Gua Rancang Kencono, Kisah Bersejarah Dari Dalam Tanah

Dusun Menggoran, Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta

Gua Rancang Kencono
Wisatawan sedang mengeksplorasi bagian dasar Gua Rancang Kencono, tempat berdirinya pohon klumpit. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)

Tersembunyi di bawah tanah bukan berarti tak memiliki kisah. Gua Rancang Kencono yang ada Desa Wisata Bleberan justru kaya akan cerita, mulai dari jaman prasejarah hingga menjadi saksi bisu perjuangan Laskar Mataram. Tak hanya itu, dari balik perut bumi ini tumbuh pohon klumpit yang kini sudah berusia ratusan tahun.

Berada di Kawasan Karst Pegunungan Sewu menjadikan Kabupaten Gunungkidul kaya dengan gua-gua bawah tanah. Gua-gua tersebut memiliki tipe yang beragam, baik gua basah (gua yang dialiri sungai di dalamnya) maupun gua kering. Sejak zaman dahulu, beberapa dari gua-gua tersebut sudah ditemukan oleh warga dan dijadikan lokasi pertapaan maupun persembunyian dari kejaran musuh. Salah satunya adalah Gua Rancang Kencono yang terletak di Desa Wisata Bleberan.

Berbekal rasa penasaran akan kisah yang tersembunyi di balik relung gua, saya pun mendatangi Gua Rancang Kencono pada suatu pagi nan cerah. Matahari belum terlalu tinggi saat saya tiba di kawasan gua yang ditumbuhi banyak pohon jati. Tak ada pemadangan yang terlihat menonjol, kawasan tersebut hanya serupa camping ground dan ladang penduduk. Dengan dipandu warga lokal, saya pun diarahkan menuju pohon yang berukuran besar.

Ternyata pohon tersebut adalah pohon klumpit raksasa yang sudah berusia ratusan tahun. Berawal dari sebutir benih yang jatuh ke tanah, pohon itu terus tumbuh tinggi dan tinggi, hingga usianya lebih dari dua abad. Pohon klumpit ini seolah memayungi kawasan sekitar gua. Namun bukan hanya usia pohon yang menarik perhatian, lokasi tumbuhnya pohon tersebut juga tak kalah menarik. Jadi pohon yang memiliki nama latin Terminalia edulis ini tumbuh di dasar gua yang berukuran cukup luas menyerupai sebuah hall tenis. Untuk sampai di dasar gua ini, saya cukup berjalan kaki menuruni anak tangga batu yang sudah ada sejak jaman dulu. Pohon klumpit ini terus tumbuh hingga melampaui atap gua yang berupa lubang besar, bahkan terus tinggi melampaui pohon-pohon lain yang tumbuh di tanah bagian atas.

Gua Rancang Kencono memang cukup unik. Seperti yang sudah saya sebutkan di awal, untuk masuk ke gua ini wisatawan berjalan kaki menuruni anak tangga. Sesampainya di bawah saya disambut dengan tanah lapang luas yang ditumbuhi pohon klumpit. Pada waktu-waktu tertentu, ruang gua yang luas ini dijadikan lokasi kenduri warga kampung. Bahkan katanya tempat ini juga bisa dijadikan lokasi main bulutangkis maupun permainan lainnya.

Gua Rancang Kencono
Seorang wisatawan Gua Rancang Kencono sedang melihat ke dasar gua. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)

Menurut buku terbitan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta, Gua Rancang Kencono ini merupakan gua purba yang seumuran dengan Gua Braholo di daerah Rongkop, Gunungkidul. Hal ini dibuktikan dengan berbagai penemuan arkeologis berupa artefak batu dan tulang. Sedangkan nama Rancang Kencono yang disematkan pada gua ini berdasarkan pada fungsinya yang pernah menjadi lokasi persembunyian dan pertemuan Laskar Mataram saat menyusun rencana untuk mengusir Belanda dari Yogyakarta. Jadi Gua Rancang Kencono berarti tempat yang digunakan untuk menyusun strategi demi tujuan yang mulia.

Kisah tentang gua sebagai tempat menyusun strategi perang ini bukanlah omong kosong belaka, namun memang ada bukti nyatanya. Selepas dari ruang pertama yang berupa aula luas, saya diajak untuk masuk semakin dalam ke ruang yang jauh lebih kecil dan gelap. Di ruangan tersebut teronggok beberapa artefak kuno berupa nandi (arca sapi) dan arca singat yang bentuknya sudah tidak begitu jelas. Selain itu ada juga batu berbentuk kotak yang konon digunakan sebagai meja persembahan.

Sebagai gua purba yang sudah dimasuki manusia sejak ratusan tahun lalu, kondisi ornamen gua tidak sebagus gua-gua perawan yang jarang terjamah tangan manusia. Kebanyakan stalaktit dan stalagmit yang ada di gua ini sudah mati alias berhenti bertumbuh. Jika ada yang masih hidup dan meneteskan air itu tinggal sebagian kecil. Meski begitu aroma yang menguar dari Gua Rancang Kencono ini sama dengan gua-gua lainnya, pengap dan lembab.

