Peserta-Asing-Jemparingan
Salah satu peserta negara asing juga ikut serta dalam Lomba Jemparingan yang diadakan di Lapangan Kemandungan, Kompleks Keraton Yogyakarta. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)

Belasan anak panah melesat jauh menuju sasaran begitu tali busur ditarik ke belakang. Buk, buk, buk… satu persatu menancap di papan target yang terbuat dari jerami dibungkus kain. Beberapa diantaranya meleset dan jatuh ke tanah. Lantas anak-anak kecil pun berlarian mengumpulkan anak panah yang tertancap dan mengembalikannya kepada para pemanah. Inilah keseruan acara Jemparingan yang bisa disaksikan tiap Selasa wage di Lapangan Kemandungan, Yogyakarta.

“Rambahan kaping setunggal”, seru seorang pria paruh usia melalui pengeras suara pada Selasa sore nan sejuk. Suaranya dalam bahasa Jawa itu terdengar lantang memenuhi Lapangan Kemandungan yang berada tepat di belakang gedung Sasono Hinggi Dwi Abad di Alun-alun Selatan, Yogyakarta. Bunyi peluit panjang pun mengikuti seruan tersebut. Inilah tanda bahwa acara Jemparingan atau lomba panahan gaya Mataram yang diadakan oleh Keraton Yogyakarta sudah dimulai.

Suasana-Lomba-Jemparingan
Suasana para peserta lomba Jemparingan yang duduk dengan sikap sila. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)

Satu persatu anak panah melesat dari busur para pemanah tradisional yang duduk bersila di lembaran tikar. Target mereka adalah mendapatkan poin sebanyak mungkin. Poin akan semakin tinggi jika mereka berhasil mengenai target berupa jerami yang dibungkus kain dan diikatkan pada seutas tali dengan jarak 30 meter di depan mereka. Setiap kali ada anak panah yang mengenai target, petugas pun membunyikan alat musik tradisional bonang sebagai penanda.

Lomba panahan ini akan berlangsung selama 20 rambahan atau putaran. Dalam setiap rambahan para peserta memiliki kesempatan memanah sebanyak 4 kali. Begitu rambahan pertama usai, para pemanah selanjutnya mulai beringsut duduk berjajar dengan rapi di atas tikar. Sebelum mulai memanah mereka memeriksa gandewa atau busur panahnya masing-masing, lantas memandang penuh konsentrasi ke titik sasaran. Perlu ketelitian dan ketenangan ekstra untuk bisa menaklukkan titik sasaran dengan busur panah yang ada.

Jemparingan-Jawi-Mataram
Para peserta lomba Jemparingan yang diadakan di Lapangan Kemandungan, Kompleks Keraton Yogyakarta. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Jemparingan-Jawi-Mataram
Para peserta lomba Jemparingan yang diadakan di Lapangan Kemandungan, Kompleks Keraton Yogyakarta. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Hal yang membuat jemparingan begitu unik adalah peraturan yang mengharuskan semua pesertanya mengenakan pakaian adat Jawa. Yang pria memakai jarik dan surjan lengkap dengan blangkon, sementara perempuannya memakai kebaya dan jarik. Saat memanah pun posisinya berbeda dengan olahraga panahan biasa. Dalam Jemparingan, para pemanah tidak berdiri melainkan duduk bersila di atas tikar panjang.

Jemparingan sendiri adalah budaya Keraton Yogyakarta yang sudah ada sejak zaman dahulu. Awalnya kegiatan ini merupakan kegiatan latihan yang dilakukan oleh para prajurit keraton sehingga dinamakan Jemparingan Jawi Mataram. Namun seiring berjalannya waktu Jemparingan bertransformasi menjadi olahraga tradisional yang bisa diikuti oleh siapa pun.

