Gunung Prau, Simfoni Pagi Di Dataran Tinggi

Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah

Mengabadikan Keindahan Gunung Prau
Seorang pendaki sedang mengabadikan sunset di Gunung Prau. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Pendar cahaya mentari membias ke segala penjuru, menimpa gundukan bukit teletubbies yang basah terpapar embun. Nun jauh di depan, deretan gunung-gemunung dalam balutan halimun menawarkan pemandangan yang menawan. Gunung Prau memang tempat yang sempurna untuk menikmati simfoni pagi nan merdu.

Sekitar tiga atau empat tahun lalu tidak banyak orang yang mendaki Gunung Prau. Jangankan pergi mendaki, lokasi keberadaan Gunung Prau pun hanya sedikit yang tahu. Beda halnya jika yang disebutkan adalah Dataran Tinggi Dieng, pasti sebagian besar sudah tahu dan pernah menyambanginya. Padahal, Gunung Prau termasuk dalam gugusan gunung-gemunung yang mengitari Dataran Tinggi Dieng. Gunung setinggi 2.565 meter di atas permukaan laut ini mulai dikenal luas oleh publik pada medio 2013. Berawal dari foto keindahan gunung yang bersliweran di linimasa social media, para pejalan pun lantas berbondong-bondong menyambanginya. Hingga akhirnya pada tahun 2015 Gunung Prau menjadi salah satu top destinasi yang selalu ramai dikunjungi.

Tentunya bukan tanpa alasan jika gunung ini mendadak ramai peminat. Pemandangan nan indah adalah salah satu alasan utama kenapa gunung ini ramai tiap akhir pekan atau liburan. Di saat fajar tiba, kamu bisa menyaksikan cakrawala yang berubah warna dengan siluet gunung-gemunung nan megah. Gunung-gunung besar seperti Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, terlihat dengan jelas. Hamparan kabut tipis yang menyelimuti kaki gunung atau gumpalan awan putih yang menudungi puncak menjadi panorama yang menenteramkan sekaligus membius siapa pun yang menyaksikannya. Belum lagi hamparan gundukan bukit berumput hijau mirip di film teletubbies semakin mempercantik suasana.

Selain panoramanya yang indah, alasan lainnya yang menjadikan gunung ini begitu populer adalah treknya yang terbilang mudah dan jarak tempuh yang tidak terlalu lama. Bagi yang sudah terbiasa mendaki, cukup trekking 2 hingga 3 jam maka kamu sudah bisa sampai puncak. Bahkan bagi pemula pun terbilang cukup mudah. Akses menuju Gunung Prau pun tidak terlalu sulit. Kamu cukup mengambil jalur menuju Dataran Tinggi Dieng dan berhenti di daerah Patak Banteng. Usai mendaki Gunung Prau, kamu bisa melanjutkan perjalanan menuju tempat-tempat eksotis lainnya seperti Kawah Sikidang, Puncak Sikunir, Kompleks Candi Arjuna, Telaga Warna, Telaga Pengilon, dan masih banyak lainnya.

Membaca serta mendengar review-nya yang begitu menarik, membuat saya tak sabar untuk menyambangi Gunung Prau dan mendirikan tenda di puncaknya. Akhirnya kesempatan itu pun datang. Bersama beberapa kawan, saya meluncur dari Yogyakarta menuju Wonosobo. Berhubung ini awal musim penghujan, maka bulir-bulir air terus saja menetes dari langit menemani perjalanan kami. Tapi itu bukan masalah yang berarti.

Saya memang memilih mendaki di awal musim penghujan karena pada saat itu vegetasi mulai tumbuh di sepanjang jalur pendakian sehingga tanah tidak lagi kering dan berdebu akibat musim kemarau. Jika sedang dinaungi dewi fortuna, para pendaki bisa melihat sunset maupun sunrise yang indah. Selain itu alasan lainnya adalah pada musim seperti ini wisatawan sudah mulai enggan berkegiatan di luar ruangan, sehingga jalur pendakian mulai sepi dan bisa saya nikmati sepuasnya.

Dalam perjalanan kali ini saya memilih untuk mendaki melalui jalur Desa Patak Banteng, Kejajar, Wonosobo, Jawa Tengah atau yang dikenal dengan nama basecamp Patak Banteng. Saat berbincang dengan warga saya baru tau kisah di balik nama Patak Banteng. Dalam bahasa lokal “patak” berarti kepala, jadi patak banteng adalah kepala hewan banteng. Menurut cerita warga, dahulu ada seekor banteng yang ditebas kepalanya dan kepala tersebut dikubur di desa tersebut. Lalu badannya dikubur di tempat lain yang bernama Sebanteng. Kini Sebanteng berubah menjadi lahan pertanian warga Dieng. Aneh memang, tetapi menarik. Sebenarnya selain melalui jalur Patak Banteng, kamu juga bisa mendaki Gunung Prau dari jalur Dieng dan Kendal.

