Tahun Baru Imlek: 1000 Cahaya di Langit Kota Solo

Suasana Tahun Baru Imlek di Pasar Gede, Solo.
Suasana sebelum malam perayaan Imlek di Bundaran Jam, Pasar Gede, Solo, yang dipenuhi hiasan lampion. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Pendar cahaya dari ribuan lampion yang berterbangan di langit Kota Solo menyemarakkan malam yang gelap. Setiap pasang mata yang ada di kawasan Pasar Gede Hardjonagoro pun larut dalam sukacita. Lampion yang diterbangkan pada malam tahun bau Imlek ini memiliki makna akan adanya harapan, keberuntungan, serta rezeki berlimpah di tahun yang baru.

Dum…dum...teng…teng...teng… tepat pukul 23.55 WIB terdengar tabuhan bedug dan suara lonceng yang bersahut-sahutan sebanyak 36 kali dari Klenteng Tien Kok Sie, menandakan tahun baru Imlek di Solo akan segera dimulai. Kembang api pun dinyalakan, masyarakat pun tumpah ruah di sepanjang Jl, Urip Sumoharjo, Solo.

Langit kota Solo tiba-tiba bertabur gemerlap cahaya. Sebanyak seribu lampion yang disediakan panitia Tahun Baru Imlek di Solo dilepas sebagai tanda berakhirnya tahun berdasarkan kalender Tiongkok. Berbagai pertunjukan seni khas masyarakat Tionghoa, penampilan Barongsai dan Liong, suguhan berbagai macam lampion, hingga pesta kembang api menjadi puncak dari rangkaiaan perayaan tahun baru Imlek di Solo. Suasana pun riuh dan penuh tawa sukacita. Festival Lampion yang menjadi bagian dari perayaan Tahun Baru imlek di Solo ini merupakan kerjasama dari masyarakat Tionghoa dan Pemerintah Kota Solo.

Sebelum malam puncak, saya kembali berada di barisan penonton yang tak henti menyalakan kamera smartphonenya untuk mengabadikan lampion yang terpajang cantik di sekitar Pasar Gede Solo. Sebuah gerbang lampion menarik perhatian saya untuk turut berpose di antara kerumunan penonton lainnya. Seperti memasuki kawasan Pecinan, jalan utama Pasar Gede sudah menjadi lautan lampion dengan manusia disekelilingnya. Selain gerbang lampion yang berada di jembatan, panitia Tahun Baru Imlek di Solo juga membuat langit-langit gerbang penuh dengan bola merah menyala. Bentuk patung dewa Tionghoa juga ada di sana.

“Kasih jalan, minggir,” gerombolan pria berbadan besar menata para pengunjung yang memadati kawasan sekitar Pasar Gede dan Klenteng Tien Kok Sie. Saya juga ikut terdorong dan berada di bahu jalan sebelum suara gendang khas Tiongkok berbuyi, tanda kirab malam tahun baru dimulai.

Begitu kirab dimulai, sejumlah Barongsai Liong melakukan atraksi yang menawan di tengah penonton. Lenggak lenggok barongsai dan kelincahan para pemainnnya membuat penonton terkesima. Dengan anggunnya mereka bergerak seirama tabuhan gong dan tambur. Semakin cepat suara tambur, semakin lincah mereka bergerak. Mata liong pun berkedip genit, menggoda para penonton yang terpana melihatnya.

Rombongan Barongsai Liong itu berjalan memutari jam besar Pasar Gede. Pertunjukan makin meriah dengan adanya naga khas Tiongkok yang juga melakukan berbagai atraksi nyentrik. Tawa penonton membuncah saat Barongsai Liong mendapatkan uang atau saweran dari sejumlah penonton malam itu.

Tak jauh beda dengan kondisi di jalan raya, para penganut Tri Dharma yang berada di Klenteng Tien Kok Sie juga merayakan tahun baru Imlek dengan penuh suka cita. Harum hio menguar dengan tajam, membuat udara malam semakin wangi. Kue keranjang, buah-buahan, dan aneka penganan khas imlek juga melimpah ruah dan boleh dinikmati siapa saja.

Malam itu, tak hanya kawasan Pasar saja yang dibanjiri pengunjung, Benteng Vastenburg juga menjadi salah satu lokasi tempat berlangsungnya rangkaian acara untuk memperingati tahun baru Imlek. Solo Imlek Festival juga menarik perhatian saya untuk menilik sebuah pertunjukan seni Tionghoa yang ditampilkan selama satu minggu sampai malam tahun baru Imlek di Solo tiba.

Sebelum kembang api menyala, ketika langit masih terlihat bercahaya, saya menyempatkan masuk ke dalam kawasan benteng yang dibangun pada masa penjajahan Belanda tersebut. Seperti masuk ke sebuah pasar di negara Tiongkok, gerbang utama dihias lampion merah menyala dengan sejumlah pernak pernik lainnya.

