Upacara Yadnya Kasada
Umat Hindu Suku Tengger berdoa di tepi kawah Gunung Bromo pada puncak ritual Yadnya Kasada. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Di bawah sinar bulan purnama yang benderang, kaki-kaki manusia berderap melangkah menapaki lautan pasir Gunung Bromo guna mengikuti upacara Yadnya Kasada. Tak lupa mereka membawa ongkek berisi sesaji yang hendak dilarung di puncak gunung. Ritual kuno yang sudah dilakukan sejak beradab-abad lampau ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus penggenapan janji masyarakat Tengger kepada sang Hyang Widhi dan nenek moyang mereka.

Bagi masyarkat Jawa kuno yang masih memegang teguh prinsip ‘kejawen’, gunung merupakan sebuah area suci tempat bersemayamnya para dewa dan roh leluhur. Begitu pula dengan orang-orang dari suku Tengger yang secara silsilah garis keturunan masih kerabat dekat dengan orang Jawa. Bagi mereka Gunung Bromo adalah simbol agung singgasana Sang Hyang Widhi. Gunung eksotik yang berada di Kabupaten Probolinggo tersebut menjadi sebuah tempat sakral untuk memuja para dewa dan roh leluhur di masa lalu pada puncak perayaan ritual Yadnya Kasada.

Persiapan Upacara Yadnya Kasada
Warga suku Tengger yang tengah menunggu dimulainya prosesi Yadnya Kasada di dalam Pura Luhur Poten di kaki Gunung Bromo. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Ritual Yadnya Kasada adalah sebuah upacara adat umat Hindu suku Tengger yang diselenggarakan setiap tahun pada hari ke empat belas bulan Kasada. Upacara yang selalu berlangsung pada saat bulan purnama ini sudah dilangsungkan sejak abad ke-14. Melalui upacara Yadnya Kasada ini warga setempat disibukkan dengan kegiatan adat untuk mempersiapkan peranti upacara.

Yadnya Kasada Gunung Bromo
Suasana pagi di jalur menuju puncak tepi kawah Gunung Bromo pada puncak ritual Yadnya Kasada. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Yadnya Kasada bagi masyarakat suku Tengger di Gunung Bromo merupakan sebuah ritual adat yang wajib diselenggarakan setiap tahunnya tanpa ada kompromi. Jadi walaupun Gunung Bromo sedang bererupsi, atau hujan tengah turun derasnya, dan angin badai menerpa, upacara tetap harus dilakukan.Tak ada alasan bagi warga Tengger untuk tidak menyelenggarakan ritual Yadnya Kasada di kawah Gunung Bromo.

Asal muasal Ritual Yadnya Kasada

Berdasarkan cerita rakyat setempat dan beberapa referensi sejarah yang ada, Yadnya Kasada merupakan sebuah ritual upacara adat untuk memohon keselamatan, kemakmuran, dan tolak bala kepada Sang Hyang Widhi. Ritual ini sudah diselenggarakan sejak berabad-abad silam saat manusia pertama kali mendiami kawasan kaki Gunung Bromo.

Upacara Yadnya Kasada
Umat Hindu Suku Tengger bersiap melarung sesajinya ke dalam kawah Gunung Bromo pada puncak ritual Yadnya Kasada. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Sebuah cerita rakyat menceritakan bahwa pada saat menjelang runtuhnya Kerajaan Majapahit dibawah pimpinan Prabu Brawijaya V pada sekitar abad ke XIV, ada seorang putri bernama Dewi Rara Anteng. Dewi Rara Anteng merupakan putri dari salah satu selir sang Raja Majapahit saat itu, yakni Prabu Brawijaya V. Karena terjadi pergolakan dan kerusuhan di pusat pemerintahan Majapahit di Trowulan, terjadilah eksodus besar-besaran oleh rakyat pada saat itu. Kebanyakan dari mereka menyeberang ke arah timur, seperti ke Kadipaten Blambangan atau sekarang dikenal dengan nama Kabupaten Banyuwangi, Pulau Bali, dan Pulau Lombok.

