengajar agama profesional di dalam Gereja Katolik) pertama di Dusun Kejoran, Desa Semanggung, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta dan juga sebagai katekis pertama di Pulau Jawa. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)
Berdoa di Gua Maria Sendangsono
Peziarah sedang berdoa di depan Gua Maria Sendangsono, Yogyakarta. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)

 

TINGGALKAN KOMENTAR YUK!

Please enter your comment!
Please enter your name here