Pura Ulun Danu Bratan, Tempat Memuja Di Tepi Telaga

Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali

Pura Ulun Danu Bratan, Bali
Bangunan suci Pura Ulun Danu Bratan, Bali. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Berdiri dengan indah di atas danau nan tenang, Pura Ulun Danu Bratan menyajikan suguhan menawan sebuah bangunan suci khas Pulau Bali. Di tempat ini, kamu bisa sejenak berkontemplasi sambil menikmati udara sejuk khas dataran tinggi dengan nuansa artistik Pulau Dewata yang menentramkan jiwa.

Rona pagi yang berpadu dengan alunan gending Bali dan aroma dupa menjadi sebuah sambutan yang sempurna tatkala memasuki pintu masuk kawasan wisata Pura Ulun Danu Bratan. Lalu-lalang masyarakat setempat dan iring-iringan gadis bali dalam balutan busananya yang khas kian memanjakan mata. Sejenak saya terbius dengan aura magis. Semuanyan sangat membekas di hati dan mustahil untuk dapat dihapus dari memori.

Pura Ulun Danu Bratan telah menjadi salah satu ikon wajah pariwisata Pulau Bali dan bahkan Indonesia. Lokasinya yang berada pada ketinggian sekitar 1239 meter di atas permukaan laut membuat udara di sekitar tempat ini terasa sejuk, bersih, dan segar. Suasanya yang hening dan sering berkabut pun mampu membuat hati siapapun yang berkunjung menjadi damai. Pesona dan keindahan pura luhur yang memiliki meru (atap) bertumpang sebelas ini seakan tak lekang oleh pergantian zaman dan perputaran waktu. Tak heran bila namanya sangat tersohor hingga ke berbagai belahan bumi.

Menurut informasi, Pura Ulun Danu Bratan adalah salah satu candi air terbesar di Pulau Bali. Pura yang berdiri cantik di atas Danau Bratan ini sebenarnya difungsikan untuk upacara persembahan bagi Dewi Danu atau dalam bahasa Bali berarti Dewi Danau dan Dewi Air dalam kepercayaan Hindu Bali. Selain sebagai tempat suci untuk laku ritual pemujaan kepada para dewa dewi, pura ini pun juga menjadi tempat dilangsungkannya Upacara Melasti yang diselenggarakan sehari sebelum Hari Raya Nyepi.

Berdasarkan catatan sejarahnya yang terdapat di lontar Babad Mengwi, Pura Ulun Danu Bratan telah ada sejak 500 tahun sebelum Masehi atau pada zaman megalitikum Bali. Hal ini dibuktikan dari peninggalan benda bersejarah berupa sarkofagus batu dan papan batu yang saat ini diletakkan pada halaman teras atau babaturan pura. Walaupun merupakan salah satu bangunan kuno di Pulau Dewata, seluruh kondisi fisik Pura Ulun Danu Bratan masih asli dan terawat dengan cukup baik.

Diceritakan dalam Babad Mengwi, I Gusti Agung Putu sebagai pendiri Kerajaan Mengwi telah mendirikan sebuah pura cantik nan indah di sisi barat daya Danau Beratan sebelum beliau mendirikan Pura Taman Ayun yang saat ini berloaksi di Mengwi. Sejak pembangunan Pura Ulun Danu selesai, konon Kerajaan Mengwi menjadi tentram, makmur, dan sejahtera karena Danau Bratan dapat sekaligus digunakan untuk keperluan irigasi ladang pertanian masyarakat. Sang raja Kerajaan Mengwi pun akhirnya dijuluki dengan gelar “I Gusti Agung Sakti”, atau seorang raja yang besar, sakti, dan bijaksana.

Menurut mitos yang dipercayai masyarakat setempat, konon Danau Beratan tempat berdirinya Pura Ulun Danu dulunya merupakan danau terbesar dan terluas di Pulau Dewata. Namun pada suatu ketika terjadi bencana gempa bumi yang maha dahsyat hingga akhirnya membelah Danau Bratan menjadi tiga bagian antara lain Danau Bratan sendiri, Danau Tamblingan, dan yang terakhir adalah Danau Buyan. Ketiga danau tersebut lokasinya saling berdekatan.

Penamaan kata “Bratan” sendiri diambil dari kata Brata yang dalam bahasa Bali memiliki makna pengendalian diri dengan menutup sembilan lubang kehidupan. Selain itu, kata “Brata” juga dapat ditemui dalam istilah “Tapa Brata” atau ritual semedi atau meditasi sambil berdiam diri. Tapa Brata ini biasa dilangsungkan pada perayaan Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu untuk pembersihan diri dan mencapai ketenangan agar dapat menyatu dengan alam dan dapat berinteraksi dengan Sang Hyang Widi.