Selain pertunjukan seni, kamu juga bisa menikmati aneka kuliner khas Tionghoa dan Jawa di stan kuliner. Pakaian, otomotif, kaligrafi Tiongkok, serta aksi peramal juga bisa kamu nikmati di Solo Imlek Festival. Setiap malam, panggung budaya menampilkan kesenian akulturasi Tionghoa dan Jawa, seperti Karayang yang merupakan perpaduan karawitan dan Yang Kim serta fashion show dengan model busana Cheong Sam. Ada pula wayang potehi, wushu, tari modern, yang kim (seni musik Tionghoa) dan masih banyak lainnya.

Perayaan Imlek di Solo memang kental dengan perpaduan budaya Jawa dan Tionghoa, hal tersebut terlihat dari kedua maskot yang digunakan dalam Imlek tahun itu. Patung Kera Sakti atau Sun Go Kong dan Hanoman (Kera dalam cerita Ramayana) menjadi maskot utama rangkaian acara Imlek yang berlangsung selama satu minggu menjelang malam Imlek. Tak hanya kedua tokoh kera yang ikut memeriahkan Imlek kali ini. Sebuah patung dewa uang atau rejeki bernama Cai Shen juga bisa disaksikan di kawasan Pasar Gede. Konon, keberadaan patung ini akan membawa rejeki melimpah kepada masyarkat.

Setelah ribuan lampion harapan diterbangkan, usai sudah seluruh rangkaian acara Imlek di Solo. Saya yang berkesempatan menerbangkan lampion putih itu berharap semoga Indonesia menjadi negara yang lebih damai, nyaman, dan sejahtera.

Warga Sedang Berdoa di Klenteng Tien kok Sie
Warga sedang berdoa di Klenteng Tien Kok Sie, Solo dalam rangkaian Tahun Baru Imlek di Solo. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Tradisi Bagi Bagi Angpao Imlek
Warga sedang berebut angpau dalam rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek di Solo. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Kemeriahan Lampion Dalam Imlek Solo
Warga berpose di kawasan Jembatan Pasar Gede, Solo, yang dipenuhi hiasan lampion perayaan Tahun Baru Imlek 2566. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Suasana Gapura Pasar Gede Saat Imlek
Warga memadati area perayaan malam Tahun Baru Imlek 2566 di Titik Nol Kilometer, Solo. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Ibadah Menyambut Tahun Baru Imlek
Warga bersembahyang pada malam perayaan Tahun Baru Imlek 2566 di Bundaran Jam, Pasar Gede, Solo. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Berdoa Kepada Dewa Cai Shen (Dewa Uang))
Warga sedang melakukan ritual/berdoa kepada dewa Cai Shen atau dewa uang di klenteng Tien Kok Sie, Pasar Gede, Solo. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Atraksi Liong Dalam Perayaan Imlek Solo
Prajurit Kostrad memainkan atraksi liong pada malam perayaan Tahun Baru Imlek 2566 di Bundaran Jam, Pasar Gede, Solo. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Melepas Lampion di Pasar Gede, SOlo
Sejumlah warga sedang berusaha melepas lampion pada perayaan Tahun Baru Imlek di Pasar Gede, Solo. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Suasana Pasr Gede Dalam Perayaan Imlek Solo
Suasana Pasar Gede dalam perayaan Tahun Baru Imlek di Kota Solo. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Traveler’s Note :

  • Jika kamu ingin melihat pertunjukan Barongsai Liong atau lampion yang terpasang, ada baiknya kamu datang sekitar pukul 18.00 WIB. Sebab meski puncak acara pada pukul 24.00 WIB, tapi masyarakat sudah membanjiri kawasan tersebut dari sore hari.
  • Pakailah pakaian yang nyaman. Jangan menggunakan baju yang mencolok atau high heels karena kamu harus berdesak-desakan dengan pengunjung lain untuk mendapatkan gambar yang bagus.
  • Disarankan membawa barang seperlunya seperti ponsel, dompet, kamera, serta camilan atau air minum. Tinggalkan barang-barang berharga lainnya di dalam rumah.
  • Jika membawa ransel, ada baiknya kamu gendong di depan untuk menghindari kecopetan. Ransel yang kamu dekap akan jauh lebih aman jika dibandingkan berada di punggung.
  • Bagi kamu yang membawa kendaraan pribadi, bisa memarkir kendaraan di sekitar Benteng Vastenburg atau di sepanjang Jl. Widuri (Pasar Gede).
  • Bawalah bekal secukupnya. Meskipun terdapat banyak penjual makanan dan minuman, kamu akan kesulitan mencari kedua hal tersebut jika kirab sudah dimulai karena kawasan Pasar Gede akan benar-benar padat.

TINGGALKAN KOMENTAR YUK!

Please enter your comment!
Please enter your name here