Wisata Lembah Alam Posong, Menikmati Alam Temanggung dalam Secangkir Kopi

Dusun Tlahap, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah

Wisata Alam Lembah Posong, Kledung, Temanggung
Panorama di kawasan Wisata Alam Lembah Posong, Temanggung, dengan latar matahari terbit di sisi Gunung Sindoro. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Berada diantara apitan dua gunung kembar, Wisata Alam Lembah Posong yang berada di Kabupaten Temanggung merupakan salah satu tempat paling mempesona di Jawa Tengah. Dataran tinggi yang berada di kaki Gunung Sindoro dan Sumbing ini menyajikan hamparan hijau perkebunan tembakau dan juga kopi. Tak hanya itu, rona sunrise-nya pun sangat memanjakan mata.

Pagi belum juga sempurna. Hawa dingin pegunungan sedikit membuat tubuh melingkar sambil sedikit bergetar. Saat itu, alarm ponsel berdering tepat pukul empat pagi. Saya pun dengan segera mematikan berisik bunyi alarm tersebut, lalu kembali memejamkan mata barang untuk sejenak. Saya berkata dalam batin, ‘sepuluh menit lagi lah ya’.

Tak berselang lama, kumandang adzan subuh terdengar lantang membahana. Saya pun terbangun seketika dari mimpi indah di balik selimut. Sesegera mungkin badan ini bangkit untuk bersuci dan melaksanakan ibadah subuh. Saat itu saya tengah menumpang bermalam di kediaman Pak Tuhar, salah satu petani kopi di kawasan Wisata Alam Lembah Posong dan juga tokoh masyarakat yang cukup dikenal oleh warga desa setempat.

Seusai ibadah subuh, segeralah saya berkemas dan menghaturkan pamit kepada sang tuan rumah. Tujuan saya pagi itu bukanlah untuk pulang kemabli ke rumah, melainkan untuk menyaksikan pagelaran matahari terbit di kawasan Wisata Alam Lembah Posong yang berada di Dusun Tlahap, Kecamatan Kledung. Yap, pagi-pagi benar saya berangkat, sesuai saran yang diberikan oleh Pak Tuhar agar tidak ketinggalan momen ‘golden sunrise’ katanya. Saya pun mengiyakan dan segera melangkah naik.

Sepanjang perjalanan, suasana masih dominan gelap. Walaupun begitu, mata ini tetap dapat melihat hamparan ladang tembakau yang cukup dominan sepanjang kanan kiri jalan. Saya bergumam dalam hati, di tanah dengan ketinggian setinggi ini pasti sangat bagus jika ditanami pohon kopi dengan tembakau sebagai tanaman penaungnya.

Wisata Alam Posong, Kledung, Temanggung.
Siluet wisatawan yang tengah menikmati panorama matahari terbit di kawasan Wisata Alam Lembah Posong, Temanggung. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Sesampainya di tempat tujuan, rona mentari mulai menampakan dirinya dengan sedikit malu-malu dari balik garis cakrawala. Gradasi warna langit pun perlahan mulai berubah memerah, merekah kental. Rona jingga nan cantik pun mucul di ufuk timur. Tak lama, pendar cahaya sang surya pun mulai menerpa semesta. Kawasan Wisata Alam Lembah Posong pun beranjak terang menguning. Daun-daun tembakau di ladang pun bermandikan cahaya pagi.

Dari kejauhan terlihat tujuh puncak gunung di Jawa Tengah yang berdiri menjulang secara berdampingan, serasa tengah berada di negeri diatas awan seperti dalam dongeng. Puncak-puncak gunung tersebut antara lain puncak Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Ungaran, Gunung Telomoyo, dan Gunung Muria. Jari telunjuk saya tak henti-hentinya menekan tombol shutter kamera untuk mengabadikan momen mempesona kala itu.

Baca juga: Gunung Merapi, Menggapai Puncak Gunung Paling Aktif di Indonesia

Sebelum matahari beranjak makin tinggi, segera saya melangkah kembali turun sedikit ke bawah untuk mencari kebun kopi milik Pak Tuhar yang katanya berada di tengah-tengah ladang tembakau.  Benar saja, tak jauh dari sunrise spot di kawasan Wisata Alam Lembah Posong, saya menemukan kebun kopi sesuai seperti yang diceritakan oleh Pak Tuhar sebelumnya. Pohon-pohon kopi tumbuh berjajar di tengah ladang tembakau. Ditengah-tengahnya sudah tampak beberapa pemetik kopi bertopi caping kerucut yang sudah sibuk mengawali hari dengan memetik buah merah kopi dari tangkainya.

Kopi Lembah Alam Posong
Para pemetik kopi di kawasan Wisata Alam Lembah Posong, Temanggung, dengan latar Gunung Sumbing. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Kopi Lembah Alam Posong
Suasana panen raya petik merah buah kopi arabika di kawasan Wisata Alam Lembah Posong, Temanggung. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Saya pun mendekati mereka para pemetik kopi itu, dalam hati beniat untuk mengajak berbincang sejenak. Mengetahui saya menghampiri mereka, senyum hangat langsung terpancar menyambut kedatangan saya. Keramahan khas masyarakat pedesaan langsung terasa saat hendak mengawali perbincangan. “Monggo mas…”, sapa mereka pada saya. Kemudian saya pun membalas, dan pembicaraan ringan seputar kopi Posong pun terjalin. Dari ngobrol singkat dengan para pemetik kopi itu, baru saya tahu bahwa ternyata belum lama juga petani setempat (termasuk Pak Tuhar) mulai menanam kopi di kawasan Wisata Alam Lembah Posong ini. Menurut pengakuan para pemetik kopi tadi, tercatat baru sejak 2011 kopi mulai ditanam di kawasan Wisata Lembah Alam Posong, Temanggung ini.