Kompleks Pura Ulun Danu Bratan

Pura Ulun Danu Bratan, Bali
Suasana di dalam pura utama di dalam kompleks Pura Ulun Danu Bratan, Bali. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Kompleka bangunan suci Pura Ulun Danu Bratan di kawasan wisata Bedugul ini terdiri dari empat bagian bangunan suci. Bagian pertama adalah Pura Lingga Petak yang memiliki tiga meru atau tingkatan di atap bangunan sebagai tempat pemujaan bagi Dewa Siwa. Kemudian Pura Penataran Puncak Mangu yang memiliki 11 tingkat meru yang digunakan sebagai tempat pemujaan bagi Dewa Wisnu. Kemudian Pura Teratai Bang sebagai pura utama yang berdiri cukup luas di antara kompleks pura lainnya dan memiliki tiga batu di depan gapura masuk pura. Dan yang terakhir adalah Pura Dalem Purwa yang digunakan untuk memohon kesuburan, kemakmuran, dan kesejahteraan.

Secara garis besar, kompleks bangunan suci Pura Ulun Danu Bratan memang ditujukan untuk persembahan bagi dewa Trimurti (Brahma, Wisnu, dan Siwa) dalam kepercayaan Hindu Bali. Hal ini tak hanya dapat dilihat dari struktur bentuk bangunan pura, akan tetapi juga dari penemuan tiga buah batu berwarna merah, hitam, dan putih di tahun 1968. Ketiga warna tersebut merupakan simbol suci (Tri Datu) dimana merah melambangkan Bhatara Brahma atau ‘Sang Pencipta’ , kemudian hitam yang melambangkan Bhatara Wisnu sebagai ‘Sang Penyeimbang’, dan putih sebagai simbol Bhatara Siwa sebagai ‘Sang Pelebur’.

Lokasi dan Akses Menuju Pura Ulun Danu Bratan

Kompleks bangunan suci Pura Ulun Danu Bratan terletak di kawasan wisata Bedugul, tepatnya di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Jaraknya kurang lebih 50 kilometer dari Kota Denpasar atau sekitar 70 kilometer dari Pantai Kuta, Bali. Letaknya yang berada di sebelah utara Kota Denpasar ini membuat perjalanan wisata dapat dilakukan secara sekaligus karena jalurnya searah dengan Pantai Lovina di Singaraja, Air Terjun Gitgit, Air Terjun Banyumala, dan beberapa danau eksotik lain seperti Danau Tamblingan dan Danau Buyan. Perjalanan darat dapat ditempuh dengan waktu sekitar satu jam dari Kota Denpasar.

Harga Tiket dan Jam Buka 

  • Tiket masuk wisatawan domestik: Rp 20.000 / orang (dewasa)
  • Tiket masuk wisatawan mancanegara: Rp 100.000 / orang
  • Parkir kendaraan roda dua: Rp 2.000
  • Parkir kendaraan roda empat: Rp 5.000
  • Jam buka untuk wisatawan: setiap hari pukul 07.00 s/d 17.00 WITA.