Upacara Yadnya Kasada
Umat Hindu Suku Tengger melempar sesaji berupa seekor ayam ke tepi kawah Gunung Bromo pada puncak ritual Yadnya Kasada. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Namun ada beberapa diantara mereka yang memilih melarikan diri menuju kaki Gunung Bromo, tak jauh dari pusat pemerintahan Majapahit di Trowulan, Jawa Timur. Mereka adalah Dewi Rara Anteng bersama suaminya Raden Jaka Seger seorang putera Brahmana, para pengawal, dan juga pengikutnya. Setelah berhasil melarikan diri, Dewi Rara Anteng dan Raden Jaka Seger beserta rombongannya kemudian tinggal menetap di kaki gunung tersebut dan membuat sebuah pemukiman. Kemudian mereka memerintah di kawasan Tengger dengan gelar ‘Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger’ atau penguasa Tengger yang budiman. Kawasan Tengger sendiri diambil dari nama belakang penguasanya saat itu, yakni Dewi Rara Anteng (Teng) dan Raden Jaka Seger (Ger).

Seiring berjalannya waktu, Dewi Rara Anteng dan Raden Jaka Seger beserta rakyatnya hidup damai, tentram, dan makmur. Tanah subur kaki pegunungan membuat hasil panen melimpah ruah, akan tetapi setelah bertahun-tahun menikah meraka tak kunjung dikarunia keturunan juga. Oleh sebab itu, Raden Jaka Seger dan Dewi Rara Anteng melakukan semedi atau bertapa di puncak Gunung Bromo (Brahma) tepat di tepi kawah.

Yadnya Kasada Gunung Bromo
Warga luar suku Tengger yang berdiri di tebing jurang kawah Gunung Bromo untuk berebut lemparan sesaji pada puncak ritual Yadnya Kasada. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Di tengah malam dalam pertapaanya, Dewi Rara Anteng dan Raden Jaka Seger mendapatkan bisikan gaib bahwa wirid atau keinginan mereka untuk mempunyai keturunan akan terkabul dengan satu syarat, yakni anak bungsunya harus dikorbankan di kawah Gunung Bromo. Pasangan suami istri keturunan Majapahit itupun menyanggupinya. Lantas singkat cerita, pasangan tersebut akhirnya dikarunia 25 orang anak, dan sang anak bungsu yang harus dikorbankan tersebut bernama Raden Hadi Kusuma yang tengah tumbuh menjadi seorang pria yang gagah perkasa.

Sebagai orang tua, naluri Dewi Rara Anteng dan Raden Jaka Seger tentu tidak rela apabila anaknya sendiri dikorbankan dengan dilarung ke dalam kawah Gunung Bromo. Karena mereka ingkar janji, Dewa pun murka. Langit di kawasan Tengger seketika berubah menjadi gelap gulita dan Gunung Bromo pun meletus dan mengeluarkan api. Raden Hadi Kusuma seketika lenyap terjilat oleh api dan masuk ke kawah Gunung Bromo. Bersamaan dengan kejadian tersebut kemudian terdengar suara gaib dari Raden Kusuma yang mengatakan bahwa dirinya telah dikorbankan untuk keselamatan warga Tengger dan mengingatkan untuk selalu menyembah Sang Hyang Widhi dan mengadakan sesaji setiap hari ke-14 di bulan Kasada. Semenjak saat itulah ritual Yadnya Kasada ini pertama kali dilakukan oleh warga suku Tengger di Gunung Bromo.