Menurut rekam jejaknya, sudah sejak lama Temanggung dikenal sebagai salah satu daerah penghasil utama komoditas tembakau bagi industri rokok tanah air. Letak geografisnya yang berada di lereng gunung menjadikan tanahnya amat subur. Tak terkecuali dengan tanaman kopi. Yang saya ingat, seorang kawan saya yang berporfesi sebagai barista di salah satu coffe shop ternama di Kota Pelajar pernah mengatakan bahwa kualitas biji kopi akan semakin baik bila ditanam di dataran yang semakin tinggi ketinggiannya.

Hal tersebut pun diiyakan oleh Pak Tuhar sendiri. Sebagai salah satu petani yang mempelopori penanaman kopi di kawasan Wisata Alam Lembah Posong, Bapak dua anak tersebut sangat merasakan betapa manisnya hasil komoditi kopi yang ditanam dan diolahnya sendiri.

Seiring berjalannya waktu karena komoditi kopi memiliki nilai jual yang cukup baik dan permintaan pasar kian lama kian naik, perlahan hampir seluruh petani di daerah sekitar Wisata Alam Lembah Posong mulai menanam kopi sebagai komoditi substitusi, sehingga dalam setahun para petani bisa merasakan panen dua kali, yakni panen tembakau, dan panen kopi. Berangkat dari sini lah kebangkitan kesejahteraan para petani kopi di kawasan ini mulai meningkat, dari yang dahulu hanya berfikir untuk makan sehari-hari, sekarang sudah dapat berfikir untuk membiayai putra dan putrinya bersekolah.

Portrait Buruh Pemetik Kopi Lembah Alam Posong.
Portrait para buruh pemetik kopi di kawasan Wisata Alam Lembah Posong, Temanggung. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Karakter Kopi Posong yang ditanam di kawasan Wisata Alam Lembah Posong

Varian kopi di Wisata Alam Lembah Posong ini merupakan jenis arabika jawa yang ditanam di ketinggian antara 1200 hingga 1600 meter diatas permukaan laut (mdpl). Menurut Pak Tuhar, kopi arabika merupakan kopi yang rentan terkontaminasi baik secara aroma maupun cita rasanya. Karena kopi miliknya ditanam berdampingan dengan tanaman tembakau, secara otomatis cita rasa dan aroma tembakau terasa cukup kuat saat disajikan.

Seusai bercengkerama dan memotret para pemetik kopi, saya diajak kembali ke rumah oleh Pak Tuhar untuk melihat proses pemisahan biji kopi, penjemuran, hingga proses roasting kopi. Setahap demi setahap proses pengolahan kopi di kediaman Pak Tuhar saya cermati sambil diiringi penjelasan secara mendetil dan bersemangat dari sang empunya.

Seusai mengamati satu demi satu tahapan proses pengolahan kopi, tiba saatnya untuk mengecap rasa dan menjajal aroma. Secangkir kopi akhirnya disajikan melalui metode aeropress dari biji kopi yang didapat dari proses secara natural yang di-roasting secara medium roast. Berdasarkan kosarasa lidah saya, acid atau rasa asam kopi cukup tajam terasa disertai manis gula aren dan tentunya bercampur aroma tembakau.

Persinggahan singkat saya akhirnya harus diakhiri oleh waktu. Saat sore menjelang petang, saya berpamitan pada Pak Tuhar dan keluarganya seraya berterima kasih atas tumpangan bermalam sekaligus pengalaman menikmati Wisata Alam Lembah Posong yang tergambar ringkas dan nikmat dalam secangkir kopi.

Janji untuk kembali singgah ke kawasan Wisata Alam Lembah Posong terutama kediaman Pak Tuhar pun terucap seusai berpamitan. Saat hendak pulang, hampir sepanjang jalan bibir ini tersenyum. Isi kepala dipenuhi oleh bermacam rasa yang tercipta dari kopi Lembah Posong tadi, yakni rasa bangga akan kekayaan alam Temanggung dalam secangkir kopi.

Kopi Lembah Alam Posong
Penjemuran biji kopi di halaman rumah Pak Tuhar, seorang petani kopi setempat dengan latar Gunung Sumbing. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Kopi Lembah Alam Posong
Proses roasting kopi arabika hasil petik merah dari kawasan Wisata Alam Lembah Posong. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Kopi Lembah Alam Posong
Biji kopi arabika Lembah Kopi Posong setelah melalui proses roasting. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Proses Pengolahan Kopi Arabika Lembah Alam Posong
Proses peracikan kopi arabika yang dipetik dari kawasan Wisata Alam Lembah Posong, Temanggung, oleh seorang Barista di salah satu gerai penjualan kopi. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Proses Pengolahan Kopi Arabika Wisata Alam Lembah Posong
Proses pembuatan segelas latte art berbahan biji kopi arabika yang dipetik dari kawasan Wisata Alam Lembah Posong, Temanggung, oleh seorang Barista di salah satu gerai penjualan kopi. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Proses Pengolahan Kopi Arabika Lembah Alam Posong
Sajian latte art berbahan biji kopi arabika dari kawasan Wisata Alam Lembah Posong yang diracik oleh seorang barista di salah satu gerai penjualan kopi. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

TINGGALKAN KOMENTAR YUK!

Please enter your comment!
Please enter your name here