Festival Gerobak Sapi, Pelangi Di Tengah Peradaban

Festival Gerobak Sapi Yogyakarta 2016
Kemeriahan ajang balap gerobak sapi atau oxcar race dalam Festival Gerobak Sapi di Yogyakarta. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Apabila di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat dan di Pulau Madura sapi kerap digunakan oleh masyarakat untuk beradu kecepatan dalam tradisi Pacu Jawi dan Karapan Sapi, orang-orang Jawa di Yogyakarta pun juga menyelenggarakan adu balap sapi serupa bertajuk ox cart race dalam Festival Gerobak Sapi. Festival Gerobak Sapi yang diselenggarakan setiap tahun ini menjadi ajang berkumpulnya para bajingan dari berbagai pelosok daerah di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Bajingan dalam hal ini bukanalah sebuah umpatan kasar, melainkan sebuah sebutan bagi pengemudi (kusir atau supir) dari gerobak sapi. Kata bajingan sendiri merupakan sebuah akronim bahasa jawa dari Bagusing Jiwo Angen-angening Pangeran atau yang berarti orang yang berhati mulia. Para pengemudi gerobak sapi disebut berhati mulia karena merekalah yang memobilisasi hasil bumi yang diangkut untuk dijual di pasar menggunakan gerobak sapi. Oleh sebab itu para kusir gerobak pada zaman dahulu lazim disebut bajingan.

Kali ini bertempat di Stadion Sultan Agung Bantul, ratusan bajingan dari berbagai penjuru daerah berkumpul dalam sebuah festival budaya bertajuk Festival Gerobak Sapi. Riuh ramai masyarakat dan para bajingan membaur menjadi satu dalam gelaran festival budaya ini. Festival setahun sekali ini menyuguhkan ratusan gerobak sapi sebagai kendaraan tradisional khas masyakarakat Jawa sebagai sajian utamanya. Festival Gerobak Sapi ini menghadirkan ratusan macam kreasi gerobak sapi, mulai dari gerobak sapi hias hingga gerobak sapi khusus untuk beradu kecepatan di lintasan lurus.

Festival Gerobak Sapi Yogyakarta 2016
Iring-iringan karnaval gerobak saat melewati areal persawahan dalam pembukaan Festival Gerobak Sapi di Yogyakarta. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Riuh suasana penyelenggaraan Festival Gerobak Sapi ini sepintas memunculkan kembali secuil kenangan kisah masa kanak-kanakku bersama mendiang kakek di desa. Saat berada di tengah-tengah riuh suasana festival, ingatanku melayang kembali ke masa lalu ketika desa kakek masih terbentang luas sawah-sawah nan kuning pada musim panen padi tiba.

Di saat itu pula banyak terlihat lalu lalang para bajingan – sebutan untuk supir atau kusir gerobak sapi – yang mengangkut hasil panen padi dari sawah menggunakan gerobak yang ditarik dengan tenaga dua ekor sapi. Di saat gerobak sapi itu melintas di dekat rumah kakek, selalu terdengar bunyi klontong kalung sapi yang khas. Bunyi klontong sapi itu selalu menarik perhatian saya dan teman-teman sebaya saat itu.

Festival Gerobak Sapi Yogyakarta 2016
Tak hanya orang tua atau dewasa saja, anak-anak pun ikut serta berpartisipasi dalam Festival Gerobak Sapi di Yogyakarta. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Setiap kali suara klontong itu terdengar, aku pun langsung bergegas keluar dari rumah untuk melihatnya dari dekat dan menyapanya dengan lambaian tangan dan senyum ceria bersama kakek. Acapkali aku pun merengek pada kakek untuk minta naik gerobak sapi itu, dan kakek pun tak pernah menolak pintaku walau hanya sekali. Bagiku, menumpang diatas gerobak sapi mengelilingi sawah-sawah pedesaan kala itu merupakan sebuah kenangan yang ingin kuulang kembali bersama mendiang kakek tercinta.

