Kirab Kebo Bule: Ritual Sakral Keraton Surakarta di Malam Satu Suro

Kirab Kebo Bule Malam Satu Suro di Solo
Kawanan Kebo Bule keramat keturunan Kyai Slamet saat tiba di depan Kori Kemandungan, Keraton Kasunanan Surakarta. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Bagi masyarakat Jawa, malam satu Suro dalam penanggalan Jawa adalah sebuah malam sakral nan kramat. Pada malam itu, orang-orang ramai menggelar berbagai ritual maupun semadi sebagai wujud laku prihatin. Di Solo, Jawa Tengah, para abdi dan sentono dalem Keraton Kasunanan Surakarta menggelar tradisi Kirab Kebo Bule keturunan Kyai Slamet sebagai cucuk lampah memimpin barisan terdepan kirab pusaka mengelilingi kota.

Tak seperti pada hari biasa, menjelang tengah malam itu Keraton Kasunanan Surakarta nampak sibuk. Para punggawa setianya sedang berkumpul dan bersiap diri mengikuti hajatan Keraton. Beberapa diantaranya terlihat khidmat berdoa. Kedua telapak tangannya mengatup sambil mulutnya komat kamit mengucapkan permohonannya kepada Yang Maha Kuasa dengan media kembang dan dupa di dalam kompleks istana.

Kirab Kebo Bule Malam Satu Suro di Solo
Para abdi dalem berkumpul di dalam kompleks Keraton Kasunanan Surakarta menunggu dimulainya Kirab Kebo Bule di malam satu suro. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Jarum jam hampir menunjuk pukul 00.00 WIB, namun suasana di luar kompleks Istana Kasunanan Surakarta malah semakin ramai oleh masyarakat. Ratusan abdi dalem kakung maupun putri yang sudah sedari berjam-jam lalu berkumpul di dalam Keraton mulai beranjak keluar dari kompleks Keraton. Mereka menanti datangnya pergantian hari sebagai tanda waktu akan dimulainya ritual sakral nan mistis di malam satu suro, yakni Kirab Kebo Bule mengawal pusaka Keraton.

Setiap malam satu suro tiba, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tak pernah absen menggelar ritual Kirab Kebo Bule keturunan Kyai Slamet. Ritual ini diselenggarakan untuk memohon berkah dan keselamatan serta sebagai wujud refleksi diri untuk menyambut tahun baru dalam penanggalan Jawa yang juga bertepatan dengan tahun baru Islam.

Bagi masyarakat Kota Solo, Kirab Kebo Bule merupakan momentum yang dinanti tiap tahunnya. Ritual tersebut merupakan simbol budaya nan adiluhung penanda datangnya Bulan Suro atau Muharam. Warga dari berbagai daerah di luar kota pun berdatangan untuk sekedar menonton ataupun ngalap berkah dari prosesi ritual Kebo Bule ini. Sebagian dari mereka percaya bahwa mengikuti kirab ini dapat membawa berkah dan keselamatan hidup kedepannya.

Kirab Kebo Bule Malam Satu Suro di Solo
Seorang abdi dalem berdoa di dalam kompleks Keraton Kasunanan Surakarta sebelum dimulainya Kirab Kebo Bule di malam satu suro. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Ritual Kebo Bule di malam satu suro ini diawali dengan memanjatkan doa oleh para abdi dalem di depan Kori Kemandungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Seusai berdoa, para abdi dalem tersebut kemudian menyebar singkong dan taburan kembang tujuh rupa untuk menyambut kedatangan si Kebo Bule keturunan Kyai Slamet yang dikeramatkan itu.

Konon katanya, ritual baru akan dimulai ketika si Kebo Bule mau berjalan keluar kandang dengan sendirinya. Jadi apabila sang kerbau belum mau keluar kandang, maka dapat dipastikan prosesi ritual belum dapat dimulai. Tak ada satupun abdi maupun sentono dalem Keraton Surakarta yang berani memaksa si kerbau berjalan, mengingat hewan tersebut sangat dikeramatkan. Para punggawa Keraton tak memperlakukan sang kerbau keramat tersebut layaknya hewan biasa, malahan mereka memperlakukannya seperti seorang pangeran.

Setelah sang Kebo Bule keturunan Kyai Slamet datang di depan Kori Kemandungan Keraton, para abdi dalem pun menyambutnya dengan penuh penghormatan gaya kejawen. Mereka melakukan sungkem di depan kerbau keramat, lalu mengalungkannya dengan untaian kembang melati dan kantil. Setelah itu sang kerbau dibiarkan memakan tebaran singkong di depan Kori Kemandungan Keraton.

Kirab Kebo Bule Malam Satu Suro di Solo
Abdi dalem putri berdoa menggunakan sesajen di depan Kori Kemandungan Keraton Kasunanan Surakarta sebelum dimulainya Kirab Kebo Bule malam satu suro. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Saat kawanan Kebo Bule tiba, suasana pun terasa semakin riuh. Banyak warga yang berusaha ingin menyentuhnya berharap mendapat berkah ataupun sekedar mengabadikannya melalui gawai mereka masing-masing. Para pengawal prosesi kirab pun langsung menghalau warga yang berusaha menyentuh sang kerbau keramat. Wajar saja, sekawan Kebo Bule keturunan Kyai Slamet yang dikeramatkan itu dikenal sangat sensitif, diharapkan kerbau keramat itu tidak terganggu oleh kerumunan warga sehingga mau berjalan sendiri untuk memulai prosesi kirab.

Tak lama berselang, sekawanan Kebo Bule keramat tersebut berjalan sendiri dari depan Kori Kemandungan keluar kompleks Keraton. Berjalannya sang kerbau keramat menandakan dimulainya prosesi kirab pusaka di malam satu suro. Dengan didampingi srati atau pawang kerbau berbaju putih, sebanyak empat ekor Kebo Bule keturunan Kyai Slamet mempimpin jalannya kirab di barisan paling depan.

