Malioboro, Tentang Rindu yang Menjadi Candu

Malioboro, Yogyakarta

Foto di Malioboro
Wisatawan sedang berfoto di salah satu papan nama Jalan Malioboro, Yogyakarta. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)

Melintang sepanjang 1 kilometer dari utara ke selatan, Malioboro laksana detak jantung yang membuat Jogja semakin bernyawa. Ruas jalan ini tidak hanya mengisahkan tentang rupiah demi rupiah yang dibelanjakan, namun terselip juga romantisme dan rindu yang syahdu.

Penyair Joko Pinurbo pernah berucap bahwa Jogja itu terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Namun sepertinya dia lupa, bahwa Jogja juga terbuat dari Malioboro. Seruas jalan yang terletak di pusat kota ini merupakan detak jantung dari perekonomian Jogja. Bahkan keberadaan kawasan ini juga telah dikenal oleh wisatawan dunia. Belum ke Jogja kalau belum ke Malioboro, begitu kata anak-anak sekarang.

Sejak jaman dulu Jalan Malioboro memiliki posisi penting di Yogyakarta. Bersama Jalan Pangeran Mangkubumi (Jl. Margomulyo) dan Jl A. Yani (Jl. Margo Mulyo), ketiga jalan yang melintang dari Tugu hingga Keraton Yogyakarta ini menjadi poros garis imajiner. Pada masa awal pemerintahan Sultan HB I, jalan ini hanya seruas jalan yang tidak terlalu lebar dengan pohon asam yang tumbuh rindang di kanan kirinya.

Seiring berjalannya waktu, jalan ini pun berkembang pesat. Apalagi setelah Belanda membatasi pergerakan dan tempat tinggal warga Tionghoa yang hanya boleh beraktivitas di kawasan utara Pasar Gede atau Pasar Beringharjo. Bersama-sama dengan etnis India dan Arab, mereka pun mulai membangun perekonomian. Hingga pada awal abad 19 kawasan ini mulai menjadi basis perekonomian menyaingi daerah Kotagede dan berlangsung hingga saat ini.

Keberadaan Stasiun Tugu di sebelah utara Malioboro menjadikan kawasan ini semakin strategis. Para pelancong yang turun di stasiun pada akhirnya akan singgah dan belanja di Malioboro. Di tempat ini kamu bisa belanja sepuasnya dengan harga miring. Bahkan jika kamu tidak memiliki cukup uang, kamu masih tetap bisa menikmati keriaan Malioboro. Berjalan kaki dari ujung hingga ujung, window shopping di mall, atau melihat karnaval dan parade yang sering dilakukan di sepanjang jalan ini bisa jadi pembunuh bosan.

Saat malam tiba, kawasan Malioboro akan semakin asyik. Suara ketipak andong yang beradu dengan decit klakson menjadi penanda bahwa di tempat ini masa lalu dan masa kini berdampingan dengan serasi. Menikmati malam di lesehan atau di angkringan sambil mendengarkan dendang pengamen jalanan akan membuat suasana makin syahdu. Tak heran jika akhirnya Katon Bagaskara mampu menciptakan lagu dengan lirik yang begitu melankolis “Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu”. Rasanya memang benar jika Malioboro itu adalah kepingan rindu yang lama-lama menjadi candu.

Jalan Malioboro Yogyakarta
Jalan Malioboro Yogyakarta. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)