Secuil kisah masa kecil bersama mendiang kakek dan gerobak sapi itu seakan hadir kembali ketika berada di tengah-tengah penyelenggaraan Festival Gerobak Sapi 2016 yang digelar akhir bulan September lalu. Nuansanya nyaris sama seperti berada di rumah kakek dahulu, berjumpa dengan gerobak sapi di pagi hari. Bedanya, gerobak-gerobak sapi yang ada kali ini hampir semuanya bersolek. Sepanjang mata memandang, ratusan gerobak sapi tersebut terlihat cantik dan rapi oleh beragam hiasan dan warna-warni cat yang melekat di dinding gerobaknya. Kondisinya pun cukup bersih, tak sekotor seperti gerobak sapi pengangkut hasil panen yang kutumpangi ketika masih kecil dulu.

Riwayat Gerobak Sapi Pada Masa Lalu

Festival Gerobak Sapi Yogyakarta 2016
Salah seorang bajingan atau supir gerobak di tengah-tengah jajaran gerobak sapi dalam Festival Gerobak Sapi di Yogyakarta. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Semarak suasana Festival Gerobak Sapi di Yogyakarta yang terekam oleh kedua bola mata waktu itu seketika langsung menghapus anggapanku tentang keberadaan dan eksistensi gerobak sapi sebagai kendaraan tradisional yang telah punah ditelan berlalunya jaman. Dahulu, gerobak sapi merupakan moda transportasi atau kendaraan pengangkut hasil bumi yang sangat populer di kalangan masyarakat Jawa. Gerobak sapi di masa pemerintahan orde lama yang dipimpin oleh Presiden Soekarno pun tergolong sebagai kendaraan yang mewah dan eksklusif. Pemilik gerobak sapi pada masa itu dipandang sebagai golongan dengan status ekonomi yang tinggi

Persepsi masyarakat pribumi pada waktu itu tergolong cukup wajar. Hal tersebut disebabkan oleh harga gerobak dan sapi penariknya yang tergolong cukup mahal, bahkan hingga saat ini mencapai puluhan juta rupiah untuk satu gerobaknya saja. Maka tak heran bila sang pemilik gerobak sapi pada masa itu biasanya adalah orang yang memiliki lahan persawahan yang amat luas di pedesaan. Para juragan sawah tersebut memanfaatkan gerobak sapi itu mengangkut hasil panen dari sawah ke rumah maupun ke pasar untuk di jual.

Festival Gerobak Sapi Yogyakarta 2016
Tak hanya orang tua atau dewasa saja, anak-anak pun ikut serta berpartisipasi dalam Festival Gerobak Sapi di Yogyakarta. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Selain memiliki nilai fungsi sebagai moda transportasi tradisional, ternyata gerobak sapi juga mempunyai sejarah perjuangan. Saat itu di masa perang memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia atas penjajah Belanda, gerobak sapi banyak digunakan sebagai tumpangan persembunyian para tentara gerilya tanah air ataupun untuk menyelundupkan senjata dan bahan makanan. Karena bentuknya yang besar dan cenderung tertutup, gerobak sapi dianggap cukup aman serta tidak mencurigakan di mata para penjajah Belanda. Menyadari hal tersebut, maka para tentara gerilya tanah airpun memanfaatkan gerobak sapi sebagai sarana kamuflase untuk mengindari tentara Belanda.

Dalam menjalankan fungsi perjuangan itu, para bajingan yang sekali lagi adalah sebutan untuk seorang kusir atau supir gerobak sapi berperan sangat penting dalam menjalankan misi senyap tersebut. Para bajingaan yang rela ditumpangi tentara gerilya kala itu harus mempertaruhkan nyawa mereka saat melewati pos penjagaan penjajah untuk menjalani pemeriksaan. Alhasil, banyak tentara gerilya tanah air lolos melewati pos yang dijaga penjajah Belanda dengan berkamuflase menggunakan gerobak sapi ini. Sedikit banyak, gerobak sapi dan para bajingannya telah berjasa menghantarkan bangsa kita menuju kemerdekaan.

