Grebeg Sudiro, Serunya Berebut Gunungan Kue Keranjang

Grebeg Sudiro Solo
Warga berebut Gunungan berisi kue keranjang pada acara Grebeg Sudiro di kawasan Pasar Gede. Grebeg Sudiro adalah perayaan budaya yang memadukan budaya dari etnis dari masyarakat Tionghoa dan Jawa dan diakhiri dengan memperebutkan gunungan berisi kue keranjang khas Tiongkok. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Senyum sumringah terbit di wajah pemain simbal yang dibalut pakaian khas Tionghoa berwarna merah. Di tengah pertunjukan Barongsai dan Liong dalam acara Grebeg Sudiro, dia memainkan alat musiknya dengan rancak. Di depannya sepasang barongsai bergerak dengan lincah sambil sesekali berkedip genit ke arah ribuan penoton yang berjubel di kawasan Pasar Gede, Solo.

Boulevard Pasar Gede Solo, tepatnya di Jl. Sudiroprajan, menjelma menjadi lautan manusia. Saya pun membaur bersama ribuan masyarakat yang tengah menonton pertunjukkan tahunan dari masyarakat keturunan Tionghoa – Jawa. Kirab yang diawali dengan pasukan Keraton Kasunanan Surakarta dimulai dari Klenteng Tien Kok Sie, yang berada di sebelah Pasar Gede Hardjonagoro, melewati Jl. Jend. Sudirman, RE Martadinata sampai kembali lagi ke Pasar Gede melalui Jl. Urip Sumoharjo. Setelah pasukan Keraton, hadir juga marching band dari anggota TNI AD yang melakukan atraksi menggunakan Naga di tengah kirab.

Beruntung, saya datang lebih awal dan mendapat posisi strategis untuk menyaksikan arak-arakan menyambut tahun baru Imlek itu. Bahkan, saya bisa menyaksikan barisan prajurit Keraton Kasunanan Surakarta yang mengawali prosesi kirab tersebut. Di barisan selanjutnya terdapat peserta yang mengenakan pakaian ala film ternama Kera Sakti. Penonton pun ikut bersorak saat si Kera Sakti, Sun Go Kong, melompat kesana kemari dengan membawa tongkat saktinya. Sun Go Kong tak sendiri. Dia ditemani Pat Kay, Biksu Tong, Tong Sam Cheng, serta beberapa perempuan yang berdandan ala dewa-dewi asal negeri Tiongkok.

Menariknya, tak hanya kebudayaan Tionghoa saja yang tumpah ruah dalam kirab Grebeg Sudiro kali ini. Saya terkagum melihat kebudayaan Jawa yang turut dipertontonkan. Tarian, batik, bahkan pakaian lurik khas Surakarta juga ada di sela-sela pertunjukkan. Kirab ini tak hanya diikuti oleh masyarakat Kelurahan Sudiroprajan saja, tetapi juga diikuti oleh beberapa kelurahan lain di sekitarnya. Sekitar 54 kelompok peserta kirab dengan 10 kelompok dari luar Solo tampil memberikan pertunjukan yang memukau.

Kata grebeg berasal dari bahasa Jawa yang bisa berarti bergerak bersama. Istilah ini biasa digunakan dalam acara penyambutan hari-hari besar seperti Kelahiran Nabi Muhammad, Syawal, Idul Adha, dan juga Suro (kalender Jawa). Sedangkan sudiro sendiri diambil dari nama kelurahan Sudiroprajan yang menjadi kawasan permukiman penduduk Tionghoa di Solo.

Pada dasarnya, perayaan Grebeg Sudiro merupakan ritual perebutan hasil bumi dan makanan yang disusun dalam bentuk gunungan. Tradisi ini sesuai dengan filosofi jawa “ora obah ora mamah” yang artinya jika tidak berusaha, maka tidak bisa makan. Sedangkan bentuk gunungan mengandung makna bahwa sebagai manusia sudah sepantasnya bersyukur pada Sang pencipta.

Gunungan yang diarak dalam acara Grebeg Sudiro merupakan perwujudan rasa syukur terhadap dewa bumi. Berhubung sang empunya hajat adalah etnis Tionghoa, maka isi dari gunungan pun berupa penganan khas seperti kue keranjang, bakpia balong, onde-onde, bolang-baling, gembukan, bakpao, keleman (sejenis arem-arem), serta sayur mayur dan buah-buahan. Inilah akulturasi kebudayaan Jawa dan Tionghoa yang terlihat nyata. Sebuah gunungan merupakan tradisi jawa untuk sebuah perayaan besar, tetapi kue keranjang dan bakpao adalah makanan khas etnis Tionghoa.