Dari ruangan yang kedua, saya diajak untuk masuk ke ruangan yang ketiga yakni ruang gelap sempurna. Ruangan ini serupa bilik batu yang berukuran sangat kecil. Hanya cukup dimasuki beberapa orang. Pintu masuknya pun sangat sempit, yakni berupa celah batu. Jika badanmu besar, dijamin kamu pasti nyangkut dan tidak bisa masuk. Saya sendiri harus berjalan menyamping supaya bisa melewati celah batu ini dengan aman.

Berada di dalam ruangan yang sempit dan gelap ini memberikan sensasi sendiri. Kadar oksigen yang sangat tipis dan kondisi gua yang lembab menjadikan suasana sangat pengap dan panas. Nafas pun sedikit terengah-engah. Ditemani cahaya lampu senter, saya diajak untuk mengamati dinding gua tersebut. Ternyata ada lukisan dan prasasti yang dibuat oleh tangan manusia. Dengan tinta hitam, merah, dan kuning, tergambarlah siluet burung garuda berlatar gunungan wayang. Selain itu di sebelahnya terdapat prasasti berjudul “Prasetya Bhinekaku”. Prasasti tersebut berisikan doa bagi itu pertiwi serta kalimat kesetiaan untuk berbakti pada negeri yang terbagi menjadi 12 poin.

Berhubung kondisi di bilik kecil itu semakin pengap, saya pun memutuskan untuk bergegas keluar. Begitu sudah kembali ke aula saya hirup udara segar dalam-dalam, fiuuuuh. Rupanya petualangan tidak berakhir disini, pemandu kembali mengajak saya untuk masuk ke lorong gua yang lain yang tidak pernah dimasuki wisatawan. “Khusus untuk mbak saya ajak kesini,” katanya. Untuk masuk ke lorong tersebut kami harus jongkok dan sedikit merangkak karena atas gua sangat pendek. Menurut kisah yang beredar di masyarakat, lorong tersebut akan berujung di kawasan air terjun Sri Gethuk. Namun hingga kini belum pernah ada yang membuktikan kebenaran hal tersebut. Saya sendiri hanya masuk sekitar 7 atau 10 meter lantas berbalik kembali. Udaranya terlalu pengap.

Gua Rancang Kencono
Ornamen Gua Rancang Kencono yang sudah mati. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)

Lokasi dan Akses Menuju Gua Rancang Kencono

Gua Rancang Kencono terletak di Dusun Menggoran, Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari Yogyakarta, wisata alam yang dikelola oleh masyarakat desa ini bisa ditempuh sekitar 1,5 – 2 jam perjalanan. Akses jalan menuju Gua Rancang Kencono sudah baik. Silahkan ikuti rute Jalan Wonosari – Piyungan – Bukit Bintang – Pertigaan Gading belok kanan – Playen – Desa Bleberan. Meski belum pernah mengunjungi tempat ini kamu tak perlu khawatir tersesat, sebab sudah banyak penunjuk arah yang terpampang di pinggir jalan. Yang perlu kamu lakukan adalah mengamati dengan jeli. Jika bingung kamu bisa bertanya kepada penduduk sekitar. Sedangkan jika ingin lebih mudah, kamu bisa memakai fasilitas google map maupun waze.

Retribusi Gua Rancang Kencono

Tiket masuk Gua Rancang Kencono sebesar Rp 10.000 per orang sudah termasuk tiket terusan dengan Air Terjun Sri Gethuk.

Obyek Wisata dan Lokasi Asyik di Sekitar Gua Rancang Kencono

  • Air Terjun Sri Gethuk
    Tak jauh dari Gua Rancang Kencono terdapat aliran Sungai Oya yang bermuara di pesisir selatan Bantul. Di salah satu sisi sungai tersebut terdapat aliran Air Terjun Sri Gethuk yang juga dikenal dengan nama Air Terjun Slempret atau Sompret. Meski terletak di kawasan karst yang tandus, Air Terjun Sri Gethuk selalu mengalir tanpa mengenal musim. Ada beragam aktivitas yang bisa kamu lakukan di kawasan air terjun ini seperti cliff jumping, body rafting, river tubing, hingga canyoning.
  • Puncak Tri Panjung
    Tepat di seberang Air Terjun Sri Gethuk dan dipisahkan oleh aliran Sungai Oya terdapat perbukitan yang bernama Tri Panjung. Dari bukit yang memiliki 3 puncak ini kamu bisa menyaksikan aliran beberapa air terjun yang menuruni tebing. Walaupun lokasinya dekat dari Desa Bleberan, kamu tidak bisa mengakses tempat ini dari Sri Gethuk, melainkan harus melewati jalan memutar. Jika Sri Gethuk masuk dalam kawasan Gunungkidul, maka tempat yang mulai populer sejak dipakai untuk syuting film Hollywood Beyond Skyline ini masuk dalam wilayah Kabupaten Bantul.
Gua Rancang Kencono
Wisatawan Gua Rancang Kencono. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR YUK!

Please enter your comment!
Please enter your name here