Berdoa di Pura Tirta Empul
Umat Hindu Bali berdoa di kolam petirtaan suci, Kompleks Pura Tirta Empul, Bali. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Gemericik air yang mengalir dari bongkahan batu berbentuk cangkang keong dan memenuhi kolam petirtaan menjadi daya tarik utama dari Pura Tirta Empul. Berada pada ketinggian 700 mdpl menjadikan kompleks mata air suci ini memiliki hawa sejuk dan menenteramkan. Di tempat ini kamu bisa berkontemplasi sekaligus membasuh diri.

Rimbunnya pepohonan disertai hawa sejuk khas dataran tinggi mengiringi sepanjang perjalanan menuju Pura Tirta Empul di tengah Pulau Bali. Lantas sesampainya di dalam, gemercik pancuran aliran air suci merasuk hingga ke dalam relung jiwa. Sekejap suasana batin langsung terbuai damai. Relung jiwa tak kuasa menahan aura magis yang ada, serasa ikut hanyut mengikuti aliran air di kompleks petirtaan suci bagi umat Hindu Pulau Dewata ini.

Menurut cerita dari masyarakat setempat, Pura Tirta Empul merupakan sebuah bangunan suci kuno yang menyimpan sebuah legenda perseteruan antara seorang raja yang tamak dengan para dewa. Diceritakan pada zaman dahulu bertahta seorang Raja Kerajaan Bali yagn sangat sakti dan tak tertandingi bernama Mayadanawa dari keturunan Daitya atau raksasa. Raja Mayadanawa adalah anak dari seorang dewi Danu Batur Kesaktiannya adalah mampu mengubah wujudnya menjadi segala bentuk yang diinginkannya. Dengan kesaktiannya tersebut si raja mampu menaklukan daerah kekuasaan kerajaan-kerajaan lain seperti Bugis, Makasar, Sumbawa, Lombok, dan Blambangan di Banyuwangi.

Karena keberhasilannya menundukkan kerajaan lain, Raja Mayadanawa menjadi sombong. Kemudian ia melarang rakyatnya beribadah kepada dewa dan sebagai gantinya memerintahkan mereka untuk menyembah dirinya yang dirasa sangat sakti. Sejak saat itu rakyat mulai sengsara hingga kemudian timbul bencana kekeringan dan wabah penyakit di mana-mana.

Menyadari hal tersebut, seorang Mpu bernama Mpu Kul Putih melakukan semadi dan memohon bantuan dari para dewa. Tak lama kemudian datanglah Dewa Bathara Indra beserta pasukannya memasuki keraton Raja Mayadanawa. Pertempuran pun terjadi dan dimenangkan pasukan Dewa Bathara Indra. Tak mau mengakui kekalahannya, pada tengah malam Raja Mayadanawa membuat sebuah mata air beracun di sebuah desa di Tampaksiring, dekat tempat peristirahatan pasukan Dewa Bathara Indra. Mengetahui kelicikan Raja Mayadanawa tersebut Dewa Bathara Indra langsung membuat mata air suci lainnya beserta tempat peribadatan berupa pura yang kini dinamakan sebagai mata air Pura Tirta Empul.

Setelah itu, para pasukan Dewa Bathara Indra meminum mata air suci Pura Tirta Empul dan dengan sekejap sembuh. Pengejaran Raja Mayadanawa pun kembali dilanjutkan. Mengetahui dirinya terdesak, raja angkuh tersebut mengubah dirinya menjadi batu paras namun tetap diketahui oleh Dewa Bathara Indra. Kemudian dipanahlah batu paras tersebut dan Raja Mayadanawa menemui ajalnya. Kematian Raja Mayadanawa tersebut hingga saat ini oleh masyarakat Hindu Bali diperingati sebagai Hari Raya Galungan yang bermakna kemenangan dharma atau kebaikan atas adharma atau keburukan.

Kompleks Kolam Petirtaan Pura Tirta Empul

Komplek Pura Tirta Empul
Salah satu sudut bagian dalam utama mandala atau ‘jeroan’ di kompleks Pura Tirta Empul, Bali. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Kompleks bangunan suci Pura Tirta Empul terdiri dari tiga bagian yakni bagian ‘Nista Mandala’ atau bagian paling luar (jabe sisi), kemudian bagian ‘Madya Mandala’ atau bagian tengah kompleks pura (jabe tengah), dan ‘Utama Mandala’ atau bagian utama (jeroan). Pada bagian tengah kompleks petirtaan di Pura Tirta Empul atau bagian Madya Mandala inilah terdapat dua buah kolam air berbentuk persegi panjang.

Di sisi kolam petirtaan suci ini terdapat pancuran air berbentuk seperti cangkang keong sebanyak 30 buah yang berderet rapi membujur dari barat ke timur. Masing-masing pancuran memiliki nama seperti Pancuran Penglukatan, Pancuran Pembersihan, Pancuran Sudamala, Pancuran Cetik atau Pancuran Racun, dan lain-lain.

Tak hanya umat Hindu Bali dan masyarakat lokal saja yang melukat (ritual pembersihan diri menggunakan sumber air suci) di kompleks kolam petirtaan suci Pura Tirta Empul. Pengunjung dan masyarakat umum pun diperbolehkan ikut melakukan prosesi melukat di kolam ini. Adapun syarat yang harus ditaati oleh pengunjung adalah menggunakan kamen atau semacam sarung adat khas Bali yang biasa dikenankan oleh umat Hindu Bali saat bersembahyang di dalam pura.