Ribuan warga pun terlihat telah memadati sepanjang jalur rute kirab di kanan dan kiri. Tak ada kilatan lampu flash dan juga gema suara manusia. Hanya derap langkah para peserta kirab tak beralas kaki yang terdengar, semua hening ketika kirab Kebo Bule berlangsung. Di belakang sang kerbau keramat, barisan punggawa kerajaan membawa tombak dan sejumlah koleksi pusaka milik Keraton Kasunanan Surakarta.

Asal-usul Kebo Bule Kyai Slamet

Kirab Kebo Bule Malam Satu Suro di Solo
Suasana Kirab Kebo Bule malam satu suro saat melewati kawasan Bundaran Gladak, Solo. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Kebo bule keturunan Kyai Slamet yang dikeramatkan oleh pihak Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tersebut adalah jenis kerbau albino yang memiliki corak kulit berwarna putih dengan bintik kemerah-merahan. Persis seperti kulit orang-orang (bule) Eropa. Oleh sebab itu kerbau berkulit putih ini dikenal luas oleh masyarakat Kota Bengawan dengan sebutan Kebo Bule.

Konon ceritanya, Kebo Bule tersebut merupakan pemberian dari Bupati Ponorogo pada Sri Susuhanan Paku Buwono II saat masih bertahta di Keraton Kartasura, sekitar lima kilometer kearah barat dari Keraton sekarang yang berada di Kota Solo (dahulu bernama Desa Sala). Kerbau tersebut bukanlah kerbau biasa.

Kebo Bule sangat dikeramatkan dan menjadi salah satu ‘pusaka’ paling penting di Keraton Surakarta. Sejarahnya tertulis dalam beberapa literatur Jawa kuno, seperti tertera dalam Babad Giyanti karya pujangga kuno dan juga Babad Sala karya Raden Mas Said yang juga bergelar Adipati Mangkunegaran I. Kesemuanya menceritakan bahwa nenek moyang Kebo Bule adalah binatang kesayangan Sunan Paku Buwono II.

Kirab Kebo Bule Malam Satu Suro di Solo
Salah satu kerbau keramat keturunan Kyai Slamet didampingi pawang sebelum memulai Kirab Kebo Bule malam satu suro di depan Kori Kemadnungan, Keraton Surakarta. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Alkisah menceritakan bahwa saat Sri Susuhunan Paku Buwono II ingin mencari lahan baru untuk dijadikan Keraton yang baru, beliau mempercayakannya pada Kebo Bule Kyai Slamet pemberian Bupati Ponorogo tersebut. Ketika itu, pusat pemerintahan masih berada di Keraton Kartasura. Akhirnya, sejumlah Kebo Bule Kyai Slamet dilepas dari kandang dan dibiarkan berjalan dengan diikuti para abdi dalem dari kejauhan. Saat sekawanan Kebo Bule itu berhenti di sebuah desa bernama Desa Sala, kemudian di lokasi tersebutlah Keraton yang baru akan dibangun. Saat ini desa tersebut menjadi Kota Solo dengan Keraton Kasunanan Surakarta sebagai istana kerajaannya.

Tradisi Mengenang Sultan Agung

Kirab Kebo Bule Malam Satu Suro di Solo
Rombongan iring-iringan abdi dalem yang membawa pusaka milik Keraton Kasunanan Surakarta pada Kirab Kebo Bule malam satu suro. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Selain sebagai ritual untuk menyambut datangnya tahun baru Jawa, Kirab Kebo Bule di malam satu suro ini juga merupakan bentuk penghormatan atas karya Sultan Agung Hanyokrokusumo. Kalender penanggalan Jawa merupakan salah satu karyanya sebagai pengganti kalender saka dalam penanggalan Hindu yang berbasis pada perputaran matahari. Kalender Jawa karya Sultan Agung ini mengadopsi penanggalan Islam yang berbasis pada perputaran Bulan.

Sultan Agung adalah Sultan ketiga yang memerintah Kerajaan Mataram Islam (1613 – 1645) sebagai cikal bakal Keraton Kasunanan Surakarta di Solo dan Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat di Yogyakarta. Di bawah panji kepemimpinan Sultan Agung, Mataram berkembang menjadi kerajaan islam terbesar di Nusantara pada masa itu.

Saat itu, masyarakat di tanah Jawa masih banyak yang mengikuti sistem penanggalan saka yang berbasis dari tradisi agama Hindu. Sultan Agung sebagai pemimpin Kerajaan Islam terbesar di Nusantara pada masa itu berusaha mengubah dan mengalihkan paham agama Hindu di Jawa menjadi agama Islam. Salah satu bentuk upaya Sultan Agung adalah mengubah kalender saka menjadi penanggalan Jawa yang mengadopsi penanggalan Qomariah atau penanggalan dalam kalender Islam yang berbasis pada perputaran Bulan. Uniknya, angka tahun Saka tetap digunakan dan diteruskan, tidak mengikuti perhitungan Hijriyah pada saat itu demi alasan kesinambungan peralihan Hindu menjadi Islam, sehingga tahun saat itu 1547 Saka diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa.

Hingga saat ini, setiap tahunnya tradisi malam 1 Suro selalu diadakan oleh Keraton Surakarta maupun Keraton Yogyakarta sebagai penerus Kesultanan Mataram. Ritual malam satu suro sendiri sejatinya merupakan wujud rekfleksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya dengan disertai harapan akan berkah dari Sang Pencipta.

TINGGALKAN KOMENTAR YUK!

Please enter your comment!
Please enter your name here