Hujan pun reda tatkala kami tiba di basecamp Patak Banteng. Kami disambut oleh benda kecil berwarna putih yang melayang-layang di udara dalam jumlah yang tidak sedikit. Saya pikir salju juga turun di Dieng, ternyata saya salah. Menurut salah satu penjaga basecamp Gunung Prau yang juga tergabung dalam kelompok The Bulls Egg Adventure (kelompok pengelola wisata pendakian Gunung Prau), benda putih tersebut adalah hama tumbuhan. Warga Patak Banteng menyebutnya kutu daun (Bemisia Tabaci) atau internasionalnya lebih dikenal dengan nama Silverleaf Whitefly. Di basecamp pendakian Gunung Prau ini kami beristirahat sejenak dan melakukan repacking serta melakukan registrasi pendakian.

Keindahan Malam di Gunung Prau
Sorang pendaki sedang menikmati keindahan malam di puncak Gunung Prau. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)

Pendakian Gunung Prau Pun Dimulai

Setelah tenaga mulai pulih dan perijinan pendakian Gunung Prau sudah di tangan, kami pun bersiap untuk melakukan pendakian. Seperti biasa, sebelum pendakian dimulai kami melakukan peregangan otot untuk mengurangi resiko cidera ketika menapaki jalur Gunung Prau. Usai peregangan, kami berdoa sejenak supaya pendakian kali ini bisa berjalan lancar hingga pulang nanti. Menurut salah satu anggota The Bulls Egg Adventure, pendakian Gunung Prau via basecamp Patak Banteng sekitar 3 jam dengan beban ringan dan jalan konsisten. Ok lah akan kami coba.

Basecamp – Pos I Gunung Prau

Dengan semangat membara dan sedikit rasa ragu karena sudah lama tidak melakukan pendakian gunung, saya dengan ransel 80 liter pun mulai melangkahkan kaki. Awal dari jalur pendakian Gunung Prau adalah melewati pemukiman penduduk Desa Patak Banteng. Kami juga melewati beberapa anak tangga. Lalu setelah itu kami melewati perkebunan penduduk. Saat itu lahan-lahan masih dalam proses penanaman pohon kentang, jadi terlihat gundul.

Tak lama kemudian kami menemukan Pos I pendakian Gunung Prau yang oleh warga diberi nama “Sikut Dewo”, dalam bahasa Indonesianya adalah sikut dewa. Disini terdapat gubug kecil yang biasa digunakan sebagai tempat berjualan makanan dan minuman bagi para pendaki. Entah apa maksud mereka memberi nama seperti itu. “Ampuh tenan iki mesti”, celetukan teman saya yang mulai memucat wajahnya. “Kok iso?”, sanggah saya dengan napas tersengal-sengal. “La wong sikute dewe nggo mbandem uwong wae mesti loro, po meneh sikute dewo. Ajur mesti gununge”, jawab rekan saya dengan sedikit mengkerutkan keningnya.

Entah mengapa kami membahas nama Pos I Gunung Prau tersebut. Sepertinya kami sedang mengalami kondisi hipoksia serebral. Memang di awal tadi kami memacu langkah kami dengan sangat cepat, jadi mungkin ini hasilnya. Jika kamu tidak ingin terlalu lelah, kamu bisa naik ojek dari basecamp hingga Pos I ini. Ongkos ojek sebesar Rp 10.000 per orang.

Pos I – Pos II Gunung Prau

Nafas kami mulai stabil dan kaki sudah mulai panas serta mendapatkan ritmenya. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos pendakian Gunung Prau berikutnya. Malam itu pendar sinar sang rembulan menuntun perjalanan kami dari Pos I hingga Pos II. Selama perjalanan, kami acapkali menemukan bangunan non permanen milik warga yang digunakan untuk berjualan, tetapi saat itu kami tidak menemukan satu pun warung yang buka. Mereka hanya buka di pagi dan siang hari serta di malam-malam tertentu tatkala banyak orang yang mendaki.

