Desa Penglipuran, Bali
Suasana warga saat akan melaksanakan sembahyang di tengah area Desa Adat Penglipuran, Bali. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Berjarak sekitar 45 kilometer dari pusat Kota Denpasar, Desa Penglipuran menawarkan kearifan lokal yang masih dijunjung tinggi oleh masyarakat Bali. Memasuki desa adat ini kamu akan disambut dengan deretan rumah adat yang tertata rapi lengkap dengan penjor yang menggantung di tiap-tiap rumah. Di desa ini kamu akan melihat Bali yang sebenar-benarnya.

Udara sejuk pegunungan menyambut saat tiba di kawasan Desa Penglipuran. Berada pada ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut (mdpl), desa adat ini tak hanya terkenal akan nuansa tradisinya, akan tetapi juga dikenal karena keasrian, kesejukan, dan kebersihan lingkungan desa. Selain itu, keramahan penduduknya pun menjadi pelengkap perjalanan bagi siapapun yang berkunjung ke desa tradisional yang eksotik ini.

Berdasarkan cerita penduduk, Desa Penglipuran telah ada sejak lebih dari 700 tahun silam atau tepatnya pada masa Kerajaan Bangli. Dimana dahulu Desa Penglipuran ini menjadi sebuah tempat peristirahatan bagi para raja-raja Bali yang ingin mendapati suasana tenang dan damai.

Memang cocok sekali dengan namanya “Penglipuran” yang memiliki arti penghibur. Serta jika dilihat dari asal muasal namanya, “Pengeling Pura” adalah tempat suci untuk mengenang para leluhur.

Oleh sebab itu, Desa Penglipuran menjadi satu dari sejumlah desa adat di Pulau Bali yang masih memegang teguh adat dan budaya Bali. Hal tersebut dapat dilihat dari kehidupan sehari-hari para penduduknya yang hingga saat ini masih kuat menjaga tradisi, ritual adat, dan berbagai kearifan lokal lainnya.

Karena kekhasan dan keunikan yang dimilikinya, Desa Penglipuran menjadi salah satu desa wisata primadona bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara. Desa adat seluas 112 hektar ini merupakan kawasan pedesaan yang memiliki tata ruang dan arsitektur yang ramah lingkungan. Suasana di dalam desa terada sangat sejuk dan asri, hal ini dikarenakan tidak ada kendaraan bermotor yang boleh melewati jalan desa.

Konsep tata ruang pemukiman adat di Desa Penglipuran menganut prinsip trimandala. Konsep tersebut secara fungsi dan tingkat kesuciannya terbagi ke dalam tiga ruang yang berbeda yakni ruang utama, madya, dan nista. Letak ketiga ruang ini membujur dari sisi utara yang melambangkan elemen gunung hingga ke sisi selatan yang melambangkan elemen laut. Di tengah-tengahnya terbentang jalan desa yang lurus berundak sebagai poros tengah yang membelah ruang madya.

Pura Penataran di Desa Penglipuran
Suasana di depan Pura Penataran yang berada di ujung utara Desa Penglipuran, Bali. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Tepat di ujung sisi utara berdiri sebuah bangunan suci berupa Pura Penataran sebagai tempat ibadah bagi para penduduk. Sedangkan ruang madya berisi puluhan rumah penduduk dengan gaya arsitektur khas Bali yang terbagi ke dalam dua jajaran, yaitu sisi barat sebanyak 38 rumah dan timur sebanyak 38 rumah. Jalan desa sebagai pemisah di tengahnya dibangun menggunakan batu sikat dan dipertahankan bebas dari kendaraan bermotor. Sedangkan di sisi selatan adalah ruang nista mandala atau tempat bagi para manusia yang telah meninggal alias areal pemakaman.

Tak jauh dari Pura Penataran yang berada di ujung utara Desa Penglipuran terdapat kompleks hutan bambu yang rindang dan sunyi. Pengunjung diperbolehkan memasuki hutan adat tersebut dengan syarat tidak boleh menebang pohon tanpa seizin dari tokoh adat setempat. Selain itu, tradisi unik di Desa Penglipuran yang masih ada hingga saat ini adalah larangan bagi pria untuk melakukan poligami. Hal tersebut sebagai wujud penghormatan pada wanita. Jika ada yang melanggar, maka orang tersebut harus pindah ke sebuah tempat keramat yang sunyi dan tak berpenghuni bernama ‘Karang Memadu’ di sebelah selatan Desa Penglipuran.

