Upacara Melasti Parangkusumo, Ritual Melarung Sesaji Dan Membasuh Diri Jelang Perayaan Nyepi

Upacara Melasti di Pantai Parangkusumo
Pemuka adat umat Hindu melarung sesaji saat upacara Melasti di Pantai Parangkusumo. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)

Dalam balutan busana Bali, orang-orang menyemut di tepi Pantai Parangkusumo untuk melakukan upacara Melasti. Ritual keagamaan yang dilangsungkan setahun sekali sebelum perayaan Nyepi ini bertujuan untuk membersihan diri dari segala keburukan supaya bisa menyambut tahun baru saka dengan jiwa yang baru.

Jarum pendek jam di pergelangan tangan sudah berada di angka 2, pertanda sudah lebih dari dua jam saya menunggu. Namun upacara Melasti belum juga dimulai. Sedangkan mendung pekat bergelantung di langit Parangkusumo. “Semoga tidak hujan,” doa saya dalam hati. Namun rupanya permohonan saya tidak terkabul. Tak berapa lama butiran bening mulai meluncur dari langit mencipta gerimis kecil. Saya mengeluh pelan.

Berbeda dengan saya yang mengeluh, umat Hindu yang mulai berdatangan dan memenuhi salah satu sisi Pantai Parangkusumo tersebut tidak menjadikan gerimis sebagai penghalang berarti. Mereka tetap semangat menunggu dimulainya upacara Melasti. Beberapa orang berpakaian putih dengan udeng mulai tiba dan menaruh sesaji di atas meja persembahan yang berderet di bibir pantai. Alunan gending Bali terdengar lembut, berpadu dengan debur ombak dan desir angin yang menggoyangkan penjor janur.

Upacara Melasti di Pantai Parangkusumo
Seorang umat Hindu sedang menyiapkan sesaji sebelum upacara Melasti dimulai. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)

Tak berapa lama, rombongan dari Pura Jagadnatha Banguntapan Bantul mulai memasuki kawasan Parangkusumo. Iring-iringan tersebut selain membawa air suci yang diambil dari Sendang Beji juga membawa tandu yang berisi ubarampe sesaji, senjata adat, serta umbul-umbul kuning keemasan. Lantas semua barang tersebut ditata rapi di bibir pantai. Rangkain bunga, buah-buahan, sesaji, dan tumpeng warna-warni, menciptakan kombinasi warna yang semarak. Aroma dupa dan wangi bunga pun menguar dengan tajam. Untuk sesaat saya merasa sedang berada di Bali dan bukan di Jogja.

Ritual Melasti pun akhirnya dimulai. Beberapa gadis berparas ayu yang mengenakan pakaian adat Bali melenggak-lenggokan tubuhnya dengan anggun sembari membawa sesaji dalam nampan. Gerakan mereka begitu luwes dan indah, bola mata yang hitam dan bulat tak lupa melirik ke kiri dan kanan mengikuti alunan gamelan Bali yang sigrak. Di akhir tarian, semua mengitari meja saji dan berputar beberapa kali.

Upacara Melasti di Pantai Parangkusumo
Para umat Hindu sedang melakukan rangkaian upacara Melasti di Pantai Parangkusumo. (Benedcitus Oktaviantoro/Maioloo.com)
Upacara Melasti di Pantai Parangkusumo
Para umat Hindu sedang melakukan rangkaian upacara Melasti di Pantai Parangkusumo. (Benedcitus Oktaviantoro/Maioloo.com)

Usai pertunjukan tari-tarian dan sambutan dari pimpinan umat serta bupati Bantul, beberapa sesaji mulai dibawa ke bibir pantai oleh para penari dan resi untuk kemudian dilempar ke laut. Masyarakat sekitar yang turut menyaksikan prosesi ini dengan semangat berlari ke bibir laut untuk merebut sesaji sebelum hilang tersapu gelombang. Beberapa benda pusaka milik pura juga dibersihkan pada saat ritual ini, seperti arca, pralingga dan pratima.

Begitu sesaji pambuka dilarung ke laut, acara sembahyang pun dimulai. Dipimpin seorang pandita yang duduk dimeja persembahan, seluruh umat melangsungkan doa dan pemujaan dengan khusyuk. Suara pandita yang melantunkan pujian dan doa dengan iringan gamelan Bali menjadikan suasana semakin sakral. Umat pun tak lupa menangkupkan kedua tangan yang berselipkan bunga di atas dahi. Mereka memuji Sang Hyang Widi Wasa, sekaligus memohon pengampunan dan berkat. Di akhir pemujaan, seluruh umat diberi percikan air suci dan beras yang telah diberkahi dengan doa.

Upacara Melasti di Pantai Parangkusumo
Para umat Hindu sedang sembahyang di upacara Melasti di Pantai Parangkusumo. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)

Sembahyang memang telah berakhir, namun prosesi Melasti belum berakhir. Masih ada prosesi pamungkas sekaligus puncak dari keseluruhan acara yakni melarung seluruh sesaji yang dibawa ke samudra. Sesaji tersebut dipersembahkan kepada Dewa Ruci sebagai penjaga lautan yang dipercaya menjadi sumber kehidupan. Saat melarung sesaji, semua umat berbondong-bondong meninggalkan tempat duduknya dan berjalan menuju laut. Mereka wajib membasuh dirinya dengan air laut sebagai simbol penghanyutan segala kekotoran dan keburukan diri. Tak cukup hanya membasuh kaki, banyak di antara mereka yang menceburkan diri sekaligus mandi air laut. Suasana pun berubah semarak dan penuh tawa. Dengan selesainya larung sesaji, berakhir pula ritual Melasti kali ini. Seiring mentari yang condong ke arah barat, satu demi satu umat mulai meninggalkan Parangkusumo dan bersiap untuk melangsungkan Tawur Agung Kesanga sebelum hari raya Nyepi.

Upacara Melasti di Pantai Parangkusumo
Pemuka adat sedang menyiramkan tirta/air suci kepada umat Hindu Yogyakarta. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)

Traveller’s Notes

  • Upacara Melasti dilangsungkan setahun sekali, sekitar tiga atau empat hari sebelum perayaan Nyepi. Di Yogyakarta acara ini digelar di dua tempat, yakni di Pantai Ngobaran Gunungkidul dan Pantai Parangkusumo Bantul.
  • Melasti di Pantai Parangkusumo biasa dimulai pukul 13.00 atau 14.00 WIB. Jika kamu tertarik untuk mengikuti prosesi ini disarankan untuk datang jauh sebelum jam tersebut supaya mendapatkan tempat yang strategis untuk memotret.
  • Selain sebagai peristiwa budaya, Melasti adalah ritual keagamaan umat Hindu, karena itu kamu sebaiknya turut menjaga kekhusukan dan keheningan saat sedang beribadah. Ambilah gambar dari posisi yang aman supaya tidak mengganggu umat yang bersembahyang.
  • Kenakanlah pakaian yang nyaman dan sopan. Berhubung acara dilangsungkan siang hari, akan bijak jika kamu membawa topi atau penutup kepala supaya bisa melindungimu dari terik mentari maupun guyuran hujan.

TINGGALKAN KOMENTAR YUK!

Please enter your comment!
Please enter your name here