Pos II – Pos III Gunung Prau

Setelah melewati warung-warung warga, kami memasuki hutan pinus. Antara warung warga dan hutan pinus itulah Pos II Gunung Prau.Pada etape ini sensasi mendaki gunung sudah mulai terasa akibat kawasan yang didominasi vegetasi pinus. Ya walau pun sesekali masih bisa melihat pemukiman warga di bawah dan mendengar suara kendaraan serta sayup-sayup suara dari pengeras suara. Meski begitu suasana tetap asyik.

Saat itu rembulan sedang terlihat bundar sempurna dengan pendaran yang begitu cemerlang. Langit pun terlihat sangat bersih dan berhiaskan taburan gemintang. Pada etape pendakian ini, jalur mulai terjal dan menanjak.

Pos III – Puncak Gunung Prau

Setelah melewati hutan pinus yang cukup lebat, suasana jalur berubah sedikit demi sedikit. Vegetasi pun mulai berkurang. Kerumunan pohon pinus sedikit demi sedikit berkurang menjadi rumpun perdu. Batu-batu vulkanik pun mulai setia menemani perjalanan kami menuju puncak Gunung Prau.

Sebelum puncak Gunung Prau, kami disuguhi pemandangan hamparan bunga daisy yang cukup luas di tanah bergunduk menyerupai bukit-bukit teletubbies. Saat itu hamparan bunga daisy terpapar sinar rembulan yang lembut. Jika kami melihatnya di pagi hari pasti akan jauh lebih indah. Tidak jauh dari hamparan bunga daisy, terdapat camping ground. Tapi kami tidak berhenti disitu melainkan melangkah terus menuju puncak, karena kami ingin mendirikan tenda di puncak Gunung Prau.

Sesampainya di puncak Gunung Prau, kami disambut oleh halimun tebal. Total durasi perjalanan kami sekitar 2,5 jam. Tidak ambil pusing dengan kabut di Gunung Prau, kami pun mendirikan tenda yang telah kami bawa dan salah satu aktivitas ketika di gunung pun saya mulai, yaitu memasak. Sangat asik sekali memasak di Gunung Prau. Usai memasak kami beristirahat di dalam tenda.

Setelah beberapa waktu telapak kaki mulai terasa sangat dingin dan badan mulai bergetar tidak berirama. Sepertinya ini sudah jam 4 pagi. Akhirnya kami pun keluar untuk menyaksikan kemegahan bentang alam serta gunung-gemunung di sekitar Gunung Prau yang akan diguyur pendaran sinar sang surya.

Perlahan mentari mulai muncul dari peraduannya. Gunung-gemunung yang berada di kejauhan mulai terlihat samar. Jika cuaca cerah, para pendaki bisa melihat banyak puncak gunung. Tetapi saat itu yang saya lihat hanya Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Mungkin karena intensitas hujan cukup tinggi sehingga mengakibatkan banyak uap yang naik ke permukaan karena sinar dan panas sang surya. Meski begitu saya tak pernah menyesal. Menyaksikan pagi dari puncak tinggi selalu memberikan energi.

Lokasi dan Akses Jalur Pendakian Gunung Prau via Patak Banteng

Gunung Prau ini terletak di tiga kabupaten di Jawa Tengah, yakni Wonosobo, Kendal dan Batang. Semua kabupaten memiliki jalur pendakian menuju puncak Gunung Prau. Sampai saat ini ada sekitar 5 jalur pendakian, mungkin dibuat untuk memecah kepadatan pengunjung di satu jalur ketika ingin mengadakan pendakian Gunung Prau.

Jalur pendakian Gunung Prau antara lain jalur Patak Banteng (Desa Patak Banteng, Kecamatan Kejajar, Kabupatan Wonosobo), jalur Kali Lembu (Desa Kali Lembu, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo) jalur Dieng Kulon (Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara), jalur Kenjuran (Kecamatan Sukerejo, Kabupaten Kendal) dan jalur Pranten (Kecamatan Bawang, Kabupaten Kendal).

Kali itu kami memilih untuk menapaki jalur pendakian Patak Banteng. Jalur pendakian Gunung Prau via Patak Banteng ini dahulu memang berada di Balai Desa/Kantor Kelurahan Patak Banteng. Tetapi pada bulan April 2015, basecamp Patak Banteng berdiri sendiri dan dikelola oleh kelompok peduli lingkungan dengan nama The Bulls Eggs.

Untuk menuju basecamp Patak Banteng ataupun Kali Lembu (karena basecamp pendakian Gunung Prau ini berdekatan) kamu bisa menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.