Aktivitas Yang Bisa Dilakukan di Malioboro

  • Belanja / Window Shopping
    Malioboro merupakan surga belanja barang-barang unik dengan harga murah. Di sepanjang jalan ini kamu bisa menemukan apa pun yang kamu inginkan, mulai dari pernak-pernik, pakaian, sepatu, peralatan rumah tangga, jam tangan, dan lain-lain. Jika kamu datang dari luar kota dan ingin membeli oleh-oleh untuk kerabat di rumah, di Malioboro kamu bisa mendapatkan semuanya. Pastikan kamu membawa uang lebih sebelum belanja disini. Sebab seringkali kamu akan menemukan barang-barang lucu yang tidak masik dalam daftar belanja. Selain belanja di pedagang kaki lima, kamu juga bisa belanja barang-barang bermerk di gerai-gerai ternama yang ada di dalam Malioboro Mall.
  • Wisata Kuliner
    Selain sebagai surga belanja, Jalan Malioboro juga termasuk surga makanan. Di tempat ini kamu bisa menjumpai beragam makanan enak baik yang ada di dalam mall mau pun yang dijajakan di pinggir jalan. Jika kamu datang di pagi hari saat jalanan ini masih sepi, kamu bisa menjajal soto yang nikmat untuk sarapan. Di siang hari kamu bisa mencicipi aneka street food seperti lumpia legendaries di depan Toko Samijaya, kue bantal dan aneka roti di Toko Roti Djoen yang sudah berusia lebih dari setengah abad, pecel kembang turi di dekat Beringharjo, sate kere, dan masih banyak kuliner lezat lainnya.
  • Menonton Cabaret Show
    Mungkin keningmu akan sedikit berkerut tatkala mendengar bahwa di Malioboro kamu bisa menyaksikan pertunjukan cabaret, memangnya ada? Eits jangan salah, di Malioboro tepatnya di Oyot Godhong Café yang ada di lantai 3 Mirota Batik ada pertunjukan cabaret ini. Cukup merogoh kocek sekitar Rp 20.000 – Rp 30.000, kamu sudah bisa menyaksikan pertunjukan menarik seperti tarian dan nyanyian yang dilakukan oleh para lady boy. Pertunjukan cabaret di Cafe ini hanya dilangsungkan 2 kali dalam seminggu, yakni tiap hari Jumat dan Sabtu. Pertunjukan dimulai pada pukul 19.00 dan berakhir pukul 20.30 WIB.
  • Menyaksikan Pertunjukan Musik Calung
    Puluhan tahun yang lalu, Malioboro dikenal sebagai panggung jalanannya para musisi dan seniman. Hingga kini Malioboro tetap menjadi panggung dan galeri jalanan. Di sepanjang ruas jalan ini kerap terlihat instalasi seni karya seniman yang menarik perhatian. Selain itu, kini Maliboro semakin semarak dengan keberadaan grup calung. Menggunakan alat musik tradisional menyerupai kulintang, musisi jalanan ini akan menggelar konser tiap malam, khususnya di malam minggu dan musim liburan. Dengan iringan musik tradisional yang merdu, mereka akan mendendangkan puluhan lagu yang sedang populer, mulai dangdut hingga koplo. Terkadang mereka juga akan berkolaborasi dengan penari tradisional sehingga tercipta pertunjukan yang indah. Kamu pun bisa turut berdendang dan bergoyang bersama. Sebagai bentuk apresiasimu, jangan lupa masukkan uang seikhlasmu ke dalam kotak yang telah disediakan.
  • Selfie di Ikon Malioboro
    Sepanjang Jalan Malioboro merupakan tempat yang asyik digunakan untuk berfoto, baik hunting foto untuk keperluan resmi atau sekadar selfie. Di ruas jalan ini terdapat banyak instalasi seni yang menarik untuk diabadikan dalam gambar. Instalasi seni tersebut berganti-ganti tergantung pada acara yang sedang berlangsung. Nah sebagai bukti resmi jika sudah menjejak di Malioboro, biasanya wisatawan akan berfoto di ujung Jalan Malioboro di bawah papan nama jalan yang ditulis dalam huruf latin dan huruf jawa. Pada hari libur atau akhir pekan, spot ini biasanya sangat penuh dan kamu harus antri untuk bisa foto disini. Jika tidak ingin antri datanglah di pagi hari atau malam di atas pukul 22.00 WIB.
  • Mengunjungi Perpustakaan (Jogja Library Center)
    Tak banyak orang yang tahu bahwa di tengah keramaian Jalan Malioboro terdapat perpustakaan yang bernama Jogja Library Center. Perpustakaan ini memang seolah terasing di tengah keramaian. Padahal jika kamu sejenak meluangkan waktu singgah ke perpustakaan ini, kamu akan menemukan koleksi yang sangat menarik seperti koleksi surat kabar, majalah, dan buku-buku tentang Jogja. Khusus koleksi surat kabar, kamu bisa menemukan koleksi Koran Kedaulatan Rakyat dari edisi perdana (27 September 1945) hingga edisi terbaru. Selain itu kamu juga bisa singgah ke Kyoto Center yang memiliki koleksi buku-buku berhasa Jepang.