Tempat Wisata dan Lokasi Asyik di Sekitar Pura Ulun Danu Bratan

  • Danau Buyan
    Danau Buyan adalah sebuah danau yang terletak di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali. Danau Buyan merupakan salah satu dari tiga danau kembar yang menurut cerita masyarakat setempat merupakan bagian dari Danau Bratan yang terbelah menjadi tiga bagian. Dari tiga pecahan danau tersebut, Danau Buyan merupakan yang terbesar di antara semuanya. Selain itu, Danau Buyan menyajikan pesona hutan alam yang masih alami.
  • Danau Tamblingan
    Danau Tamblingan adalah salah satu dari pecahan Danau Bratan pada masa lalu yang terpecah menjadi tiga bagian. Lokasinya berada di utara Gunung Lesung, kawasan Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali. Yang menarik dari Danau Tamblingan adalah pesona panorama pagi hari di tepian danau berlatar Pura Dalem Tamblingan yang indah nan cantik. Penamaan Tamblingan sendiri diambil dari bahasa adat Bali da;a, dua kata, yaitu Tamba yang berarti obat dan Elingang yang berarti ingat secara spiritual. Danau Tamblingan belum begitu populer di kalangan wisatawan sehingga masih sepi dan asyik untuk dikunjungi.
  • Kebun Raya Eka Karya Bali
    Kebun Raya Eka Karya atau biasa dikenal dengan Kebun Raya Bali adalah sebuah kebun botani pertama yang didirikan di Indonesia. Pengelolaannya dipegang oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan secara struktural berada di bawah naungan Kebun raya Bogor. Kebun Raya Bali ini resmi berdiri pada 15 Juli 1959 pada era Presiden Pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Seiring berkembangnya zaman, saat ini Kebun Raya Bali yang berdiri pada ketinggian 1250 hingga 1450 mdpl di tanah seluas 157 hektar ini menjadi kawasan konservasi bagi tumbuhan tropika kawasan timur Indonesia.
  • Air Terjun Sekumpul
    Air Terjun Sekumpul yang terletak di Kabupaten Buleleng ini disebut-sebut sebagai air terjun terindah di Pualu Dewata. Sesuai dengan namanya, Air Terjun Sekumpul terdiri dari sekumpulan air terjun dengan jumlah total tujuh air terjun. Oleh sebab itu para turis atau wisatawan asing yang pernah berkunjung ke Air Terjun Sekumpul menamainya dengan Seven Point Waterfall, sedangkan masayarakat desa adat setempat menyebutnya dengan Air Terjun Pemuatan.
  • Air Terjun Banyumala
    Air Terjun Banyumala terletak di Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali. Lokasinya berdekatan dengan Air Terjun Sekumpul, Air Terjun Gitgit, dan Pura Ulun Danu Bratan di Bedugul. Untuk dapat menikmati lokasi air terjun, pengunjung harus trekking dengan medan yang cukup terjal dan menuruni tebing perbukitan. Aliran air terjun ini cukup jernih dan suasanya masih asri dan sepi, cocok bagi kamu yang hobi blusukan dan bertualang sambil menikmati alam liar.
  • Air Terjun Gitgit
    Air Terjun Gitgit adalah salah satu dari deretan air terjun yang membentang di Kabupaten Buleleng, Bali. Lokasinya berada di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, tak jauh dari lokasi Air Terjun Banyumala di Desa Wanagiri. Air terjun setinggi 35 meter ini merupakan air terjun paling tinggi di Pulau Bali. Lokasinya yang juga masih alami sangat cocok untuk kamu yang ingin berselaras dengan alam dengan bunyi air terjun yang segar dan alami.
Suasana Pagi di Pura Ulun Danu Bratan
Suasana pagi di pintu masuk pura utama di kompleks Pura Ulun Danu Bratan, Bali. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Kegiatan di Pura Ulun Danu Bratan, Bali
Suasana di tepi danau saat prosesi Upacara Melasti berlangsung di kompleks Pura Ulun Danu Bratan, Bali. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Pura Ulun Danu Bratan, Bali
Bangunan suci Pura Ulun Danu Bratan, Bali. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Kegiatan di Pura Ulun Danu Bratan, Bali
Suasana umat Hindu saat prosesi Upacara Melasti berlangsung di kompleks Pura Ulun Danu Bratan, Bali. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Pura Ulun Danu Bratan, Bali
Sepasang patung yang memancurkan air atau tirta di depan pintu masuk Pura Ulun Danu Bratan, Bali. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Pura Ulun Danu Bratan, Bali
Jemabtan yang membentang di Pura Ulun Danu Bratan, Bali. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Pura Ulun Danu Bratan, Bali
Seorang umah Hindu berjalan membawa sesaji di kompleks Pura Ulun Danu Bratan, Bali. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

4 KOMENTAR

  1. Ah ini dekat dengan rumahku. Bagus ini informasinya, cukup lengkap dan informatif sekali. Fotonya juga luar biasa ciamiknyaa.

    Aku kangen sama air terjun di Gitgit, sama Gunung Batur di Bali. udah 3 tahun g pulang Bali nih, syedih..

    • Reza Fitriyanto Reza Fitriyanto

      Salam hangat, kamu punya kampung halaman yang sangat indah! Semoga bisa kembali berkunjung ke tanah Dewata lagi 🙂

  2. Update terbaru harga tiket masuk obyek wisata pura ulundanu bratan dan tiket parkir kendaraan 2017 :
    – Domestik Rp 20.000/orang
    – Mancanegara Rp 100.000/orang

    Tiket Parkir kendaraan :
    – Roda 2 Rp 2.000/Motor
    – Roda 4 Rp 5.000/mobil

    Cara dan Waktu terbaik untuk datang

    Ada 2 cara terbaik untuk pergi ke pura ulundanu adalah dengan mobil dan motor. karena lokasinya yang cukup jauh dari pusat kota denpasar akan lebih nyaman dan aman untuk kesana dengan menggunakan mobil. Tapi untuk anda yang suka menggunakan sepeda motor, jangan lupa membawa jas hujan, karena curah hujan menuju kawasan wisata pura ulundanu bratan dan bedugul cukup tinggi. sebaiknya datang pada saat musim kemarau dan bilamana hujan turun sudah pasti kabut akan turun. bilamana kabut turun begitu tebal sudah pasti perjalanan anda akan tidak sempurna dan pemandangan sekitar akan tertutup dengan jarak pandang tak lebih dari 30 meter.

TINGGALKAN KOMENTAR YUK!

Please enter your comment!
Please enter your name here