Jika kamu dari Yogyakarta dan menggunakan kendaraan umum, kamu bisa memulai perjalanan dari Terminal Giwangan atau Jombor, pilih bus dengan trayek Jogja – Semarang dan turun di Terminal Magelang. Dari Terminal Magelang pilih bus dengan trayek Magelang – Wonosobo dan turun di Terminal Induk Wonosobo. Setelah itu teruskan perjalananmu menuju Dieng menggunakan bus kecil atau elf dan turun di Desa Patak Banteng ataupun Desa Kali Lembu.

Retribusi Gunung Prau

Tiket masuk jalur pendakian: Rp.10.000
Tarif ojek dari basecamp – Pos I: Rp 10.000
Sewa Porter per hari: Rp 350.000

Tips Mendaki ke Gunung Prau

  • Walaupun dekat dan jarak tempuh pendakian Gunung Prau tidak terlalu panjang, tetap persiapan fisik harus diutamakan demi mengurangi resiko kram atau keseleo di bagian otot.
  • Di Gunung Prau ini diterapkan sistem buka tutup bagi para wisatawan. Penutupan semua jalur pendakian akan dilakukan pada tanggal 5 Januari hingga 5 April di setiap tahunnya. Hal ini dilakukan sebagai upaya pemulihan ekosistem gunung tersebut. Pastikan kamu menjadi pendaki yang beretika dan mematuhi peraturan yang berlaku.
  • Masalah pemilihan waktu pendakian, sebenarnya bebas saja. Ini dikarenakan durasi pendakian yang relatif singkat. Tetapi jika ingin mendapatkan momen yang cantik, rencanakan pendakian ke Gunung Prau pada bulan Juni – Agustus. Pada bulan ini intensitas hujan sudah mulai sedikit dan vegetasi di gunung pun masih hijau.
  • Jadilah pendaki yang mentaati peraturan yang berlaku dengan cara melakukan pendaftaran atau melapor ke pos pendakian yang akan di daki.
  • Namanya gunung pastilah dingin. Terlebih Gunung Prau terletak di Dataran Tinggi Dieng yang memiliki predikat salah satu tempat dingin di Jawa Tengah. Bawalah jaket dan perlengkapan yang bisa melindungi tubuhmu dari rasa dingin.
  • Gunakanlah sepatu trekking atau minimal sepatu olahraga. Sebaiknya hindari menggunakan sandal karena sandal tidak bisa melindungi mata kaki dan pergelangan kaki dari hentakan maupun gesekan.
  • Ingin mendapatkan cerita lebih ataupun membutuhkan pendamping pendakian? Sewalah guide atau porter lokal.
  • Sebenarnya melakukan pendakian solo di Gunung Prau bisa-bisa saja. Tetapi jika merasa tidak yakin dengan kemampuan dan mental ajaklah teman untuk menjadi teman perjalanan menggapai puncak Gunung Prau.
  • Pasanglah tenda di camping ground atau lokasi yang sudah tidak ada tumbuhan hidup demi menjaga ekosistem Gunung Prau. Jangan lupa bawa turun semua sampah yang kamu hasilkan selama mendaki. Be a smart climber!
  • Jika kamu memerlukan jasa pemandu agar pendakian ke Gunung Prau bisa terasa lebih nikmat kamu rasakan, kami Maioloo Tour menyediakan paket yang bisa kamu pilih. Untuk paket wisata ke Gunung Prau ini, kami bisa lihat di tautan dengan judul Paket Pendakian Gunung Prau, Dieng.
Sunrise Gunung Prau
Sunrise di Gunung Prau, Dieng, Wonosobo, jawa Tengah. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)
Pendakian Gunung Prau
Para pendaki Gunung Prau sedang menikmati sunrise dengan latar belakang Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)
Sunrise Gunung Prau
Seorang pendaki sedang menikmati sunrise di Gunung Prau. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Mengabadikan Sunrise di Gunung Prau
Seorang pendaki sedang mengabadikan sunrise di Gunung Prau. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Pemandangan Gunung Prau
Genangan air di salah satu sisi puncak Gunung Prau. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Bukit Teletubbies di Gunung Prau
Hamparan perbukitan di Gunung Prau yang mirip seperti film serial teletubbies. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)
Bunga Daisy di Gunung Prau
Kumpulan bunga daisy di Gunung Prau. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Dieng Dari Gunung Prau
Hamparan kota Dieng yang terlihat dari puncak Gunung Prau. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)
Pos 1 (Sikut Dewo) Gunung Prau
Pos 1 (Sikut Dewo) pendakian Gunung Prau. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR YUK!

Please enter your comment!
Please enter your name here