Lokasi dan Akses Menuju Malioboro

Jalan Malioboro terletak tepat di jantung Kota Yogyakarta, melintang dari utara ke Selatan. Beberapa angkutan umum yang melayani rute hingga Malioboro adalah bus kota jalur 7, jalur 4, dan bus TransJogja jalur 1A, 2 A, dan 3A. Kamu juga bisa mencapai Malioboro dengan naik taksi, ojek, andong, juga becak. Jika kamu ke Jogja menggunakan kereta dan turun di Stasiun Tugu, kamu bisa mencapai kawasan Malioboro dengan berjalan kaki.

Jam Buka Toko di Sekitar Malioboro

Sebagai salah satu jalan utama di Kota Jogja, ruas jalan Malioboro ramai dipenuhi orang setiap harinya. Toko-toko di kawasan ini rata-rata buka mulai pukul 9 pagi hingga 9 atau 10 malam. Di bawah jam 9 pagi atau di atas jam 10 malam Kawasan Malioboro biasanya terlihat lebih lengang.

Tips Berwisata ke Malioboro

  • Jika kamu tidak suka berdesak-desakan, hindarilah Malioboro di akhir pekan alias Sabtu – Minggu dan musim liburan. Pada hari tersebut biasanya Malioboro akan dipenuhi lautan manusia sehingga kamu tidak bisa belanja dengan leluasa.
  • Jika ingin makan di kawasan Malioboro, pilihlah warung lesehan yang memiliki daftar harga di buku menu. Hal ini untuk menghindari terjadinya tindak kecurangan oleh penjual. Atau pilihlah untuk makan di gerai-gerai makanan cepat saji.
  • Jagalah dompet dan barang berhargamu. Jika kamu memasukkannya ke dalam tas atau ransel, ada baiknya ransel itu kamu dekap di dada dan tidak digendong di punggung. Kita tidak akan pernah tau bahwa mas-mas ganteng atau mbak-mbak cantik yang berdiri di belakang kita copet atau bukan. Karena itu sebaiknya kamu harus selalu waspada.
  • Nyaris semua pedagang kaki lima di trotoar Malioboro tidak memberikan daftar harga untuk barang jualannya. Karena itu jika kamu ingin berbelanja, sebaiknya kamu menawar barang yang kamu inginkan. Tawarlah sewajarnya dan jangan kelewatan.
  • Untuk mendapatkan harga termurah, sebaiknya kamu berkeliling dulu sebelum membelinya. Bandingkan harga di masing-masing penjual. Setelah menemukan harga termurah, baru lakukan transaksi jual beli di tempat tersebut.

