Gereja Ganjuran, Kontemplasi dan Perjalanan Pemulihan Hati

Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul

Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran
Bangunan Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)

Terletak di selatan Yogyakarta, Gereja Ganjuran menjadi oase batin yang menyejukkan jiwa. Kompleks gerejanya yang teduh dan dilengkapi dengan Candi Hati Kudus Yesus menjadi tempat yang syahdu untuk berkontemplasi sekaligus memulihkan hati. Kamu juga bisa mengikuti ibadah di bawah taburan gemintang dan iringan gamelan.

Malam semakin menua tatkala saya dan beberapa kawan membelah jalanan Jogja yang mulai sepi, lantas melaju menuju selatan. Kali ini bukan Pantai Parangtritis yang menjadi tujuan, melainkan sebuah tempat yang selalu menawarkan kedamaian tiap kali gundah melanda, yakni Gereja Ganjuran. Meskipun saya percaya bahwa Tuhan bisa dijumpai di mana pun, tapi entah mengapa saya selalu merasa jauh lebih tenang dan damai tiap kali berada di Ganjuran. Di tempat ini saya bisa mengadu kepada Tuhan sepuasnya, menyampaikan segala keluh kesah, dan sesudahnya selalu merasa lebih lega.

Tak hanya bagi saya, kawan-kawan yang lain pun merasakan hal yang sama. Kompleks gereja dengan balutan tradisi Jawa nan kental ini selalu berhasil memulihkan lara, memulihkan hati dan jiwa yang terluka. Makanya tak heran jika Gereja Ganjuran selalu menjadi tujuan orang-orang yang ingin berdoa, berkontemplasi, atau sekedar duduk-duduk di pendopo menikmat suasananya yang tenang. Bahkan di kalangan anak-anak IKMK (Ikatan Keluarga Mahasiswa Katholik) maupun PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen) di Jogja, tempat ini termasuk salah satu lokasi favorit untuk melakukan pendekatan hingga menyatakan cinta. Standar operasinya sih biasa dimulai dengan mengajak berdoa atau misa bareng, lama-lama akhirnya saling mendoakan satu sama lain #ahay.

Gereja Ganjuran memang tempat yang teduh dan menenangkan, baik bagi tubuh maupun bagi jiwa. Deretan pepohonan yang berdiri rimbun di halaman gereja menjadikan suasana begitu sejuk dan teduh. Bangunannya yang berbentuk pendopo terbuka dengan pilar-pilar berwarna hijau dan altar dengan nuansa Jawa yang kental menjadikan tempat ini begitu menyatu dengan sekitar. Di tempat ini kamu akan merasakan suasana gereja yang begitu melebur dengan sekitar, gereja yang tanpa sekat dan tanpa batasan. Konsep pendopo terbuka ini menegaskan bahwa gereja siap menyambut siapa pun yang datang dengan tangan terbuka, tak peduli suku bangsamu, tak peduli derajat sosialmu, tak peduli agamamu.

Sebelum menjadi seperti saat ini, Gereja Ganjuran telah melewati perjalanan dan rangkaian kisah yang panjang. Kompleks gereja ini dibangun mulai tahun 1924 oleh prakarsa dua bersaudara keturunan Belanda, Joseph Ignaz Julius Maria Schmutzer dan Julius Robert Anton Maria Schmutzer. Mereka bukanlah misionaris atau agamawan, melainkan pengelola pabrik gula Gondanglipuro. Gereja Ganjuran dibangun dengan memadukan unsur budaya Jawa dan Eropa. Selain gereja, mereka juga mendirikan rumah sakit serta sekolah.

Dari tahun ke tahun Gereja Ganjuran pun mengalami beberapa kali pemugaran. Pada Mei 2006, Gereja Ganjuran hancur lebur akibat gempa bumi. Akhirnya gereja dibangun ulang dan menjadi seperti saat ini. Pendopo gereja dikerjaan langsung oleh pihak Keraton Yogyakarta. Bahkan mereka mendatangkan pemahat khusus supaya mendapatkan hasil yang mirip dengan keraton. Atap gereja yang berbentuk tajug dihiasi dengan salib besar. Altar dihiasi dengan relief Yesus Sang Raja yang duduk di singgasana serta Bunda Maria yang sedang memangku bayi Yesus, semuanya mengenakan kostum dan mahkota jawa, berbeda dengan patung-patung yang selama ini ada.

Suasana Gereja Ganjuran
Altar Gereja Ganjuran, Bantul, Yogyakarta. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)

Candi Hati Kudus Yesus  di Gereja Ganjuran

Selain bangunan gereja yang megah, di kompleks ini terdapat sebuah candi yang bernama Candi Hati Kudus Yesus. Candi yang diangun pada tahun 1927 ini sebagai perwujudan rasa syukur Schmutzer bersaudara atas keberhasilan mengelola pabrik gula. Seperti candi-candi pada umumnya, candi ini juga berhuaskan relief bunga teratai dan memiliki relung. Jika di relung candi terdapat patung budha atau arca lingga yoni, maka di relung Candi Hati Kudus Yesus terdapat patung Yesus mengenakan pakaian adat Jawa, dengan rambut menyerupai pendeta Hindu, dan sebuah mahkota di kepalanya.

Halaman depan candi merupakan tempat favorit untuk berdoa. Di bawah naungan pucuk-pucuk pinus, kamu bisa berkontemplasi di atas kursi kecil sambil menatap Yesus Sang Raja di depan. Halaman yang luas ini juga menjadi lokasi misa bulanan dan Prosesi Agung Sakramen Maha Kudus. Mengikuti misa malam hari di tempat terbuka beratapkan langit dan diiringi dengan alunan gamelan akan menjadi pengalaman spiritual yang baru dan tak kan pernah terlupakan.