Gerobak Sapi Pada Masa Sekarang

Festival Gerobak Sapi Yogyakarta 2016
Ratusan gerobak sapi dari berbagai daerah mengikuti Festival Gerobak Sapi di Yogyakarta. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Saat asyik memandangi dan mengabadikan ratusan gerobak sapi yang berjajar dalam Festival Gerobak Sapi 2016 lalu, saya pun menyempatkan diri untuk berbincang dengan beberapa bajingers – sapaan bagi para bajingan atau supir gerobak sapi – yang ikut menjadi peserta dalam festival tersebut. Ketika saya bertanya mengenai alasan mereka memiliki gerobak sapi ini, kebanyakan dari mereka mengaku turut melestarikan kebudayaan melalui kendaraan tradisional dan sebagai sarana untuk klangenan.

Klangenan bagi Teguh, salah seorang bajingers, adalah salah satu wujud penghormatan bagi jasa ayahnya dahulu yang tak kenal lelah mencari nafkah bagi keluarga dengan menjual hasil bumi menggunakan gerobak sapi. Seraya matanya sedikit berkaca-kaca, pria yang tinggal di Sleman itu menceritakan tentang kisah heroik ayahnya yang rela menempuh perjalanan berhari-hari dari Yogyakarta ke pasar Temanggung di Jawa Tengah untuk menjual hasil bumi menggunakan gerobak sapi.

Festival Gerobak Sapi Yogyakarta 2016
Suasana Stadion Sultan Agung Bantul yang dipadati ratusan gerobak sapi dari berbagai daerah dalam Festival Gerobak Sapi di Yogyakarta. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Teguh mengatakan ayahnya rela melewati panas matahari dan hujan serta ancaman perampok di tengah perjalanan untuk menjual hasil bumi demi mencukupi kebutuhan kelaurga. Untuk itu Teguh memiliki dan merawat betul gerobak sapi miliknya sebagai klangenan dan bentuk penghormatan untuk mengenang perjuangan ayahnya menghidupi keluarga.

Secara keseluruhan, acara Festival Gerobak Sapi 2016 ini selain menjadi ajang untuk klangenan juga menjadi sarana promosi wisata. Melalui Festival Gerobak Sapi ini, para pemilik gerobak sapi mendapat kesempatan untuk memperkenalkan kepada khalayak akan keberadaan gerobak sapi sebagai kendaraan tradisional sekaligus sebgai angkutan wisata bersanding dengan becak dan andong.

Seusai penyelenggaraanya yang untuk pertama kali diadakan pada tahun 2013 lalu, Festival Gerobak Sapi telah memberikan dampak positif terhadap keberadaan moda transportasi tradisional ini. Minat masyarakat untuk memiliki gerobak sapi pun mulai melonjak naik. Hal tersebut dapat dilihat dari semakin banyak bermunculan komunitas ataupun paguyuban gerobak sapi di empat Kabupaten di Yogyakarta dan di sekitaran kawasan Magelang, Klaten dan Boyolali.

Festival Gerobak Sapi Yogyakarta 2016
Kemeriahan ajang balap gerobak sapi atau oxcar race dalam Festival Gerobak Sapi di Yogyakarta. (Reza Fitriyanto/Maioloo.com)

Pesertanya dari tahun ke tahun pun semakin bertambah banyak. Yang lebih mengejutkan lagi adalah harga gerobak yang kian tahun kian melejit seiring dengan semakin tingginya permintaaan. Diperkirakan saat ini harga gerobaknya saja mencapai empat puluh juta rupiah.

Sejenak kepala ini termangu-mangu. Lantas dahiku pun mulai mengernyit sembari berkata dalam batin: “apakah aku juga perlu memiliki gerobak sapi sebagai klangenan untuk mengenang masa kecil di desa bersama mendiang kakek” ujarku dalam hati.

1 KOMENTAR

  1. Ternyata ada ya gerobak sapi, baru tahu saya. Wah … dan itu terletak di Yogyakarta pula. Ini merupakan kearifan loka yang harus dilestarikan. Kan sayang nanti kalau anak cucuk kita tidak mengetahui gerobak sapi. Nanti takut saya ketika saya punya anak nanti dan saya bercerita tentang gerobak sapi, nah anak saya bilang, “Bapak mendongeng ya?” wah … nggak banget. Harus dilestarikan ini.

TINGGALKAN KOMENTAR YUK!

Please enter your comment!
Please enter your name here