Gaya arsitektur rumah-rumah penduduk di Desa Penglipuran ini tampak seragam. Rumah-rumah tersebut dilengkapi dengan gapura dan biasanya tidak sedikit anjing ras kintamani di depannya. Di dalam kompleks rumah selalu ada pura kecil sebagai tempat sembahyang bagi pemilik rumah. Selain itu ada juga lumbung dan balai sebagai tempat untuk menjamu tamu atau wisatawan yang singgah. Beberapa diantaranya juga telah beralih fungsi menjadi kedai dan warung sebagai ruang bagi pengunjung untuk beristirahat sambil berselaras dengan suasana desa yang asri.

Konsep penataan yang ada di Desa Penglipuran ini tak lepas dari tradisi dan budaya yang secara turun temurun dipegang teguh oleh masyarakat setempat. Kombinasi gaya arsitektur pemukiman adat Bali dan ruang terbuka yang telah dibentuk oleh masyarakat adat Desa Penglipuran sejak dahulu membuat suasana desa khas Bali makin kental dan nyaman sebagai tempat untuk berkontemplasi dengan lingkungan asri yang ada di desa adat ini.

Aktivitas Yang Bisa Dilakukan di Desa Penglipuran

  • Menikmati Keasrian Suasana Dan Keramahan Warga Desa Penglipuran
    Seperti yang sudah dijelaskan di atas. Desa Penglipuran memiliki suasana tenang dan warga-warga di sana sangat ramah menyambut para tamu yang ingin menikmati suasana desa. Kamu jangan sungkan untuk bertanya-tanya tentang Desa Penglipuran itu sendiri. Mulai dari sejarahnya hingga keunikan-keunikan yang ada di sana.
  • Pre Wedding di Desa Penglipuran
    Jika kamu berencana ingin menikah dan sebelumnya ingin membuat sesi foto pre wedding. Desa Penglipuran sangat cocok sekali dijadikan sebuah lokasi sesi foto tersebut. Dengan arsitektur dan properti bergaya tradisi Bali, kamu akan terlihat amazing. Ditambah ketika kamu mengenakan pakaian adat Bali. Kamu akan terlihat semakin awesome di foto tersebut.
  • Mengabadikan Setiap Sudut Desa Penglipuran
    Bagi kamu para pecinta fotografi dan videografi, jangan sampai kamu lupakan untuk mendokumentasikan setiap sudut Desa Penglipuran dengan gaya kamu masing-masing. Bahkan bagi kamu para pecinta selfie, di salah satu rumah ada yang menyediakan pakaian adat Bali yang bisa kamu pinjam agar kamu terlihat semakin well.

Lokasi dan Akses Menuju Desa Penglipuran

Secara Admninistratif, Desa Penglipuran berada di wilayah Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali, atau lima kilometer dari pusat Kota Bangli. Bila kamu berangkat dari pusat Kota Denpasar membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan darat ke arah timur laut. Dari by pass Ida Bagus Mantra lurus hingga perempatan Jalan Pantai Siyut kemudian belok ke kiri. Dari Jalan Pantai Siyut menuju jalan Raya Tulikup kemudian dilanjutkan ke Jalan Taman Bali menujuKota Bangli. Jika sudah tiba di Kota Bangli, carilah Jalan Nusantara hingga menemukan simpang tiga kemudian belok kiri mengikuti papan penunjuk arah menuju Objek Wisata Desa Penglipuran. Ikuti jalan tersebut kurang lebih 300 meter hingga tiba di depan gerbang Desa Penglipuran dan akan disambut oleh petugas karcis.