“Bu, kae gunungane!” teriak seorang anak di barisan penonton saat melihat gunungan kue keranjang mulai mendekati tempat saya berdiri. Saya pun mulai bergeser maju supaya bisa melihat kirab gunungan dengan lebih jelas. Tak berapa lama arak-arakan gunungan kue keranjang tiba di depan Klenteng Tien Kok Sie. Warga pun langsung berhamburan menuju gunungan untuk berebut kue keranjang dan makanan lainnya.

Saya pun tak mau kalah. Setelah berdesak-desakan dengan ribuan warga, saya berhasil mendapatkan sebuah kue keranjang. Suasana di depan klenteng berubah menjadi begitu riuh, gaduh, dan penuh dengan tawa sukacita. “Makanan ini katanya membawa berkah, makanya saya berusaha mendapatkan walau hanya sebuah,” kata seorang penonton di sebelah saya.

Setelah gunungan kue keranjang diperebutkan, suasana di Pasar Gede masih dipadati pengunjung. Ternyata mereka menunggu pertanda tahun baru Imlek dimulai. Di ujung Barat jembatan dipasang sebuah gapura yang mempertegas Pasar Gede sebagai icon Pecinan Solo. Sementara di seberang pasar tampak lampion bergambar shio tahun Imlek berlangsung. Lebih kurang 1400 lampion menghiasi kawasan Pasar Gede saat Imlek.

Dari berebut kue keranjang, saya menuju Klenteng Tien Kok sembari menunggu kerlap kerlip lampion di nyalakan. Menikmati manisnya kue keranjang sembari menanti senja di kawasan ini membuat saya merasa sedang berada di negeri Tirai Bambu. Pernak-pernik Imlek yang meriah semakin mempertegas suasana.

Hari mulai gelap, petugas kebersihan kota masih sibuk merapikan panggung bekas acara Grebeg Sudiro tadi. Tak lupa mereka juga membersihkan sampah-sampah yang berserakan usai ritual berebut gunungan. Pemandangan klenteng kecil ini begitu menawan, lampion-lampion cantik bergantungan di langit-langit. Selendang dan pita merah menyala menghiasi pagar dan kedua patung di pintu masuk. Suasana klenteng makin berkilau akibat pantulan cahaya lilin dan kertas hias yang sudah dipersiapkan untuk menyambut Imlek.

Saya pun asyik berpose dan mengambil gambar di klenteng sampai matahari benar-benar mengilang. Saat langit berubah gelap, satu demi satu lampion di depan Pasar Gede mulai menyala. Tak pelak, kawasan Pasar Gede menjadi semakin meriah. Para pengunjung berbaur ke jalanan untuk mengabadikan nyala lampion pertama pada perayaan Imlek kali ini.

Bola cahaya merah memenuhi sepanjang jalan di depan Pasar Gede. Ada yang ditata memanjang, melintang maupun membujur dekat jalan. Ada pula lampion yang disusun melingkar bertumpuk di atas menara jam Pasar Gede. Beberapa lainnnya menggantung di sepanjang bangunan, berbaris melintang di atas sungai, bahkan disusun rapi bak tirai raksasa di dekat jembatan. Imlek di Solo memang selalu berkesan, dari ritual percampuran etnis Jawa dan Tionghoa sampai mengabadikan keindahan lampion di jantung kota budaya ini.

 