Upacara Yadnya Kasada
Warga luar suku Tengger yang berdiri di tebing jurang kawah Gunung Bromo untuk berebut lemparan sesaji pada puncak ritual Yadnya Kasada. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Upacara Yadnya Kasada
Warga luar suku Tengger yang berdiri di tebing jurang kawah Gunung Bromo untuk berebut lemparan sesaji pada puncak ritual Yadnya Kasada. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Puncak Prosesi Yadnya Kasada

Seiring berkembangnya peradaban manusia, Yadnya Kasada selain menjadi hari besar untuk melarung sesaji ke kawah gunung juga menjadi ajang untuk memilih dukun baru bagi tiap desa di kawasan Tengger. Peranan para dukun bagi warga suku Tengger amatlah penting karena untuk memimpin semua prosesi keagamaan, ritual adat, perkawinan, dan lain sebagainya. Sebelum terpilih, calon dukun baru tersebut haruslah melalui serangkaian ujian seperti menghafal mantera dan memimpin pembukaan upacara Yadnya Kasada yang dimulai dari Pura Luhur Poten yang berada di kawasan lautan pasir, tepat di bawah Gunung Bromo.

Yadnya Kasada Gunung Bromo
Seorang dukun tengah membacakan mantra di dalam Pura Luhur Poten di kaki Gunung Bromo pada pembukaan ritual Yadnya Kasada. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Setelah prosesi pembacaan mantera oleh sang dukun baru selesai dilaksanakan, para warga dengan membawa ongkek berisi sesaji naik menuju puncak Gunung Bromo untuk melarung sesaji berisi hasil bumi, uang, dan ternak mereka ke dalam kawah. Prosesi melarung sesaji oleh warga Tengger di bibir kawah ini menjadi prosesi puncak ritual Yadnya Kasada setelah sehari sebelumnya diadakan doa-doa di dalam pura dan prosesi pengambilan air suci dari tetesan yang merembes pada batu-batu di sebuah gua di Gunung Widodaren.

Yadnya Kasada Gunung Bromo
Suasana pagi di jalur menuju puncak tepi kawah Gunung Bromo dengan latar Gunung Batok pada puncak ritual Yadnya Kasada. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Para masyarakat Tengger meyakini dengan menggelar ritual Yadnya Kasada ini mereka akan dijauhkan dari malapetaka dan ternak serta hasil buminya akan melimpah. Selain menjadi simbol tolak bala dan wujud rasa syukur warga suku Tengger kepada Sang Hyang Widhi, ritual ini juga menjadi wujud penepatan janji mereka kepada Raden Hadi Kusuma dan ke-24 orang anak Dewi Rara Anteng dan Raden Jaka Seger yang menjadi cikal bakal lahirnya nenek moyang mereka.

Yadnya Kasada Gunung Bromo
Suasana pagi di jalur menuju puncak tepi kawah Gunung Bromo pada puncak ritual Yadnya Kasada. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Traveller’s note

  • Ritual upacara Yadnya Kasada diselenggarakan tiap tahunnya di Pura Luhur Poten yang berada tepat di bawah Gunung Bromo di kawasan lautan pasir. Pura ini menjadi satu-satunya pura agung di kawasan pemukiman suku Tengger.
  • Upacara yadnya Kasada selalu berlangsung bertepatan dengan bulan purnama dimana pada waktu itu malam akan terasa sangat dingin. Oleh karena itu, bawalah pakaian yang hangat seperti jaket, penutup kepala, sarung tangan, dan juga kaos kaki serta celana panjang.
  • Gunakan sepatu trekking atau sepatu gunung saat berkunjung untuk memudahkanmu melangkah di lautan pasir dan saat mendaki menuju puncak bibir kawah Gunung Bromo.
  • Bagi kamu para pejalan yang ingin mengikuti ritualnya dari awal hingga akhir, datanglah sejak dua atau tiga hari sebelum hari pelaksanaan.
  • Bila kamu mencari penginapan, terdekat dengan lokasi ritual upacara Yadnya Kasada, datanglah ke Desa Ngadisari yang berjarak hanya kurang lebih satu kilometer dari Gunung Bromo. Banyak pilihan penginapan dan villa di desa tersebut.
  • Bawalah masker dan jas hujan sebagai antisipasi apabila terjadi hujan, badai, atau semburan abu vulkanik Gunung Bromo.
  • Bagi kamu para fotografer, jagalah sikap dan junjung tinggi etika saat memotret ritual keagamaan ini.
  • Jaga dan simpan sampahmu.

TINGGALKAN KOMENTAR YUK!

Please enter your comment!
Please enter your name here