Di kompleks Gereja Ganjuran kamu juga bisa melakukan prosesi jalan salib. Pada masing-masing stasi atau pemberhentian terdapat relief yang lekat dengan tradisi Jawa. Biasanya jalan salib akan diakhiri dengan berdoa di depan candi. Seusai berdoa, kamu pun bisa mengambil air suci tirta perwitasari yang dialirkan melalui kran-kran di samping kiri candi. Beberapa peziarah kerap mengambil air suci dan memasukkannya ke dalam botol atau jerigen kecil kemudian membawanya pulang setelah didoakan.

Misa di Gereja Ganjuran
Perayaan misa di Gereja Ganjuran, Bantul, Yogyakarta. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)

Lokasi dan Akses Menuju Gereja Ganjuran

Kompleks Gereja Ganjuran terletak di Desa Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, sekitar 20 km arah selatan Yogyakarta. Dari pusat kota gudeg, daerah ini bisa dicapai menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Ada dua pilihan rute untuk mencapai tempat ini, yakni lewat Jalan Bantul serta Jalan Parangtritis. Rute pertama yakni Jogja (Pojok Beteng Barat/Kulon – Dongkelan – Jalan Bantul – Bantul – Bambanglipuro – Pertigaan Ganjuran belok kiri. Dari Pojok Beteng kamu harus naik bus kota jurusan Jogja – Samas dan turun di pertigaan Ganjuran. Dari situ kamu bisa melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki sekitar 1 km ke arah timur. Sedangkan rute kedua adalah Jogja (Pojok Beteng Timur/Wetan) – Jalan Parangtritis – Pertigaan Ganjuran (plang RS St. Elizabeth Ganjuran) belok kanan. Jika tidak membawa kendaraan sendiri kamu bisa naik bis jurusan Jogja – Parangtritis, turun di pertigaan lantas melanjutkan dengan berjalan kaki atau naik ojek sekitar 2 km ke arah barat.

Jadwal Misa Gereja Ganjuran

  • Misa Harian
    Senin – Rabu pukul 05.30 WIB, bahasa Indonesia, bertempat di gereja.
    Kamis – Sabtu pukul 05.30 WIB, bahasa Jawa, bertempat di gereja.
  • Misa Mingguan
    Sabtu pukul 16.00 WIB, bahasa Jawa, bertempat di gereja.
    Sabtu pukul 18.00 WIB, bahasa Indonesia, bertempat di gereja.
    Minggu pukul 07.00 WIB, bahasa Jawa, bertempat di gereja.
    Minggu pukul 16.00 WIB, bahasa Indonesia, bertempat di gereja.
  • Misa Bulanan
    Tiap malam jumat pertama (kamis malam) pukul 19.00 WIB, menggunakan bahasa Jawa dengan iringan gamelan dan dilangsungkan di halaman candi.
  • Misa Prosesi Agung Sakramen Maha Kudus
    Tiap minggu terakhir di bulan Juni, dilangsungkan pukul 07.00 WIB menggunakan bahasa Jawa dengan iringan gamelan dan dilangsungkan di halaman candi.

Selain jadwal rutin tersebut, di Gereja Ganjuran juga dilangsungkan misa natal, misa paskah, dan misa perayaan hari besar lainnya. Untuk mengetahui jadwal misa atau menanyakan informasi lainnya, kamu bisa menghubungi pasturan pada nomor (0274) 367154.

Tips Berkunjung ke Gereja Ganjuran

Meskipun merupakan tempat peribadatan umat Katholik, Gereja Ganjuran biasa dikunjungi oleh siapa pun. Kamu bolah datang ke gereja ini sewaktu-waktu baik untuk beribadah maupun melakukan kontemplasi. Namun kamu juga wajib mematuhi berbagai peraturan yang berlaku. Berikut ini hal-hal yang boleh dan tidak boleh kamu lakukan di Ganjuran.

  • Kenakanlah pakaian yang sopan saat berkunjung ke tempat ini, terlebih saat mengikuti misa.
  • Pengunjung dilarang makan dan minum di dalam gereja.
  • Ponsel harap di-silent selama berada di kompleks bangunan supaya tidak mengganggu ketenangan umat yang sedang beribadah.
  • Jika ingin mengikuti misa bulanan datanglah lebih pagi supaya mendapatkan posisi yang enak. Misa bulanan biasa diikuti ribuan umat dari berbagai kota, jika kamu datang terlambat kamu bisa mendapatkan tempat yang tidak nyaman.
  • Pengunjung dilarang naik ke atas candi jika sedang ada misa di halaman candi.
  • Selama berada di kompleks gereja siapa pun wajib menjaga ketenangan, jadi tidak diperkenankan untuk bicara terlalu keras atau tertawa terlalu kencang.
Patung Bunda Maria di Gereja Ganjuran
Patung Dyah Maria Iboe Ganjuran. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)
Sang Maha Prabu Jesus Kritus Pangeran Ing Para Bangsa
Sang Maha Prabu Jesus Kritus Pangeran Ing Para Bangsa. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)
Perayaan Misa di Gereja Ganjuran, Bantul
Perayaan misa di Gereja Ganjuran, Bantul, Yogyakarta. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)
Jalan Salib di Gereja Ganjuran
Sejumlah para peziarah sedang melakukan Jalan Salib di Gereja Ganjuran. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)
Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran
Candi Hati Kudus Tuhan Yesus di Gereja Ganjuran. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)
Berdoa di Gereja Ganjuran
Parapeziarah sedang berdoa di depan Candi Hati Kudus Tuhan Yesus, Ganjuran. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)

TINGGALKAN KOMENTAR YUK!

Please enter your comment!
Please enter your name here