Grebeg Sudiro Solo
Warga membawa Gunungan berisi kue keranjang sebelum diperebutkan warga pada acara Grebeg Sudiro di kawasan Pasar Gede. Grebeg Sudiro adalah perayaan budaya yang memadukan budaya dari etnis dari masyarakat Tionghoa dan Jawa dan diakhiri dengan memperebutkan gunungan berisi kue keranjang khas Tiongkok. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Grebeg Sudiro Solo
Suasana pasca selesainya acara Grebeg Sudiro di kawasan Pasar Gede, Solo. Grebeg Sudiro adalah perayaan budaya yang memadukan etnis dari masyarakat Tionghoa dan Jawa dan diakhiri dengan memperebutkan gunungan berisi kue keranjang khas Tiongkok. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Grebeg Sudiro Solo
Warga memainkan atraksi Liong pada acara Grebeg Sudiro di kawasan Pasar Gede, Solo. Grebeg Sudiro adalah perayaan budaya yang memadukan etnis dari masyarakat Tionghoa dan Jawa dan diakhiri dengan memperebutkan gunungan berisi kue keranjang khas Tiongkok. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Grebeg Sudiro Solo
Arak-arakan pentas teatrikalw arga dalam kirab perayaan Grebeg Sudiro di kawasan Pasar Gede. Grebeg Sudiro adalah perayaan budaya yang memadukan budaya dari etnis dari masyarakat Tionghoa dan Jawa dan diakhiri dengan memperebutkan gunungan berisi kue keranjang khas Tiongkok. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Grebeg Sudiro Solo
Warga mengikuti parade dengan kostum tokoh siliman babi “Ti Pat Kay” dan Sun Go Kong dalam film Kera Sakti pada acara Grebeg Sudiro di kawasan Pasar Gede, Solo. Grebeg Sudiro adalah perayaan budaya yang memadukan etnis dari masyarakat Tionghoa dan Jawa dan diakhiri dengan memperebutkan gunungan berisi kue keranjang khas Tiongkok. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Grebeg Sudiro Solo
Warga dengan mengenakan kostum tokoh kera sakti berdoa sebelum mengikuti perayaan Grebeg Sudiro di Klenteng Tien Kok Sie, kawasan Pasar Gede, Solo. Grebeg Sudiro adalah perayaan budaya yang memadukan etnis dari masyarakat Tionghoa dan Jawa dan diakhiri dengan memperebutkan gunungan berisi kue keranjang khas Tiongkok. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Grebeg Sudiro Solo
Warga membawa Gunungan berisi kue keranjang saat kirab keliling pada acara Grebeg Sudiro di kawasan Pasar Gede, Solo. Grebeg Sudiro adalah perayaan budaya yang memadukan budaya dari etnis dari masyarakat Tionghoa dan Jawa dan diakhiri dengan memperebutkan gunungan berisi kue keranjang khas Tiongkok. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Grebeg Sudiro Solo
Warga membawa Gunungan berisi kue keranjang saat kirab keliling pada acara Grebeg Sudiro di kawasan Pasar Gede, Solo. Grebeg Sudiro adalah perayaan budaya yang memadukan budaya dari etnis dari masyarakat Tionghoa dan Jawa dan diakhiri dengan memperebutkan gunungan berisi kue keranjang khas Tiongkok. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)
Grebeg Sudiro Solo
Warga berebut lemparan kue keranjang pada acara Grebeg Sudiro di kawasan Pasar Gede, Solo. Grebeg Sudiro adalah perayaan budaya yang memadukan etnis dari masyarakat Tionghoa dan Jawa dan diakhiri dengan memperebutkan gunungan berisi kue keranjang khas Tiongkok. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Traveler’s Note

  • Grebeg Sudiro biasanya dilangsungkan satu hari sebelum Imlek. Jika kamu ingin melihat ritual ini, disarankan datang ke Solo sehari sebelum Grebeg Sudiro berlangsung.
  • Jika kamu ingin memperoleh titik terbaik saat menyaksikan Grebeg Sudiro, usahakan datang lebih awal. Para pengunjung sudah memadati lokasi arak-arakan tiga jam sebelum acara dimulai. Jika kamu datang terlambat, dipastikan tidak akan mendapatkan tempat strategis untuk menikmati sajian budaya ini.
  • Ribuan penonton akan memadati kawasan ini, sehingga kamu harus waspada dan menjaga dengan hati-hati semua barang bawaanmu.
  • Pakailan pakaian yang menyerap keringat seperti kaos. Bagi perempuan, hindari memakai high heels maupun wedges, karena kamu akan berdiri sampai acara selesai. Flat shoes dan sneakers adalah pilihan paling tepat.
  • Bawalah makanan dan minuman secukupnya. Saat menunggu kirab datang kamu akan sulit bergerak untuk membeli makanan.
  • Jika ingin mengabadikan momen Grebeg Sudiro, persiapkan alat memotretmu. Pastikan baterai terisi penuh dan kartu memori terpasang di kamera. Jika menggunakan ponsel ada baiknya kamu membawa powerbank dan tongsis.
  • Disarankan jangan pulang dulu sebelum lampion menyala, karena nyala lampion ini yang menjadi spot terbaik untuk mengambil gambar.

TINGGALKAN KOMENTAR YUK!

Please enter your comment!
Please enter your name here