Ritual pelukatan di kompleks petirtaan suci ini biasa diawali dengan meletakan canang atau sesajen di atas batu pancuran air. Kemudian canang tersebut diisi dupa yang dibakar dan didoakan. Setelah itu baru ritual pelukatan dimulai dengan membasuh seluruh tubuh dari ujung kepala menggunakan sumber mata air suci dan diulang terus hingga sampai ke pancuran paling ujung.

Lokasi dan Akses Menuju Pura Tirta Empul

Pura Tirta Empul terletak di Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali. Untuk mencapai tempat ini kamu wajib membawa kendaraan pribadi, sebab tidak ada angkutan umum yang melayani trayek ke tempat ini. Dari Kota Denpasar tempat ini bisa ditempuh sekitar 1,5 jam berkendara dengan rute Denpasar – Ubud – Kintamani. Jalannya sudah baik dan lebar sehingga jarang terjadi kemacetan lalu lintas.

Harga Tiket dan Jam Buka Pura Tirta Empul

  • Tiket masuk: Rp 15.000 / orang
  • Parkir: Rp 2.000 (sepeda motor), Rp 5.000 (mobil)
  • Jam buka: Setiap hari pukul 07.00 s/d 17.00 WITA (kecuali saat perayaan keagamaan, hanya dibuk a untuk peribadatan)

Tempat Wisata dan Lokasi Asyik di Sekitar Pura Tirta Empul

  • Desa Penglipuran
    Berjarak sekitar 45 kilometer dari pusat Kota Denpasar, Desa Penglipuran menawarkan kearifan lokal yang masih dijunjung tinggi oleh masyarakat Bali. Memasuki desa adat ini kamu akan disambut dengan deretan rumah adat yang tertata rapi lengkap dengan penjor yang menggantung di tiap-tiap rumah. Rumah-rumah adat tersebut memiliki gaya bangunan yang nyaris sama. Di desa yang meupakan penginggalan Kerajaan bangli ini kamu akan melihat harmoni kehidupan masyarakat Bali yang masih menjunjung teguh tradisi.
  • Pura Ulun Danu Bratan
    Pura Ulun Danu Bratan adalah sebuah pura berupa bangunan candi air yang berdiri di atas Danau Bratan di Bedugul, Bali. Candi air terbesar di Pulau Dewata ini memiliki gaya bangunan yang unik serta khas dengan atap berundaknya. Di pura yang berdiri dengan indah di atas danau dna tenang ini kamu bisa berkontemplasi sejenak sambil menikmati udara sejuk khas dataran tinggi dengan nuansa artistik Pulau Dewata yang menentramkan jiwa.
  • Pura Besakih
    Pura Besakih adalah sebuah pura suci terbesar di Pulau Bali. Letaknya berada di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali. Pura ini dapat ditempuh sekitar kurang dari satu jam perjalanan dari kawasan Desa Penglipuran atau pusat Kota Gianyar. Pura yang berdiri megah di lereng sebelah barat Gunung Agung ini sangat dihormati sejak zaman kuno. Penduduk setempat percaya bahwa Pura Penataran Agung Besakih merupakan pusat dari pengabdian kepada Tuhan. Pura dengan arsitektur yang indah ini masuk dalam daftar pengusulan Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1995. Bagi kamu yang ingin berkunjung menyaksikan kemegahan pura, jangan lupa untuk mengenakan sarung (udeng) dan kamen adat Bali.
  • Istana Negara Tampaksiring
    Istana Tampaksiring sendiri berada di Desa Tampaksiring, Gianyar, Bali. Istana yang berada pada ketinggian 700 mdpl ini merupakan satu dari enam Istana Negara Republik Indonesia. Lokasinya yang sejuk dan asri menjadikan Istana Tampaksiring menjadi salah satu tempat tetirah Presiden RI pertama, Ir. Soekarno. Di tempat ini kamu bisa merasakan suasana sejuk khas dataran tinggi sekaligus bisa menghirup udara segar yang minim polusi.
  • Tegalalang Rice Terraces
    Salah satu daya tarik Bali adalah keberadaan areal persawahan yang membentuk terasering atau sawah berundak-undak. Salah satu lokasi yang terkenal adalah teras persawahan Tegalalang atau Tegalalang Rice Terraces. Hamparan padi yang menghijau subur menjadi pemandangan eksotis bagi wisatawan asing. Tak heran jika di sudut-sudut kawasan ini dipenuhi oleh para pelancong yang sedang memotret atau sekadar berjalan-jalan di pematang sawah. Waktu terbaik untuk menikmati suasa teras persawahan di Tegalalang ini adalah di pagi hari saat embun masih bertengger di ujung daun padi dan mentari masih malu-malu menampakkan diri.
Gerbang Nista Mandala Pura Tirta Empul
Gerbang di bagian nista mandala atau bagian luar Kompleks Pura Tirta Empul, Bali. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Pura Tirta Empul
Suasana pengunjung dan turis asing saat ikut melakukan ritual melukat di kolam petirtaan suci, Kompleks Pura Tirta Empul, Bali. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Pura Tirta Empul, Bali
Umat Hindu Bali berdoa di kolam petirtaan suci, Kompleks Pura Tirta Empul, Bali. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Berdoa di Pura Tirta Empul
Umat Hindu Bali berdoa di kolam petirtaan suci, Kompleks Pura Tirta Empul, Bali. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Pura Tirta Empul
Umat Hindu Bali berdoa di kolam petirtaan suci, Kompleks Pura Tirta Empul, Bali. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Kolam Ikan di Pura Tirta Empul
Salah satu kolam ikan di dalam Kompleks Pura Tirta Empul, Bali. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Pintu Masuk Pura Tirta Empul
Pintu masuk menuju bagian utama mandala atau ‘jeroan’ di kompleks Pura Tirta Empul, Bali. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR YUK!

Please enter your comment!
Please enter your name here