Jemparingan-Jawi-Mataram
Para peserta Jemparingan di Lapangan Kemandungan, Kompleks Keraton Yogyakarta. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Menurut Abdi Dalem Kraton Kasultanan Yogyakarta dan Ketua Paguyuban Panahan Tradisional Jemparingan Yogyakarta, KPH. Winoto Kusumo, makna Jemparingan atau memanah adalah mengajarkan kita untuk mengasah dan meningkatkan daya konsentrasi.Konsentrasi sendiri dipengaruhi berbagai elemen, diantaranya daya fokus, kesabaran, keseimbangan, serta pernafasan teratur dan stabil demi ketajaman menemui titik sasaran oleh sang ksatria panah. Barang siapa yang dapat mengendalikan konsentrasi diri serta menguasai keseimbangan dan pernafasan tubuh dengan fokus, dialah pemenangnya. Hal tersebut menandakan bahwa sang ksatria panah mampu mengasah rasa dan membangun hubungan dengan sesuatu yang jauh dari kita.

Jemparingan-Jawi-Mataram
Seorang panitia Jemparingan di Lapangan Kemandungan, Kompleks Keraton Yogyakarta sedang mengambil busur panah yang mengenai “wong-wongan” atau target. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)

Saat ini gladen Jemparingan dilaksanakan rutin setiap Selasa wage (kalender Jawa) atau setiap 35 hari sekali. Lomba ini untuk memperingati hari kelahiran Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Selain itu Jemparingan Jawi mataram juga biasa digelar saat peringatan “Tingalan Dhalem” atau naik tahtanya Sultan HB X. Di hari itu, para ksatria panah di tanah mataram (Yogyakarta dan Surakarta) bertemu dan saling mengadu insting ketepatan dalam melesatkan anak panah ke sebuah sasaran berupa bandul atau bedor dengan jarak kurang lebih 30 meter dengan 20 ronde atau putaran. Nantinya tiap pemanah akan dibantu para cucuk atau asisten untuk mengumpulkan anak panah mereka. Yang menjadi cucuk biasanya anak-anbak kecil.

Tak hanya kostum pesertanya yang tradisional, peralatan yang digunakan untuk jemparingan pun tradisional. Busur dan anak panah yang digunakan dalam kegiatan ini biasanya terbuat dari bambu khusus yakni jenis bambu petung. Selain itu, bahan lain yang biasa digunakan untuk membuat peralatan jemparingan adalah kayu walikukun dan kayu jeruk nipis.

Jemparingan-Jawi-Mataram
Peserta lomba Jemparingan sedang memeriksa anak panahnya di Lapangan Kemandungan, Kompleks Keraton Yogyakarta. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Jemparingan Jawi Mataram
Peserta lomba Jemparingan sedang memeriksa anak panahnya di Lapangan Kemandungan, Kompleks Keraton Yogyakarta. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Seperti lomba pada umumnya, lomba panahan ini juga memperebutkan hadiah berupa piala dan uang tunai. Meski nominal uangnya tidak besar, tetap saja acara ini diminati. Sebab yang mereka cari bukanlah materi melainkan kepuasan dan rasa kebersamaan, serta perasaan bangga karena telah turut serta melestarikan budaya yang ada. Lomba yang diselingi kehangatan dan tawa canda antar-pemanah ini pun usai saat matahari mulai terbenam, tepat ketika pemanah terakhir melesatkan anak panah pamungkas di penghujung putaran ke-20.

“Kepanggih malih Selasa Wage ingkang ngajeng, nggih (sampai jumpa lagi hari selasa mendatang, ya” kata pria yang bertugas sebagai pemandu acara. Koor serempak pun muncul dari deretan pemanah dan para penonton yang datang “Nggih”.

Jemparingan-Jawi-Mataram
Seorang peserta sedang berusaha memanah ke arah “wong-wongan” atau target sasaran. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)

Traveller’s Note

  • Jemparingan Mataram dilangsungkan setiap 35 hari, tepatnya tiap hari Selasa Wage (kalender Jawa). Acara ini biasa dilaksanakan di Lapangan Kemandungan yang tak jauh dari Alun-Alun Selatan / Alkid Yogyakarta.
  • Acara ini biasa dimulai sekitar pukul 14.00 WIB. Jika kamu tertarik untuk menyaksikannya pastikan datang sebelum jam tersebut.
  • Acara ini gratis dan terbuka bagi siapa pun. Penonton tidak dikenai biaya untuk menyaksikan acara ini.
  • Jika kamu tertarik untuk belajar memanah dan mengikuti olahraga Jemparingan ini kamu bisa bertanya langsung tentang cara-caranya kepada panitia di lokasi.

TINGGALKAN KOMENTAR YUK!

Please enter your comment!
Please enter your name here