Harga Tiket dan Jam Buka Desa Penglipuran

  • Tiket Masuk
    Wisatawan domestik: Rp 15.000 (dewasa), Rp 10.000 (anak-anak)
    Wisatawan asing: Rp 30.000 (dewasa), Rp 25.000 (anak-anak)
  • Parkir Kendaraan
    Rp 3.000 (sepeda motor), Rp 10.000 (mobil)
  • Jam Buka Wisata
    Setiap hari pukul 08.00 s/d 17.00 WITA (kecuali saat perayaan hari besar keagamaan dan upacara adat seperti Galungan, Kuningan, dan Nyepi)

Tempat Wisata dan Lokasi Asyik di Sekitar Desa Penglipuran

  • Pura Tirta Empul
    Pura Tirta Empul merupakan sebuah pura suci bagi umat Hindu Bali yang berada di Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali. Pura ini terkenal dengan taman air suci yang bersumber dari mata air pegunungan dan sering digunakan untuk bersuci. Secara etimologi, Tirta Empul memiliki arti berupa air yang menyembur keluar dari tanah. Maka Tirta Empul artinya adalah air suci yang menyembur keluar dari tanah. Pendirian pura ini diperkirakan pada tahun 960 Masehi atau pada zaman kekuasaan Raja Chandra Bhayasingha dari Dinasti Warmadewa.
  • Tegalalang Rice Terraces
    Objek wisata teras persawahan Tegalalang atau Tegalalang Rice Terraces ini terletak di sebelah utara kawasan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. Kawasan ini terkenal akan panorama terasering persawahan hijau yang memukau dan photogenic di mata wisatawan asing. Nama Tegalalang sendiri diambil dari nama sebuah desa di kawasan ini. Bagi kamu yang ingin menikmati suasa teras persawahan di Tegalalang ini, waktu terbaik untuk berkunjung adalah saat pagi hari dengan trekking atau berjalan kaki menyusuri tiap sudut-sudut persawahan.
  • Istana Negara Tampaksiring
    Istana Negara Tampaksiring merupakan salah satu dari enam Istana Negara Republik Indonesia. Istana Tampaksiring sendiri berada di Desa Tampaksiring, Gianyar, Bali. Karena letaknya yang berada di ketinggian sekitar 700 mdpl membuat suasana di area kompleks Istana favorit mendiang Presiden RI Pertama, Ir. Soekarno, ini sejuk dan cenderung dingin. Keberadaanya yang jauh dari pusat Kota Denpasar menjadikan tempat ini tenang, nyaman, dan bebas dari polusi udara maupun suara bising klakson kendaraan.
  • Pura Besakih
    Pura Besakih adalah sebuah pura suci terbesar di Pulau Bali. Letaknya berada di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali. Pura ini dapat ditempuh sekitar satu jam perjalanan dari kawasan Desa Penglipuran atau pusat Kota Gianyar. Komplek Pura Besakih terdiri dari sebuah Pura Pusat yang bernama Pura Penataran Agung Besakih dan 18 Pura Pendamping (satu Pura Basukian dan 17 Pura Lainnya). Pura yang berdiri megah di lereng barat Gunung Agung ini sangat dihormati sejak zaman kuno. Penduduk setempat percaya bahwa Pura Penataran Agung Besakih merupakan pusat dari pengabdian kepada Tuhan. Pura Besakih ini masuk dalam daftar pengusulan Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1995. Bagi kamu yang ingin berkunjung menyaksikan kemegahan pura, jangan lupa untuk mengenakan sarung (udeng) dan kamen adat Bali.
Wisatawan Desa Penglipuran
Salah satu sudut jalan masuk di kompleks Desa Adat Penglipuran, Bali. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Suasana Desa Penglipuran
Suasana Desa Adat Penglipuran yang asri dihiasi penjor di setiap rumah adat warga. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Bangunan Desa Penglipuran
Bangunan arsitektur rumah adat warga di salah satu sudut Desa Penglipuran, Bali. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Arsitektur Desa Penglipuran
Arsitektur gerbang di depan rumah adat warga Desa Penglipuran, Bali. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Pura Penataran di Desa Penglipuran
Suasana di depan Pura Penataran yang berada di ujung utara Desa Penglipuran, Bali. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Menuju Hutan Bambu Desa Penglipuran
Jalur menuju kawasan hutan bambu di Desa Penglipuran, Bali. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Hutan Bambu Desa Penglipuran
Suasana di dalam area hutan bambu di Desa Penglipuran, Bali. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

1 KOMENTAR

  1. tempat yg keren, will go there again for sight seeing on Galungan day!

TINGGALKAN KOMENTAR YUK!

Please enter your comment!
Please enter your name here