Penginapan dan Hotel di Sekitar Malioboro

Sebagai kawasan wisata, di sepanjang Jalan Malioboro terdapat banyak penginapan baik untuk backpacker berkantong cekak hingga wisatawan berkantong tebal. Hotel berbintang yang ada di sekitar Malioboro antara lain Inna Garuda Hotel, Hotel Ibis, Melia Purosani, dan masih banyak lagi. Sedangkan jika ingin mencari penginapan atau hotel dengan harga murah di sekitar Malioboro namun kondisi dan fasilitasnya tidak murahan kamu bisa menyusuri kawasan Sosrowijayan atau kawasan Sosrokusuman yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Lokasi Menarik di Sekitar Malioboro

  • Pasar Beringharjo
    Pasar yang dulunya bernama Pasar Gede ini menjadi jujugan utama jika kamu ingin mencari batik dengan harga miring. Selain batik, di pasar ini kamu juga bisa belanja pernak-pernik yang unik hingga barang-barang jadul nan antik. Sedangkan bagi pecinta kuliner, kamu bisa mencoba aneka makanan yang dijajakan di pasar ini seperti pecel, sate kere, soto legendaris, dan masih banyak lagi.
  • Gedung Agung
    Bangunan yang terletak tepat di depan Benteng Vredeburg ini dulunya merupakan tempat tinggal residen Belanda dan kini beralihfungsi menjadi istana negara. Wisatawan tidak boleh masuk ke istana ini kecuali jika sedang ada acara open house. Tiap tanggal 17 Agustus di halaman Gedung Agung selalu ada parade yang meriah.
  • Benteng Vredeburg
    Benteng pertahanan berbentuk segi 4 dengan bastion di ujungnya ini merupakan salah satu sisa peninggalan Belanda. Selain bisa menikmati kemegahan bagunannya, kamu juga bisa mengunjungi museum yang ada di dalam kompleks benteng. Museum tersebut memiliki koleksi menarik tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam rangka merebut kemerdekaan. Pepohonan rindang dan taman yang asri menjadikan kawasan Museum Benteng Vredeburg ini asyik dijadikan tempat bersantai.
  • Keraton Yogyakarta
    Hingga saat ini Keraton Yogyakarta masih ditinggali oleh raja beserta keluarganya. Di Keraton kamu bisa menyaksikan arsitektur bangunan yang megah, aneka museum dengan koleksinya yang menarik, serta bercengkerama dengan para abdi dalem. Pada saat-saat tertentu, kamu juga bisa mengikuti uparaca adat yang digelar secara rutin oleh pihak Keraton seperti Grebeg Sekaten dan Miyos Gongso.
  • Pusat Bakpia Pathok
    Di sebelah barat Malioboro terdapat pusat pembuatan dan penjualan oleh-oleh khas Jogja, Bakpia. Di Kampung Pathok ini kamu bisa menemukan puluhan toko oleh-oleh. Jika kamu suka mblusuk, kamu bisa masuk ke gang-gang kecil dan membeli bakpia di warung-warung rumahan. Selain harganya lebih murah, kamu juga bisa melihat proses pembuatannya. Soal rasa dijamin tidak kalah dengan bakpia yang dijual di toko besar.
Bangunan Cagar Budaya Malioboro
Sebuah delman sedang melintas di salah satu bangunan cagar budaya Jalan Malioboro, Yogyakarta. (Hendra Nurdiyansyah/Maioloo.com)
Foto di Malioboro Jogja
Wisatawan sedang berfoto di Jalan Malioboro, Yogyakarta. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)
Salah Karya Seni di Malioboro
Salah satu karya seni yang dipajang di Jalan Malioboro, Yogyakarta. (Hendra Nurdiyansyah/Maioloo.com)
Karya Seni di Jalan Malioboro
Salah satu karya seni yang dipajang di Jalan Malioboro, Yogyakarta. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)
Berbelanja di Malioboro
Pedagang di Malioboro, Yogyakarta. (Hendra Nurdiyansyah/Maioloo.com)
Andong Malioboro Jogja
Andong di Malioboro. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)
Kawasan Wisata Dagen, Yogyakarta
Gapura Kawasan Wisata Dagen. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)
Pertunjukan Musik Calung di Malioboro
Pertunjukan musik calung di Malioboro. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)

TINGGALKAN KOMENTAR YUK!

Please enter your comment!
Please enter your name here